Kain Bakal Daster

Memang hingga saat ini setahu saya, walau masih ada  yang kurang setuju karena dianggap hanya umum di beberapa daerah saja di Indonesia, kebaya (dan bukan daster) adalah busana nasional Perempuan Indonesia.

Menurut saya, mungkin benar kebaya adalah busana nasional, apabila busana nasional itu dimaknai sebagai simbol yang menunjukkan ciri khas suatu negara. Pemaknaan seperti ini mungkin ini tidak akan jadi masalah untuk negara-negara yang secara kultural relatif homogen, seperti misalnya Korea Selatan dengan Hanbok-nya atau Jepang dengan Kimono-nya.

Tapi untuk negara-negara yang secara kultural sangat heterogen, hal ini mungkin akan sedikit jadi masalah, karena bisa jadi busana yang kebanyakan digunakan oleh mayoritas penduduk, belum tentu digunakan atau setidaknya menyimbolkan kultur penduduk lain yang bukan mayoritas.

Selain itu, saya sendiri sangat meyakini bahwa yang dimaksud busana nasional sebuah bangsa itu adalah busana yang dikenakan dalam hampir setiap aktivitas harian warga yang bersangkutan. Bukan busana yang hanya dikenakan saat ada kegiatan-kegiatan formal, atau upacara-upacara penting saja. Bukankah warga tersebut -lengkap dengan busana yang dikenakannya-,  jadi bagian kultural sebuah bangsa tersebut setiap hari, bukan hanya pada saat-saat tertentu saja, to?

Oleh karena itu kawan-kawan…

Tidak terlalu berlebihan to, jika saya lebih menganggap daster adalah sebenar-benarnya busana nasional Perempuan Indonesia, melampaui kebaya dan segala macam pernak-perniknya itu.

Bayangkan, dari Sabang sampai Merauke, cuma berapa persen sih perempuan yang tidak pernah mengenakan daster dalam kesehariannya dalam setidaknya setahun terakhir? Apalagi jika dibandingkan dengan berapa kali mereka mengenakan kebaya, dalam kurun waktu sama.

Lebih kerennya lagi, daster ini bisa kita anggap bebas dari muatan politis, setiap perempuan di Indonesia dapat menggunakannya tanpa menonjolkan dari latar belakang suku dan daerah mana di Indonesia perempuan tersebut berasal.

Belum lagi banyak kaum perempuan yang saya kenal mengakui kepraktisan dan kenyamanan daster saat dikenakan dalam hampir tiap aktivitas harian mereka.

Sangat jarang sekali saya mendengar kawan-kawan perempuan mengeluh tidak nyaman jika mengenakan daster. Tidak ada yang mengeluh kepalanya terasa berat, langkah kaki jadi harus pendek-pendek, harus diet dan memperhatikan berat tubuh sebelum mengenakan daster, atau perut yang kudu dikempiskan saat memakainya. 😀

Jikapun ada keluhan, biasanya karena daster tua kesayangan para perempuan yang sering selama bertahun-tahun lalu, telah dimusnahkan secara sepihak oleh Ibu mereka.

Biasanya dengan alasan penampakan daster itu sudah tidak karuan lagi, namun si anak tetap tidak mau berpisah dengan daster ini, maka tindakan tegas dan keras harus segera dilakukan Sang Ibu.

Sejauh cerita yang saya dengar, bentuk pemusnahan ini beragam bentuknya, mulai dari disembunyikan lalu kemudian dibuang saat si anak dirasa sudah melupakan daster itu, langsung dijadikan kain pel saat si anak sedang tak ada di rumah, atau ada yang langsung dibakar.

Ada juga sih keluhan dari beberapa Ibu Rumah Tangga yang kerap “ditabrak” suaminya saat mereka sedang mengenakan daster di rumah, terutama setelah mandi dan keramas. Tapi mungkin khusus untuk ini, kita bahas di lain waktu saja 😀

Singkatnya, saya sangat percaya daster yang sederhana juga layak dianggap sebagai busana nasional Perempuan Indonesia mendampingi kebaya yang glamour, karena dipakai hampir seluruh perempuan di Indonesia hampir tiap hari dan para Perempuan Indonesia tersebut merasa nyaman saat mengenakannya. Setuju atau tidak? 🙂

Selamat Hari Kartini…