tangga01

Tangga Tantangan

Masahiro Sawamura, seorang tokoh dari manga yang berjudul Harlem Beat, pernah berkata kurang lebih seperti ini:

Walau diberi kecap-pun, gengsi tetap tidak bisa dimakan.

Kalimat ini mendadak terngiang di kepala saat kapal motor merapat di semacam dermaga kecil desa Tumbang Tohan.

Masalah bukan terletak di dermaganya tapi pada jalan yang menuju rumah terdekat dari dermaga ini.

Sebenarnya tidak bisa sepenuhnya dibilang “jalan” sih, karena bentuknya yang berupa tangga sederhana dari kayu ulin dengan kemiringan lebih dari 45 derajat setinggi kurang lebih 100 meter, menempel pada tebing dekat dermaga itu.

Gengsi alias harga diri tidak akan jadi permasalahan jika penduduk setempat melewati tangga tantangan tersebut seperti layaknya orang yang memanjat tangga kayu atau bambu.

Tapi mereka karena telah terbiasa, melewati tangga tersebut dengan cara berjalan kaki tegak seperti biasa dengan tubuh sedikit dicondongkan ke depan, tanpa harus merangkak agar tangan mereka dapat memegang tangga tersebut supaya resiko jatuh jadi lebih kecil.

Jadi, jika ada yang melewati tangga tersebut dengan merangkak dan berpegangan, sangat bisa dipastikan orang tersebut bukan “anak kampung sini”, dan yang lebih parah dan memalukan lagi, dicap cemen.

Tapi semua kekhawatiran itu sebenarnya tidak datang dari penduduk setempat yang ternyata sangat memaklumi betapa para pendatang ini belum terbiasa melewati jalan seperti itu.

Semuanya datang dari rasa gengsi yang tetap tidak bisa dimakan walau telah diberi kecap sekalipun itu. Jadi, demi keselamatan dan keamanan, mari kita lupakan gengsi dan mulailah memanjat 🙂