yogyakarta pilpres h-1

Yogyakarta, Pilpres H-1

Besok hari pencoblosan. Walau secara resmi sudah tidak boleh kampanye. Tapi dari berbagai penjuru tetap saja ajakan untuk memilih capres yang ini, karena yang sana bosok. Adapula yang menyarankan untuk memilih capres yang sana, karena yang sini nglokro. Jujur saja, sebenarnya saya tidak perduli siapa nanti presidennya, bagaimana sifat-sifatnya, dan seperti apa latar belakangnya.

Tapi bukan berarti terus saya golput lho ya. Saya besok insya Allah tetap akan memberikan suara saya di TPS yang telah ditentukan di undangan pemilih saya.

Saya tidak perduli siapa presidennya nanti sebab saya tidak ingin pengalaman saya beberapa tahun lalu terulang lagi.

Dulu, saat masa pemilihan pemimpin yang mirip seperti sekarang ini, ada beberapa orang yang mengajukan diri sebagai kandidat.

Semua berusaha mendapatkan dukungan dari kami yang akan mereka pimpin dengan berbagai macam janji dan memamerkan kelebihan mereka masing-masing.

Akhirnya, karena kebetulan waktu itu banyak anggota terdiri dari kaum hawa, maka tak heran pemimpin yang saat kampanye menawarkan ketampanannya menang. Mengalahkan lawan-lawannya yang salah satunya adalah pemimpin periode sebelumnya.

Tapi apa yang terjadi, di tengah masa kepemimpinannya, para pemilih yang dulu memberikan suaranya ke pemimpin ini karena ketampanannya sedikit kecewa.

Penyebabnya adalah, ternyata semenjak menjabat, pemimpin baru ini dihadapkan berbagai permasalahan yang datang bertubi-tubi, sehingga mengurangi jam beristirahat dan bahkan mengganggu jam biologisnya.

Walhasil, pemimpin yang dulu dipilih karena ketampanan dan kegagahannya, sekarang tampak agak kelebihan berat badan, wajah yang layu, dan yang paling disesalkan para kaum hawa adalah makin jelas terlihatnya kantung mata pemimpin tersebut.

Namun, nampaknya karena si pemimpin ini di masa mudanya adalah KAMRA yang disegani di lingkungan setempat, maka periode kepemimpinan berikutnya, ia kembali terpilih.

Harapan para pemilih, yang kali ini tidak hanya didominasi kaum hawa, adalah pemimpin yang baik adalah yang memiliki ketegasan dan kesamaptaan prima. Modal sebagai KAMRA di masa muda sang pemimpin ini, dianggap calon pemilih lebih dari cukup untuk kembali memilihnya sebagai pemimpin di periode kedua ini, tanpa perduli bahwa saat ini ia sudah tak setampan saat pertama kali mencalonkan diri dulu.

Malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih. Ternyata modal pernah jadi KAMRA tidak cukup menumbuhkan sifat ketegasan dan kesamaptaan pada pemimpin yang terpilih kembali ini.

Alih-alih menyebarkan semangat ketegasan dan kesamaptaan agar kami yang dipimpin dapat berkarya lebih baik dan bergairah lagi, si pemimpin tersebut malah makin sering kesiangan berangkat kantor, atau sering pulang cepat jauh sebelum selesai jam kerja.

Selidik punya selidik, ternyata Pak Pemimpin ini sedang keranjingan karaoke. Jadi kalau pulang cepat, biasanya karena sudah janjian sama kawan-kawannya berkaraoke bersama entah di mana. Sementara kalau berangkatnya kesiangan, karena Pak Pemimpin sering lupa waktu jika sedang berkaraoke sendiri di rumahnya yang memang dilengkapi perangkat audio yang suaranya memang cek dung cek dung.

Β ***

Bisa kebayang kan gimana kagol-nya saya pernah milih pemimpin, hanya karena melihat sosok calon pemimpin itu sendiri bahkan udah sampai nguprek-uprek masa lalu calon pemimpin itu. Tapi ya tetep aja keblondrok.

Alasan itu yang membuat saya sejak awal sama sekali tidak perduli siapa-siapa saja kandidat yang akan bertarung. Karena tidak ada jaminan mereka tidak akan mengecewakan saya.

Tapi sekali lagi, saya tidak akan golput kali ini.

Saya tetap akan mencoblos salah satu dari capres yang ada, tapi sama sekali alasannya bukan karena individu capres yang bersangkutan.

Alasan yang saya memilih salah satu dari mereka benar-benar karena mana capres yang berpotensi memenuhi kepentingan-kepentingan praktis yang saya miliki. Yaitu:

1. Koneksi Internet yang lancar, cepat, dan tidak diblok.

Karena ini yang muncul pertama di kepala, maka bukan berarti point-point lain setelah ini kalah penting. Ini murni reflek kok πŸ˜€

Dari sisi apapun, Internet sangat penting di masa kini. Jadi mutlak kelancaran dan kecepatannya adalah hal yang tidak bisa ditawar-tawar.

Apalagi ternyata dengan negara-negara tetangga terdekat, kualitas kecepatan Internet kita bukan suatu hal yang bisa dibanggakan.

Internet bagaikan jalan yang menghubungkan satu tempat dengan tempat-tempat lainnya, sehingga memudahkan manusia mengunjungi tempat-tempat itu dan belajar banyak dari apa yang ditemui di sana.

Sama seperti jalan raya di dunia nyata, tentu saja ada sisi positif dan negatifnya. Jalan di depan rumah kita pada bisa menghubungkan kita ke sekolah, tempat kerja, tempat ibadah, lapangan olahraga, rumah makan enak, pasar, dan sejenisnya yang bagus-bagus.

Tapi pada saat yang sama juga menghubungkan kita ke daerah sarkem, gang buntu, pijet sing malah marakke lemes, salon sing ra patio nyalon, dan tempat-tempat sejenis itu, yang saya bisa ngerti hanya karena diberitahu oleh kawan-kawan saya.

Sehingga memblok jalan ke lokasi-lokasi tersebut sesungguhnya sia-sia, karena selain tempat-tempat tersebut sangat bisa berpindah-pindah, warga biasa baik-baik yang tinggal di sekitar daerah itu akan kesulitan berpergian karena jalan di depan rumah mereka keblok sebab tetangga mereka punya usaha kemproh. Kasihan kan?

Karena selain tidak efektif dan berpeluang salah sasaran, ngeblok itu tidak sama dengan membubarkan/menutup sebuah situs.

Jadi saya akan mengatakan BIG NO NO untuk capres yang potensial melanjutkan kebijakan blok-blok-an ini dan tidak segera memperbaiki kualitas Internet kita.

Btw, kalo ada yang ngotot nge-blok Internet itu perlu agar bangsa ini lebih maju, silahkan bandingkan Korsel dan Korut aja deh ya.

 

2.Β Layanan Kesehatan yang Memadai dan Terjangkau Seluruh Masyarakat

Saya tahu dan mengalami membayar proses persalinan istri saya dengan metode cesar dan itu tidak murah, sodara…

Saat itu saya sempet mikir,”Jika saya yang punya pekerjaan jelas dan ada tabungan aja lumayan “krasa” saat membayar seluruh biaya tersebut. Bagaimana dengan mereka yang hidupnya pas-pas-an? Mereka yang pekerjaannya benar-benar ngepas dengan kebutuhan hariannya?

Bukankah mereka juga punya hak untuk mengakses layanan kesehatan yang layak? Kan mereka juga punya pasangan hidup, mereka juga bakal ML, sang istri bakal hamil, dan akhirnya melahirkan. Gimana nasib mereka jika terpaksa sang istri harus melahirkan dengan metode cesar? Siapa yang bisa menolong?

 

3. Layanan Pendidikan yang Memadai, Terjangkau Seluruh Masyarakat, dan Masuk Akal

Silakan bilang saya kampungan. Tapi mengajari anak-anak Indonesia berbahasa Inggris jauh sebelum mereka duduk di bangku SMP itu menurut saya tidak pada tempatnya.

Ada SD yang hanya menerima murid baru kelas 1 dengan syarat sudah bisa membaca, menulis, dan berhitung. Ini juga menggelikan menurut saya.

Tak ketinggalan biaya pendidikan yang kian hari terasa kian mencekik leher, juga hal yang jadi pertimbangan saya untuk melihat capres mana yang potensial memenuhi ini.

4. Penyelenggaraan Ibadah Haji lebih transparan terutama dari sisi biaya.

Singkat saja, kalau benar-benar ngaku alim dan beragama, tak akan tega seseorang mengambil keuntungan komersial dari orang lain yang akan beribadah.

Apalagi jika itu dilakukan oleh seorang yang diberi kepercayaan pemerintah untuk mengurus hal-hal seperti itu. Berarti kan sudah digaji oleh pemerintah? Apa alasannya masih tega mengambil keuntungan secara tak sah lagi dari orang-orang yang berniat tulus dan suci beribadah?

Maaf, saya tak akan memilih capres yang punya potensi seperti ini. Sekencang apapun urat leher mereka keluar saat meyakinkan saya bahwa mereka memperjuangkan umat Islam. Maaf, kalian sudah pernah melakukan hal itu, dan saya tidak mau mengambil resiko tercebur lubang yang sama. Kasian orang tua dan simbah-simbah saya yang thuyuk-thuyuk munggah haji di Arab sana, masih aja dibebani dana yang tak perlu hanya untuk dikorup pihak lain.

5. Ingin setiap orang beribadah sesuai keyakinan mereka dengan aman dan tenang

Selama ibadah yang dilakukan bukan berupa persembahan nyawa gadis muda perawan cantik kepada dewa seperti yang dilakukan orang-orang jaman dahulu kala sekali, saya pikir setiap umat beragama di Indonesia berhak menjalankan ibadahnya dengan aman dan tenang. Tanpa memandang apa agama mereka.

6. Kalau kali ini saya salah pilih, saya masih punya kesempatan memilih lagi minimal 5 tahun dan maksimal 10 tahun mendatang

Saya mungkin akan keblondrok lagi kali dalam pilpres besok ini. Untuk itu, saya akan memilih capres yang punya potensi tetap memberikan kesempatan dan ruang untuk pemilihan presiden langsung secara fair terus berlangsung.

Bukan yang punya pikiran untuk menghapuskan pemilihan presiden secara langsung dengan berbagai alasan. Saya sudah kenyang bertahun-tahun ada di bawah Presiden yang berkali-kali terpilih terus hanya karena pemilihan presidennya tidak langsung dan orang-orang di Legislatif dan Yudikatif manut semua sama dia.

Jadi sungguh saya tak perduli siapa capresnya secara personal, tapi saya sangat perhatian dan perduli dengan capres mana yang berpotensi memenuhi beberapa keinginan praktis di atas tadi.

Dan saya sudah tahu capres yang mana itu. Gimana dengan kalian, kawan-kawan? πŸ™‚