Joey Naylor: …but you didn’t prove that vanilla was the best…
Nick Naylor: I didn’t have to. I proved that you’re wrong, and if you’re wrong I’m right.
Joey Naylor: But you still didn’t convince me
Nick Naylor: It’s that I’m not after you. I’m after them. [points into the crowd]

Sebenarnya saya tak yakin kalian sempat membaca blog ini karena sekarang pasti sedang sibuk bekerja untuk capres kalian itu.

Tapi tak apa, saya tetap menulis posting di blog ini, sapa tahu ada orang-orang tertentu dari tim kalian yang rada sela beberapa saat setelah mengarang puisi, secara tak sengaja terantuk link ini. Siapa tahu…

Oh iya, saya menulis ini bukan karena saya mendukung capres yang kalian usung. Sama sekali bukan.

Tapi saya juga bukan bagian pendukung capres yang satunya itu juga kok. Jadi buang jauh-jauh anggapan bahwa saya adalah bagian dari pasukan nasi bungkus atau nasi apalah itu. Lagian, saya sedang berusaha diet carbo kok, jadi kudu banyak ngurangin nasi.

Saat awal partai kalian berdiri, saya agak sedikit bersimpati. Sebab waktu itu, belum ada satu partai di Indonesia yang benar-benar paham bahwa Indonesia adalah negara agraris, oleh karenanya maka sektor pertanian dan perikanan yang harus diberi perhatian khusus.

Namun makin mendekati hari pencoblosan, saya makin tidak berminat mencoblos partai kalian. Oh bukan tentang pelanggaran HAM, walau itu jadi salah satu bahan tambahan pertimbangan saya, tapi ada hal lain yang sangat besar pengaruhnya mendorong saya untuk tidak mencoblos partai kalian.

Salah satu alasan yang menjadi alasan utama tidak mencoblos partai kalian adalah, menurut saya kampanye partai kalian di kanal-kanal media sosial itu norak tidak keren.

Ayolah, kalian menawarkan partai untuk dipilih saat pemilu, bukan menganjurkan untuk mengirimkan sms ke nomer tertentu untuk mendukung Si A atau Si B menjadi pemenang pemilihan Abang dan None Jakarta.

Menurut saya, kampanye dengan pendekatan “calon Anda ini tampan dan waktu mudanya gagah, buktinya ini ada fotonya, makanya pilih dong ah..” tidak bakal efektif, dan kalian harusnya sudah tahu itu.

Saya berpikiran demikian karena para pengakses kanal media sosial yang mengenyam pendidikan formal lebih dari cukup, akan tidak mudah tergoda oleh kampanye seperti itu. Sebab, tidak ada orang cerdas yang mempercayakan begitu saja negaranya di tangan orang lain hanya dengan pertimbangan ketampanan atau kecantikannya.

Sementara itu, bagi pengakses kanal media sosial yang pendidikan formalnya masih belum tinggi, dan berusia muda (anak alay, cabe-cabean, dan terong-terongan masuk di kategori ini), calon kalian itu “nggak keren-keren bangeeeett…” (coba dibaca dengan nada dan gaya anak alay yang sering ada di TV itu, niscaya kalian langsung paham maksud saya).

Karena preferensi kegantengan mereka kurang lebih seperti Eza Gionino, Christ Laurent, Afghan, Ariel, atau Rafi Ahmad.

“Tapi buktinya, partai kami masuk 3 besar..” mungkin gitu kalian berdalih.

Memang benar, tapi rakyat memilih karena melihat caleg-caleg dan kader-kader partai kalian sekarang relatif lebih “bener” ketimbang caleg dan kader partai lain. Bukan karena capres yang kalian usung tampan.

OK, mungkin kalian tidak akan sepakat untuk hal ini, tidak apa. Tiap orang punya pendapat sendiri kan? Lagian pemilu caleg sudah berlalu, tak ada gunanya diributkan.

Sekarang tentang pemilu capres yang tinggal menghitung hari lagi pelaksanaanya. Capres sebelah tadi siang sudah mengumumkan siapa cawapresnya. Capres kalian gimana? Kapan diumumkan? Semoga tidak salah pilih, seperti rakyat yang salah pilih partai pada pemilu kemarin, karena ternyata akhirnya berkoalisi dengan partai yang tidak mereka sukai dan tidak bakal dipilih ya.

Beberapa bulan terakhir ini, di media massa maupun di sosial media nampaknya kok kalian –entah ini bisa disebut kampanye atau tidak– gencar menyerang capres sebelah ya?

Mungkin karena capres kalian mantan prajurit dan memandang pemilu adalah sebuah perang dalam bentuk lain, maka secara naluriah tindakan-tindakan yang diambil serupa dengan yang dilakukan di medan perang sungguhan. Menyerang, tunjukkan siapa yang paling kuat, tunjukkan siapa yang paling agresif, hancurkan. Benar begitu?

Salah!

Maaf, tidak sepenuhnya salah sih, dalam beberapa hal mungkin sama seperti perang betulan. Dalam pemilu capres ini, kalian juga harus mengukur kekuatan sendiri, memperkirakan kekuatan lawan, mempertimbangkan posisi pasukan kita, dan melihat posisi pasukan musuh. Mirip seperti sebuah persiapan perang sebelum terjun ke medan pertempuran kan?

Mungkin saya yang kurang pandai, tapi saya tidak melihat jelas kalian melakukan hal-hal itu. Terus terang saja, kalian seolah tidak sadar -jika dianalogikan perang-, saat ini posisi kalian sangat tidak menguntungkan untuk bisa memenangkan pertempuran.

Terlepas terbukti atau tidak, hingga sekarang capres kalian masih dikaitkan dengan pelanggaran HAM, dan calon pemilih akan berpikir untuk memilih capres kalian karena hal ini, tanpa perduli apakah capres kalian itu bersalah atau tidak. Kebanyakan mereka tak akan berpikir sejauh itu untuk memilih atau tidak memilih capres kalian.

Kalian seperti biasa akan menyangkal kalau capres yang kalian usung tak ada sangkut pautnya dengan itu, tapi itu belum cukup. Kalian mungkin akan menambahkan bahwa beberapa yang pernah diculik, sekarang malah mendukung capres kalian, itu bukti kalau dia bersih – tak bersalah. Frankly my dear, they beberapa calon pemilih don’t give a damn.

Para pemilih, atau setidaknya saya, saat di bilik suara akan pikir-pikir, kalau memilih capres kalian jangan-jangan anak-anak mereka yang mahasiswa bakal kenapa-kenapa kalau vokal dan kritis. Jangan-jangan tokonya akan dijarah lagi kalau nanti ada apa-apa lagi. Jangan-jangan vimeo diblok lagi. Dan masih banyak “jangan-jangan” yang lainnya yang tak akan mudah dihapuskan hanya karena menurut kalian, capres kalian bersih tidak tersangkut apapun yang berkaitan dengan pelanggaran HAM.

Ketakutan-ketakutan seperti ini, juga tak bisa dihilangkan hanya dengan berbicara di mana-mana dan berdiskusi tarik urat leher di televisi, bahwa capres kalian tidak terlibat. Jangankan kejadian beberapa belas tahun lalu, kejadian tahun ’65 saja, masih menghantui beberapa anggota masyarakat hingga kini kok.

Singkatnya, kalau di film, saat ini capres kalian dipandang beberapa calon pemilih sebagai tokoh antagonis. Kalian berani ngomong gini ke capres kalian? Kenyataan memang pedih, tapi kalau bener mau “berperang” dalam pemilu ini, evaluasi kekuatan dan kelemahan capres yang kalian usung sangat penting lho.

Mungkin, berbeda dengan anggapan saya, kalian sudah menyadari kondisi ini. Lalu tindakan yang kalian lakukan adalah menyerang capres sebelah sedemikian rupa dengan berbagai cara.

Semoga dari tindakan ini kalian tidak berpikir, ”OK capres saya punya beberapa hal yang mengganjal untuk bisa dipilih, tapi kalau saya menyerang capres sebelah, menjelek-jelekkan di muka publik, maka capres sebelah itu akan nampak  sangat buruk akibat serangan-serangan saya, dan efeknya capres saya jadi nampak lebih baik.”

Mari kembali menggunakan analogi film, hiburan yang hampir semua rakyat pernah menonton dan bisa mengikuti logikanya, dan dalam banyak kesempatan mereka menerapkannya dalam kenyataan.

Di sebuah film, sehebat-hebatnya dan sedahsyat-dahsyat-nya tokoh antagonis menyerang tokoh protagonis, penonton tetap membela dan cinta pada tokoh protagonis, bersamaan dengan tumbuhnya rasa benci pada tokoh antagonis. Harusnya kalian sudah paham ini kan?

Kemudian di TV, kalian tampak garang dan dahsyat membantah keterlibatan capres kalian dengan membeberkan berbagai macam bukti, sehingga lawan debat kalian di atas panggung terdiam tak banyak berkata. Kalian seolah merasa puas karena dapat membuktikan kebenaran fakta tentang capres kalian pada lawan debat kalian.

Tapi apakah para ribuan calon pemilih yang menonton acara itu juga akan percaya begitu saja? Bagaimana dengan ratusan ribu lainnya yang tak peduli acara itu dan lebih memilih nonton acara yang banyak jogetnya di kanal TV lain?

Di titik ini logika perang, yang langsung menyerang lawan hingga tak berdaya, sayangnya tak bisa diterapkan.

Setiap perdebatan yang dilakukan di sini tujuannya bukan untuk mengalahkan lawan kalian, bukan untuk membuat dia terdiam, gentar, dan takut karena kalian menggunakan suara tinggi dan tatapan tajam. Sama sekali bukan, dan sampai hari ini nampaknya kalian belum sadar itu.

Agak sukar bagi saya menjelaskan hal ini pada kalian, tapi untuk mudahnya, coba deh tonton film Thank You for Smoking (2005), dan perhatikan baik-baik saat si Ayah mengajarkan anaknya cara berdebat dengan mempertentangkan es krim cokelat dan es krim vanilla.

Singkatnya, dalam berdebat apalagi di depan publik, tujuan utama bukan mengalahkan lawan kita, tapi meyakinkan publik yang menonton. Publik di sini adalah mereka yang bukan pendukung kalian.

Lha kalo cuma ngejar pendukung kalian sendiri, buat apa susah-susah kampanye dan debat? Kalian mau menang pemilu capres kan, bukan sekedar pengen dielu-elukan orang-orang yang note bene pendukung kalian sendiri?

Sebenarnya dulu, langkah mendekati petani dan nelayan bisa dibilang cukup tepat, karena selain kita aslinya adalah negara agraris, isu kedaulatan pangan mulai mencuat ke permukaan. Apalagi jika kemudian langsung terlibat advokasi terhadap isu-isu pertanian, perikanan, dan peternakan.

Kemudian kritis dan vokal menolak import komoditi pertanian dan melawan keras import sapi serta persekongkolan yang meliputinya. Capres kalian, berada di posisi yang sangat tepat saat itu. Bahkan waktu itu momentum seolah memihak pada capres kalian lho, kalau tetap fokus pada isu dari sekitar 10 tahun lalu.

Ia bisa mengkritik sana-sini mengenai kebijakan pertanian dan perdagangan komoditi pertanian yang berlaku, sambil memberikan solusi-solusi tepat yang saya yakin capres kalian paham benar, karena bukankah dia juga terjun di bisnis internasional?

Tapi sekali lagi, langkah-langkah tadi akan efektif jika dilakukan dari dulu, kurang lebih 10 tahun lalu.

Sekarang? Semoga nasi belum jadi bubur, tapi kalau boleh menyarankan, saat ini yang bisa dilakukan adalah ada baiknya mengurangi serangan-serangan pada capres sebelah, karena jujur saja, itu tidak membuat capres kalian tampak lebih baik.

Lalu tentang pendekatan ke para petani, nelayan, dan peternak, entah bisa efektif atau tidak di sisa waktu ini. Sebab petani, nelayan, peternak, perlu hal nyata yang ditawarkan ke mereka. Mereka punya masalah dengan pupuk, pemasaran, ongkos melaut yang tinggi, pencurian ikan oleh nelayan negara tetangga, jatuhnya harga ternak karena impor, kurang diperhatikannya peternak lokal, dan masih banyak lagi. Kalian yakin capres kalian berani memberi janji yang benar-benar nyata dan sifatnya teknis operasional?

Kini, selain keliatannya udah telat, kalau tidak salah cawapres yang baru capres kalian pilih cenderung mendukung impor komoditi pertanian kan pada masa pemerintahan sebelumnya? Oh iya, ada juga salah satu partai pendukung capres kalian yang bermain di impor sapi to, kalau tidak salah?

Saya jadi menduga-duga, gimana ya pandangan rakyat terutama nelayan, petani, dan peternak, melihat komposisi yang kalian tawarkan untuk mereka pilih demi menentukan nasib mereka 5 tahun mendatang?

Oh iya satu lagi, dan percayalah ini sangat penting buat kalian dan capres yang kalian usung. Sebaiknya frekwensi mengarang puisinya dikurangi, syukur-syukur dihentikan, setidaknya sampai selesai pemilihan presiden ya.

Karena menurut saya, selain puisi itu susah bagi kami -sebagai orang awam- mengapresiasinya dengan baik. Puisi itu juga tidak membuat capres yang kalian usung tampak lebih baik. Percayalah…

Mungkin langkah yang tepat sekarang adalah berdoa…