Iya benar, dalam hal mencari kebenaran dan kejelasan data/fakta sebuah informasi, sebelum kemudian dimanfaatkan sendiri atau disebarkan pada pihak lain, mungkin kita seharusnya malu pada para penggemar JAV (yang kepanjangan dan definisinya nampaknya tidak perlu dijelaskan di sini).

Bagaimana tidak, sejak beberapa tahun belakangan ini kalau bukan sebagai pelaku, paling tidak kita sering jadi saksi betapa banyak orang di media sosial yang dengan mudahnya sharing tulisan, update-an, dan link yang mereka dapatkan tanpa memeriksa dulu apakah isinya benar atau tidak. Apakah ini kabar yang dapat dipercaya, atau fitnah belaka. Apakah ini postingan yang tulus dari hati nurani, atau sekadar mengejar jumlah likeshare, dan komentar di status tersebut, demi mendapatkan pemasukan dana.

Selama materi yang mereka dapatkan di media sosial itu membela dan menunjukkan kebaikan “jago” mereka, atau selama materi itu menyerang dan menunjukkan keburukan “jago” lawan mereka, tanpa ragu lagi tombol share dan like mereka klik tanpa banyak pikir panjang.

Ada lagi yang entah karena memiliki budaya baca rendah atau memang malas membaca, sering kita temukan orang-orang yang menanyakan hal-hal yang sebenarnya sudah jelas tertulis pada suatu artikel, blog, atau postingan media sosial.

Beberapa kawan saya sering mendapatkan pertanyaan dari calon pembeli harga suatu barang yang didisplay di online shop-nya. Padahal di situ sudah jelas-jelas tertera berapa harga barang tersebut. Terus tujuannya nanya harga lagi via komentar, chatting line, atau email itu buat apa? Mosok ya si pembeli abis tanya harga terus dilanjutkan tawar menawar kayak di pasar tradisional? Kemudian kalau harganya tidak bisa ditawar (ya iyalah, onlen shop je), terus pembelinya mau pura-pura pergi menjauhi layar situs online shop tersebut, dengan harapan kalau udah jalan beberapa langkah, penjualnya bakal inguk-inguk dari layar gadget si calon pembeli, buat manggil si pembeli itu, “Jeng.. Jeng… Iya deh, sama njenengan seratus ribu saya kasih deh seprei bunga-bunganya.” Gitu?

Kawan lain yang jadi panitia kegiatan budaya tahunan di kotanya punya kisah yang lebih miris. Suatu hari ia memasang e-poster di media sosialnya, yang mengumumkan mulai dibukanya pendaftaran peserta kontes “Joged Pinuk” yang dimulai sejak e-poster itu ditayangkan hari itu dan ditutup minggu depannya.

Namanya juga e-poster pengumuman, tentu saja informasi kapan pendaftaran buka dan kapan tutup dituliskan secara jelas dan BESAR-BESAR di situ, sehingga tanpa harus meng-klik e-poster tersebut, orang secara sekilas sudah dapat membacanya.

Lha ternyata kok masih juga banyak yang tanya di bagian komentar dari update-an status e-poster itu bertanya tentang KAPAN lomba tersebut dimulai.

Tapi ada satu pertanyaan yang menurut teman saya paling epic adalah: “Mas, apakah sekarang sudah telat kalau saya ingin mendaftar jadi peserta kontes ‘Jodeg Pinuk’?

Hal yang bikin epic adalah: pertanyaan itu ditanyakan kurang lebih baru 1 jam setelah e-poster itu di-update di media sosial tersebut. Ha baru 1 jam yang lalu e, gimana ceritanya si penanya bisa berpikir dia telat mendaftar?

***

Orang-orang seperti tadi itu, sungguh harus malu pada para pecinta JAV yang telah terbukti keuletannya dalam verifikasi dan validasi data yang mereka terima, sebelum kemudian mereka sebarkan lagi.

Membandingkan mereka yang grusa-grusu asal share tanpa memeriksa kebenaran informasi yang disebarkan dan mereka yang masih menanyakan suatu informasi yang sebenarnya sudah jelas-jelas tertulis, dengan para pecinta JAV yang terkenal sabar dan telaten itu bagaikan membandingkan bumi dan langit (atau bumi dan firmament, buat yang percaya flat earth).

Mereka tak akan mampu menandingi semangat para pecinta JAV dalam menggali kejelasan informasi yang mereka dapat.

Bayangkan, informasi yang para pecinta JAV terima itu kebanyakan dalam bahasa Jepang dan tentu saja yang kebanyakan ditulis dengan menggunakan aksara Jepang. Padahal, kebanyakan mereka tidak begitu memahami bahasa Jepang, apalagi tulisannya.

Tapi mereka tidak gampang menyerah, mereka dengan ulet dan gigih mencoba memahami, menggali, dan berdiskusi informasi yang mereka dapat itu, sebelum dengan gegabah menyebarkannya, atau dengan wagu menanyakan informasi yang sesungguhnya sudah tertera di sana. Walau dalam tulisan kanji.

Bahkan menurut kawan saya, di forum-forum diskusi mereka, bahasa yang digunakan relatif lebih santun, ketimbang forum-forum umum yang membahas tentang politik misalnya. Karena frekwensi munculnya frasa-frasa seperti: “memang goblok, banyak bacot, agen kecebong, pasukan nasbung, dasar kafir, nggak pake otak“, dan lain sejenisnya, relatif jauh lebih kecil di sana.

Sementara kabar-kabar fitnah yang dbuat dengan asal comot gambar lalu disebarkan dengan menyematkan judul lain, juga sangat jarang. Kalaupun ada, itu hanya sekadar untuk gojeg dan mereka cepat memahaminya. Misalnya dengan menyebar meme potongan adegan film JAV dengan ditambah tulisan  “seorang kakek yang membantu menantunya untuk…” atau yang seperti-seperti itulah.

Sehingga kabar informasi yang mereka terima, kebenarannya kurang lebih sama dengan apa yang mereka sebarkan. Sehingga tanpa melakukan pertanyaan-pertanyaan yang tidak perlu, mereka jadi paham dan kenal siapa itu 麻生希, 白石茉莉奈, atau 小島みなみ, dan bahkan beberapa lantas mengidolakannya tanpa mencerca orang lain yang lebih menyukai 桃谷エリカ, misalnya.

Jadi, iya, kita harusnya malu pada para penggemar JAV karena mereka lebih berhati-hati dalam menyebarkan informasi, mereka lebih ulet melakukan cek dan ricek sebuah informasi sebelum melemparkan sebuah pertanyaan yang harusnya tidak perlu, dan cara mereka berkomunikasi dengan sesamanya maupun pihak yang tidak sejalan dengan pandangannya, jauh lebih santun ketimbang para pengguna media sosial yang nampak/mencitrakan diri sebagai individu yang suci dan terpuji.

Oh iya, sebelum tulisan ini diposting, ada kawan yang berkomentar, ”Penggemar JAV itu enggak bisa dijadikan perbandingan dong. Kan mereka tahu makna dan tulisan-tulisan Jepang itu gara-gara lebih dulu tertarik melihat gambarnya yang seperti itu, baru mereka googling atau langsung ke google translate.”

“Nah, justru itulah yang harusnya membuat kita malu. Sebab, mereka mau usaha buka google dulu sebelum nyebarin sesuatu. Lha kalo kita? Sebelum langsung share artikel puji-pujian ke Erdogan dan cercaan ke presiden lain, apa pada sempet googling info itu bener enggak, atau cari tau sebenernya Erdogan itu gimana?” sambar kawan saya lainnya yang lagi googling kode SNIS.

Originally published at jagongan.org on July 20, 2016.