Mahabharata Waton

Mahabharata Waton

Beberapa hari lalu, saya melihat di beberapa kanal media sosial, beberapa orang menyebarkan semacam infografik seperti di atas yang menganalogikan pilpres Juli nanti dengan Perang Bharatayudha. Maksudnya mungkin memeriahkan pilpres biar makin seru dan heboh. Tapi karena banyak kesalahan fatal di sana-sini, maka bagi mereka yang paham dunia perwayangan, ini keliatan kalo yang bikin sama sekali tidak tahu apa-apa tentang wayang, terutama Mahabharata, dan apa yang ingin disampaikan melalui semacam infografik ini, jatoh-jatohnya jadi ketok nek sing nggawe waton wagu.

Saya tidak ahli banget tentang wayang Mahabharata, tapi karena saking parahnya kesalahan di semacam infografik ini, maka orang se-awam saya pun bisa ngerti kalo itu mengandung kesalahan bodoh yang fatal. Dan ini tidak ada kaitannya dengan pas tidaknya individu-individu tersebut disimbolisasikan dengan tokoh-tokoh wayang tersebut. Karenanya saya mencoba meluruskan ke-ngawur-an yang memalukan ini.

1. Pandu aka. Destarata (ayah dari Pandawa dan Kurawa)

Ini kesalahan fatal yang mencerminkan si pembuat semacam infografik ini tak tahu apa-apa tentang wayang. Ketahuilah jiwa-jiwa yang sesat dalam hal wayang tapi sotoy sok paham, dalam cerita Mahabharata, Pandu dan Destarata itu orang yang berbeda.

Itu kurang lebih kayak nganggep Thor dan Loki orang yang sama.

Pandu adalah anak dari Dewi Ambalika yang dengan semacam prosesi tertentu (konon tanpa ML) dengan Begawan Abiyasa, akhirnya bisa hamil dan lahirlah si Pandu itu. Kelak, Pandu akan punya anak sebanyak lima orang (yang juga konon semuanya tanpa ML), 3 dari Dewi Kunti dan 2 dari Dewi Madrim.

Sementara Destarata adalah anak dari Dewi Ambika, yang lahir melalui prosesi tertentu  (ya itu tadi, konon tanpa ML) dengan Begawan Abiyasa. Kemudian Destarata menikah dengan Dewi Gandhari, yang kurang lebih sama, dengan metode yang ajaib zonder ML ,  melahirkan 100 orang anak yang kemudian dikenal sebagai Kurawa.

Jadi, dari Pandu dan Destarata itu orang yang berbeda, mereka saudara tiri, bukan orang yang sama dengan nama yang berbeda, alias aka. Eh, jangan-jangan itu yang bikin ndak tau ya “aka” itu singkatan dari apa? Mesakke…

Sekadar info saja ya, Soekarno kalau tak salah diambil dari seorang tokoh dalam pewayangan bernama Karna. Nama tersebut diberikan oleh ayahnya untuk menggantikan namanya terdahulu yaitu Koesno. Konon penggantian ini dilakukan karena saat menggunakan nama yang lama, Soekarno yang saat itu masih kecil, sakit-sakitan.

2. Guru Drona (Guru Spiritual Pandawa dan Kurawa) dan Patih Sengkuni

Guru spiritual menurut saya istilah yang tak begitu saya pahami definisi tepatnya apa. Tapi, kalau guru spiritual itu diartikan sebagai orang yang memberikan petuah-petuah dan nasihat-nasihat -terlepas benar atau tidaknya petuah tersebut-, maka pada masa Pandawa dan Kurawa masih belia dan sama-sama tinggal di Hastinapura, mereka punya beberapa guru spiritual.

Ada Resi Bhisma (dan demi Tuhan, ini yang dimaksud bukan Bhisma anggota boyband yang itu), ada Paman Widura, dan Paman Sengkuni yang biasanya lebih sering memberi nasihat spiritual ke pihak Kurawa. Resi Drona masih belum masuk ke lingkaran Hastinapura sampai ia menjadi guru Pandawa dan Kurawa, dan kala itupun peran Drona lebih sebagai guru kewiraan (bukan nama mata kuliah wajib yang itu), keprajuritan, dan kesamptaan, belum menjadi seseorang yang bisa dianggap sebagai guru spiritual.

Tapi, saat Pandawa sudah tidak lagi di Hastinapura, guru spiritual Pandawa adalah Prabu Kresna dan Betara Ismaya (atau buat kalian yang awam Mahabharata, mungkin lebih mengenalnya sebagai Semar 😀 ), sementara Kurawa yang masih bercokol di Hastinapura, lebih memilih mendengarkan Paman Sengkuni dan Resi Drona, ketimbang Resi Bhisma dan Paman Widura.

Jadi kalau dikatakan Resi Drona adalah guru Kurawa dan Pandawa, itu benar. Tapi kalau Guru Spiritual, nampaknya kurang tepat deh. Tapi Paman Sengkuni sebagai provokator Kurawa, boleh laaah… Karena ya itu tadi, guru kan tugasnya ngajarin, tentang ajarannya membawa kebaikan atau malah mblasukke itu masalah lain. 😀

Lagian, di akhir masa kekuasaannya, Soeharto lebih mengidentikkan dirinya dengan tokoh Semar, sampai-sampai ada lakon carangan (cerita wayang hasil karangan masa kini, bukan berdasarkan kisah Mahabharata) yang berjudul “Semar Mbangun Khayangan” yang konon sebagai simbolisasi peran dan keberhasilan Soeharto dalam pembangunan Indonesia.

3. Ibu Kunthi

Pandawa ada lima, dan Ibu Kunthi adalah ibu kandung kelima bersaudara tersebut. Benar? SALAH!

Ketahuilah hai kalian yang belum tercerahkan, Lima orang Pandawa itu memiliki ibu yang berbeda-beda.

Ibu dari Yudhistira, Bima, Arjuna, adalah Dewi Kunthi. Sementara Ibu dari Nakula dan Sadewa, adalah Dewi Madrim.

Lalu kenapa yang sering disebut-sebut cuma Dewi Kunthi? Karena eh karena, Dewi Madrim melakukan bunuh diri dengan cara membakar diri beberapa saat setelah meninggalnya Pandu, suaminya.

Kenapa Pandu meninggal, dan kenapa dari dua istrinya, hanya Dewi Madrim saja yang bunuh diri? Apa tujuan Ibu Kunthi tidak ikut bunuh diri? Jawabannya kalo berminat silahkan via japri. 😀

4. Dursasana dan Suyudana

Dalam cerita Mahabharata, Dursasana dan Suyudana memang benar termasuk dalam Kurawa.

Tapi Suyudana atau dikenal pula sebagai Duryudana, adalah sulung dari Kurawa dan sekaligus raja Hastinapura. Sementara Dursasana adalah adik dari Suyudana, dan sama sekali bukan raja.

Nah, jika dikaitkan dengan semacam infografik di atas, gimana ceritanya posisi capres disimbolkan sebagai Dursasana, sementara cawapresnya disimbolkan Duryudana?

Ini sama aja kita bilang kalo Akira Fubuki lebih muda dari Ameri Ichinose.

Main simbolisasi sih boleh saja, tapi setidaknya ada aturan-aturan yang harus diikuti sehingga simbolisasi tersebut bisa dipahami dengan baik.

5. Cakil

Cakil termasuk tokoh yang antagonis. Akan tetapi tokoh ini sama sekali bukan bagian dari Kurawa, ia sama sekali tidak turut dalam Perang Bharatayudha. Bahkan ia sama sekali tidak ada dalam kisah Mahabharata yang asli.

Karena tokoh ini hanya dikenal dalam pewayangan di Jawa. Biasanya pada setiap pertunjukkan wayang kulit, ada istilah Perang Kembang, dalam perang inilah Cakil biasanya dihajar oleh satria-satria baik pembela kebenaran.

6. Kresna

Entah apa pertimbangan Kresna diletakkan di bawah dalam semacam infografik ini.

Karena, jika menganut azas keseimbangan dan keselarasan, kudunya Kresna diletakkan pada sisi Pandawa, tapi selevel dengan Drona dan Sengkuni.

Sebab seperti tadi sudah sempat disinggung, Drona dan Sengkuni adalah “penasehat spiritual” Kurawa, sementara Kresna dalam kisah Mahabharata adalah “penasehaat spiritual” Pandawa.

Tokoh-tokoh wayang lainnya tidak saya bahas karena sudah males dan makin tidak paham apa pertimbangan si pembuat semacam infografik ini memasangnya di situ.

Semoga ini bisa sedikit memberikan pencerahan pada mereka yang masih awam seputar Mahabharata. Kalau misalnya ada yang perlu dikoreksi, tolong kasih tau ya..

Untuk siapapun yang bikin semacam infografik ini: Kasihan sekali Anda, bahkan untuk mencoba utak atik gathuk saja masih luput..