Sebagian besar orang sudah tahu tentang kejadiannya seorang pria membuka fakta bahwa ia adalah anak seorang tokoh terkenal pada publik lewat sebuah acara talkshow TV.

Selain publik yang menjadi gempar, tentu saja si tokoh ini sendiri juga merasakan akibat pengungkapan fakta ini.

Bagaimana tidak, si tokoh yang nampaknya sebagian besar bisnisnya bermodalkan personal branding yang ditawarkan dan itu laku keras dengan harga bagus ke mana-mana, pastilah sedikit banyak terdampak oleh hal tersebut.

Dari sisi bisnis, tentu ini bisa dianggap sebuah krisis yang walaupun tidak sampai menghancurkan namun bisa berakibat buruk terhadap kelancaran usaha yang sedang dijalankan.

Beberapa organisasi dan perusahaan yang telah mapan, langkah-langkah mengatasi hal serupa (maksudnya serupa karena krisisnya membahayakan kelangsungan bisnis, bukan serupa karena ada pemuda yang mengaku sebagai anu…) coba dipecahkan melalui apa yang disebut manajemen krisis.

Parahnya, nyaris tak ada langkah manajemen krisis yang persis sama untuk diterapkan pada krisis-krisis yang berbeda.

Lalu bagaimana dengan si tokoh di awal cerita ini tadi? Bagaimana sebaiknya dia mensikapi krisis yang terjadi ini? Nah, mungkin ini bisa jadi salah satu alternatif manajemen krisis versi ngirit untuk kasus tersebut.

Gini, sebaiknya sebelum semua jadi makin hiruk pikuk seperti sekarang ini, mungkin ada baiknya beberapa saat setelah si pemuda yang mengaku sebagai anak itu muncul di televisi nasional, si tokoh segera menghubungi si anak secara personal, untuk diajak rembugan apa maunya dan bagaimana baiknya, dan tentu saja tanpa pakai acara mengancam atau menekan lewat jalur hukum.

Memang mungkin ada rasa gengsi, marah, atau mungkin malu. Tapi kerugian (kalau itu mau dianggap sebagai kerugian material) atau kekalahan (kalau ini dianggap sebagai sebuah serangan) sesungguhnya tak ada artinya jika dibandingkan dengan apa yang telah terjadi sekarang.

Paling tidak dia tidak harus keluar biaya banyak untuk bayar pengacara dan semacamnya, melainkan cukup biaya sekadarnya untuk bikin semacam jamuan kecil-kecilan dan suguhan seadanya selama rembugan internal bersama si pemuda itu dilakukan.

Kemudian mungkin sedikit tambahan biaya lagi untuk menggelar konferensi pers menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi dan menceritakan solusi terbaik yang diambil, seraya duduk berdua akrab bersama si pemuda tersebut di depan para wartawan yang hadir.

Rasanya itu tidak terlalu menyakitkan, serta dapat menetralisir damage yang sempat terjadi.

Mungkin gitu…