Gara-gara lihat Doctors Go Wild di sebuah stasiun TV swasta Indonesia, jadi ingat pengalaman jalan-jalan seru ke tempat-tempat dahsyat beberapa tahun lalu.

Sesungguhnya yang benar-benar bikin ingat adalah saat seluruh kru acara tersebut berjalan kaki hingga 9 jam lebih menuju suatu lokasi. Saya persis pernah mengalami hal itu, dan asli rasanya keren banget, karena jadi tampil prima dan penuh vitalitas gitu. 😀

Bahkan, lebih dari seminggu setelah kejadian itu saya ndak mau makan nasi, eman-eman le kesel dan eman-eman kalau perutnya njembling lagi. Ya walaupun akhirnya setelah lewat beberapa bulan tetap njembling lagi sih…

Banyak hal menarik yang seru untuk diceritakan dari periode perjalanan hidup yang itu, jadi satu-satu tur sak selane saya ya.

Hal yang pingin banget saya ceritakan sejak lama adalah saat menemukan salah satu moda transportasi yang unik dan seru. Sebenarnya sudah lama ingin menceritakan hal ini, terutama saat bertemu kawan-kawan yang ceritanya mau menguji nyali saya untuk menjajal flying fox di suatu kawasan wisata.

Tapi karena saya percaya action speak louder than words maka biasanya saya langsung cincing-cincing memanjat tower “keberangkatan” flying fox dan langsung meluncur ke bawah, mak tlusur.

Semua itu berkat moda transportasi yang dulu pernah saya temui tapi saya tak bisa menyebutkan dengan pasti apa nama moda transportasi itu. Yang jelas, sistem kerjanya seperti flying fox itu, hanya saja tanpa tali pengaman yang mengikat tubuh pengendaranya dengan roda peluncur.

Ini penampakan dari depan saat mengendarai alat peluncur itu

Ini penampakan dari depan saat mengendarai alat peluncur itu

Satu-satunya yang menopang penumpang selama peluncuran adalah semacam papan kayu yang dibuat sedemikian rupa lalu digantungkan dengan tambang pada roda peluncur. Penumpang selama perjalanan sebaiknya berpegang erat pada tali yang menggantungkan papan kayu tersebut. Tambahan bonus lagi, kalau di flying fox biasanya selama meluncur kita tidak terputar-putar, nah kalau di sini kadang papan tersebut berputar. Sehingga saat sampai di “landasan” sangat mungkin kita dalam posisi memunggungi landasan tersebut. Adrenalin bisa gemrojog lah pokmen 🙂

Oh iya, saya lupa belum menjelaskan bahwa moda transportasi ini dipergunakan untuk berpindah dari satu sisi tebing ke sisi tebing lainnya, sehingga ada dua tambang yang dipasangi papan peluncur untuk melintasi derasnya sungai yang ada di bawah sana.

Tambang pertama untuk meluncur dari sisi kiri ke kanan, oleh karenanya posisi tambang lebih tinggi yang kiri, demikian pula sebaliknya untuk meluncur dari sisi tebing yang kanan ke kiri. Masing-masing papan diikat dengan sebuah tambang panjang yang lebih kecil, tujuannya untuk menarik papan tersebut kembali ke sisi semula, agar dapat kembali ditumpangi.

Sekedar informasi, penduduk setempat menamakan sungai yang mengalir bergemuruh di antara kedua tebing itu Sungai Telen.

“Kalau tidak salah, namanya itu diambil karena kalau ada yang jatuh ke sungai di bawah kita itu, ya langsung ketelen sama sungai, ilang gitu aja.” Itu jawaban seorang penduduk setempat saat saya dengan bodohnya bertanya dan dengan sukses menambah deg-deg-an saat menunggu giliran meluncur.

Walaupun akhirnya saya tahu kalau jawaban itu tidak beneran tapi ya cukup menambah keringat dingin mengalir di telapak tangan yang erat memegang tambang selama meluncur itu.

Ah iya, ada satu lagi info yang hampir saja lupa saya sampaikan. Layaknya orang dari kota yang sok paham dan perduli dengan keamanan, saya sempat bertanya (dan lagi-lagi saya menyesal mengajukan pertanyaan ini), berapa kemampuan maksimal papan yang akan ditumpangi meluncur di atas sungai itu.

Dan jawabannya adalah:

“Jangan khawatir, biasanya dinaikin lima orang kuat kok..”

Biasanya dinaikin lima orang kuat, tanpa menjelaskan secara detail lima orang itu masing-masing seberat apa atau sekurus apa, dan juga tak dijelaskan apakah lima orang itu semua membawa barang-barang atau tidak. Pokoknya lima orang kuat. Dan saya langsung mules.