Kenapa mendadak mahasiswa ISI Yogyakarta dimesakke? Padahal kan selama ini saya lebih nge-fans dengan Mahasiswi Atmajaya Yogyakarta dan Sanata Dharma?

Oh iya, tapi sebelumnya perlu diluruskan, bukan semua mahasiswa ISI Yogyakarta sih, tapi dua mahasiswa semester 4 Fakultas Media Rekam-nya.

Jani gidi ceritanya, beberapa hari lalu tanpa sengaja saya melihat sebuah status di Facebook yang membuat saya mendadak jatuh iba pada dua mahasiswa tersebut. Isi statusnya gini:

Mesakke Mahasiswa ISI Yogyakarta

Nah status Facebook itu yang membuat saya jatuh iba pada mahasiswa-mahasiswa tersebut. Alasannya:

Pertama, dengan tanpa mengurangi rasa hormat, dalam rentetan pertanyaan tersebut sebatas yang saya tahu, tidak ada seorangpun yang merupakan tokoh/seniman yang berkaitan dengan media rekam. Media rekam lho ya, bukan lukis atau grafis lainnya.

Coba tanyakan ke mereka siapa itu Kassian Chepas atau tahukah siapa Don Hasman itu. Tanyakan pula ke mereka apa itu MES 56, KPY itu apa dan di mana, Kelas Malam Yogyakarta itu biasanya kumpul di mana, atau pernah tahu Komunitas Kamera Lubang Jarum di Yogyakarta tidak.

Jangan lupa, minta mereka mengaku berapa kali pernah hunting foto yang tenanan lho ya, bukan acara hunting yang para modelnya sudah disiapkan cantik-cantik dengan busana menarik hati lalu berpose di atas sepeda motor besar atau klekaran di kap mobil mewah.

Kalau mereka tak bisa menjawab, mungkin baru kita bisa misuh-misuh sak kayang e.

Kedua, mereka baru semester empat, alias baru dua tahun kuliah di ISI, entah gimana sistem perkuliahan sekarang, tapi yang jelas jaman saya dulu, semester pertama itu masih berisi mata kuliah umum, seperti Pancasila, Kewiraan, Agama I, Ilmu Budaya Dasar, Ilmu Alam Dasar, yang ini aja udah 12 SKS sendiri, kemudian ditambah materi-materi kuliah dasar lainnya.

Semester dua juga masih berisi beberapa materi-materi perkuliahan mendasar berdasarkan fakultas/jurusan yang diambil. Semester tiga dan empat baru mereka mulai memilih spesialisasi apa yang dirasakan cocok dengan mereka dengan mengambil mata kuliah-mata kuliah pilihan yang ditawarkan kampus.

Dan sodara-sodara, dari semua mata kuliah di media rekam itu, sejauh saya tahu tidak ada yang secara eksplisit membahas dan menjabarkan nama-nama, tokoh-tokoh, dan lokasi-lokasi yang tidak secara langsung berkaitan ke-media rekam-an.

Jadi ya wajar saja kalo mahasiswa-mahasiswa tadi kemudian ndomblong saat ditanya nama-nama yang di ruang kuliah mereka jarang sekali disebutkan secara eksplisit.

Oh, kemudian mungkin ada yang berkilah: Lho kan sebagai mahasiswa, masa-masa kuliah itu tidak cuma kos – kampus – kos – kampus aja? Kudunya gaul dong, perluas wawasan!

Nah itu kemudian yang menjadi alasan ketiga yaitu:

Setiap mahasiswa tak perduli dari kampus manapun, berhak memilih lingkungan pergaulan dan kawan-kawan tongkrongannya sendiri, tanpa perlu memandang kondisi dan latar belakang mereka sebagai mahasiswa universitas anu fakultas itu.

Jadi kalau ndilalah mahasiswa-mahasiswa itu di luar kampus lebih sering nongkrong dan berpetualang dengan para aktivis pemburu sidat, yang kadang sampai dibela-belain numpang sepur grenjeng demi menuju lokasi perburuan keren di luar kota, ketimbang para seniman yang disebutkan di atas di galeri-galeri atau padepokan tempat mereka biasa menampilkan karya mereka, ya mau gimana lagi?

Konsekwensinya memang mereka tidak begitu mengenal nama-nama seniman tenar dan galeri-galeri keren tersebut, tapi mari kita liat sisi lainnya.

Siapa tahu malah nanti tugas akhir mahasiswa-mahasiswa itu membuat photo project atau film dokumenter seputar pemburu sidat? Kan wangun to? Selama ini keliatannya belum pernah ada yang menggarapnya dengan serius dan mendalam lho.

Terakhir (ini alasan yang paling pragmatis tapi juga mungkin paling nyata), bisa saja mahasiswa-mahasiswa itu mendaftarkan diri ke Media Rekam ISI dengan niat ingin jadi seorang professional, bukan seorang seniman.

Kemudian mungkin ada yang menyela: Jadi menurut Anda, seniman itu tidak professional?

Oh bukan begituuu.. Maksudnya gini, bisa jadi mahasiswa-mahasiswa itu mendaftarkan diri ke jurusan tersebut karena pengen jadi fotografer professional seperti Darwis Triadi, Anton Ismael, atau Gabriel Ulung.

Jadi ya mereka fokus bagaimana caranya mengembangkan skill, wawasan, dan network mereka supaya bisa seperti impian mereka tersebut. Sehingga wajarlah kalau kemudian pergaulan dan wawasan mereka seputar fotografi professional saja tanpa sempat mampir ke galeri-galeri seni rupa, kecuali kalau sedang ada pameran dari fotografer idola mereka tersebut.

Sehingga, buat kalian dua mahasiswa ISI Yogyakarta yang diberondong pertanyaan di status FB tersebut dan tak bisa menjawab (juga para mahasiswa ISI Yogyakarta lainnya yang mungkin baru tahu nama-nama tersebut saat membaca status itu atau kesasar di blog ini), jangan kecil hati karena “hal-hal elementer tentang Yogya” tidak sama antara satu orang dengan orang lainnya.

Ada yang menganggap mengingat nama-nama seniman dan galeri itu elementer, tapi di sisi lain ada yang berpikir bahwa lebih elementer mengetahui lokasi servis kamera yang yahud, atau tempat sewa lensa dan kamera yang bagus-murah-meriah-terjamah. Beda…

Ingat kata-kata ini: Masa depan kalian tidak ditentukan dengan kenal-tidaknya kalian dengan nama-nama itu atau tahu-tidaknya kalian dengan galeri-galeri yang disebutkan tadi. Serta, kalian tidak akan kehilangan ke-ISI-an kalian juga kok.

Namun yang kalian harus khawatirkan adalah:

Jika kalian menutup diri dari dunia luar dan pendapat-pendapat yang berbeda dari apa yang selama ini diajarkan dan dipercayai. Jika kalian sudah merasa apa yang didapat di bangku kuliah sudah cukup dan lalu berhenti belajar dan mengeksplorasi. Jika kalian mulai terjebak kemapanan, jika kalian terjerat di comfort zone. Jika kalian menyepelekan orang lain yang karyanya terjual lebih murah dari karya kalian, dan yang terparah adalah jika kalian berhenti berkarya dan hanya banyak bergaya.