Kandang

Lha to Mas.. Lha to Mas..” dari jauh Pakdhe Guno sudah mengacung-acungkan surat kabar pada saya sambil berjalan cepat pagi itu.

Sebenarnya, jika tidak mengingat tata krama, ingin saya langsung memacu sepeda motor saya segera berangkat kerja meninggalkan Pakdhe Guno yang tergopoh-gopoh menuju pintu pagar rumah saya itu.

Pakdhe Guno Gregah, nama lengkapnya, memang sering punya pemikiran yang nyleneh tapi kadang kala tidak dapat disanggah kebenarannya. Asal muasal kenapa diberi paraban “Gregah” mungkin akan saya ceritakan di lain kesempatan.

Pakdhe Guno akhirnya telah sampai dekat saya dengan terengah-engah karena tadi berjalan cepat dan nampaknya semangat akan bercerita sesuatu dari berita yang dia baca di koran.

Kados pundhi Dhe Guno, ada apa e kok sajak kemrungsung?” tanya saya yang jadi tak tega untuk langsung meninggalkannya setelah melihat semangat yang tercermin di wajahnya.

“Ini lho, mosok to golput diharamkan oleh sebuah ormas agama? Rak ya aneh to itu? Apa e haknya ormas itu kok ngelarang-ngelarang orang mau golput?” cecar Pakdhe Guno sambil -seperti biasanya- mendelik-mendelik bersemangat.

“Woh, njenengan meh golput pho sesuk ki, Dhe?” tanya saya.

“Welhaa ya bukan itu masalah e Mas. Ini bukan mau golput apa endak, apalagi sampai niat ngajak golput. Wah sama sekali bukaaaaan Mas.” sahutnya.

“Lha terus?”

“Ngene Mas, ormas agama mengharamkan golput, jadi secara tak langsung yang golput dianggap pendosa. Kemudian beberapa waktu lalu wong-wong KPU akan memberi sanksi pada warga yang golput. Masih banyak lagi beberapa himbauan baik secara halus maupun keras diberikan pada rakyat, yang garis besarnya supaya tidak golput.”

“Ya pancen kudunya gitu to, terus klerunya di sebelah mana?” saya sudah mulai tak sabar dan ingin segera pergi dari situ.

“Bukan kleru Mas, tapi keadilan lho.. Keadilaann..” kata Pakde Guno dengan sedikit emosi, mengingatkan saya pada Leonidas saat berseru: This is Spartaaaaaa…

“Keadilan gimana e, Dhe? Saya kok ndak nemu sambungan e to ini?” saya benar-benar hampir kehilangan kesabaran.

“Coba njenengan pikir Mas, dari jaman dulu, kalo menyangkut bab golput ini, kok selalu kita, rakyat, yang dikuya-kuya. Selalu kita yang disalah-salahke, dipaksa-paksa, diancam-ancam, biar mau nyoblos.”

Saya mulai berminat mendengarkan, sementara Pakdhe Guno, mungkin karena agak lelah langsung tanpa permisi duduk selonjor di teras rumah saya, sambil menata napasnya.

“Tak ambilkan minuman ya Dhe?” tawar saya, sambil turun dari motor dan segera akan masuk rumah.

Rasah repot- repot.. Rasah, neng kene wae, aku mung perlu nata ambegan dhilit kok..” cegah beliau cepat. “Sing tak perlukan jan-jan e mung semacam pencerahan, biar saya yang bingung ini ndak golput.”

“Nah, balik lagi ke bab golput tadi,” setelah napasnya lebih teratur, Pakdhe Guno melanjutkan,”aku masih gemes dan ndak terima kalo tiap pemilu rakyat yang disalah-salahke dan ditakut-takuti biar ndak golput.”

Saya hanya memandang lelaki dipertengahan 50-an tahun ini kembali berapi-api ngomong tentang golput.

“Kita ini rakyat Mas, wong bodho, ndak sepinter mereka-mereka yang di atas sana.” sambung Pakdhe Guno,  “Tapi ya sebodho-bodho-nya kita, kan tetep mikir tenanan to Mas, kalo dikasih tanggung jawab  memberikan suara pas pemilu kayak gini ini? Mosok to kita njuk waton nyoblos gitu aja?”

“Ha tapi nyatanya..” nah beliau mulai on-fire lagi ini, “para petinggi partai banyak yang kecangking KPK , ada yang rasan-rasan mau mbubarke KPK, ada yang partai baru sekarang saya denger namanya dan lambangnya, ada partai yang pimpinannya galak karo wartawan, ada lagi partai yang senengane bikin apus-apus ‘huek’, ada lagi yang…”

“Sebentar Pakdhe, sebentar..” saya penasaran dan langsung memotong, “kalo yang kecangking KPK itu saya ngerti, terus yang lain-lainnya bab partai itu tadi saya ya paham, lha ning sing partai apus-apus ‘huek’ ki opo e, Dhe?”

“Halah, kae lho Mas.. Sing misal e ana foto artis angkat jempol sambil bilang ‘ayo jangan golput..’, nah njuk karoembuh partai ne, embuh pendukung e– gambar dan tulisan e direka-reka, jadinya berbunyi ‘ayo pilih partai nomer sewidakrolas’, terus harapan e mungkin ben wong-wong sing ra paham iso kapusan ‘huek’ e kae mau.” jelas beliau panjang lebar.

“Oalaaah… dudu ‘huek’ kuwi Pakde, tapi HOAX..” jelas saya sambil setengah mati menahan tawa.

“Oh.. ho oh, bener kuwi maksud ku.. howak kuwi mau..” iya membenarkan dengan mata berbinar.

Pakdhe Guno kembali menumpahkan uneg-unegnya,”Pokmen, partai-partai yang ditawarkan untuk dicoblos besok itu, banyak yang ndak sesuai pilihan saya dan banyak orang-orang kecil lainnya, yang pengen melihat negara ini maju, ben mengko anak putuku isa urip penak, sandang-papan-pangan-pendidikan-kesehatan memadai kabeh.”

“Tapi sebisa mungkin jangan golput lho, Dhe.” saya mengingatkan.

Pengenku ya ra golput, tapi mbok ya o, sebelum ormas agama tadi itu, KPU, Partai, atau pemerintah, nyalah-nyalahke dan ngancem-ngancem rakyat biar ndak golput, mbok ya ngilo, berkaca..”

Nah, ini.. kalau beliau sudah sampai di perumpamaan “ngilo” atau bercermin, sudah tanda-tanda dia kagol parah ini.

Rakyat kuwi wis iso mikir, rakyat pasti memilih kalau apa yang ditawarkan cen layak dipilih.” nada suara Pakdhe Guno mulai tenang.

“Negara, KPU, Partai atau sapa saja lah di atas sana yang punya kuasa, mbok ya o pas nyusun calon-calon itu sing niyat tenanan. Minimal tidak mencederai kepercayaan dan niat rakyat bodho seperti saya ini untuk memilih mereka.”

“Tapi  ini, pilihane kok kalo yang sudah kenal, kok sing kelingan cuma tentang hal-hal yang kurang apik. Ya mbolos sidanglah, ya tersangka korupsilah. Tapi kalo sing anyar, ya malah blas ra cetha wong kae ki sapa dan dari mana. Terus aku kudu piye Mas? Aku ya ndak mau golput juga jan e…” Pakdhe Guno bertanya dengan melas.

Saya sebenarnya tidak mengerti apa alasan Pakdhe Guno memilih “curhat” dan meminta pencerahan pada saya, sebab pada hakekatnya saya ya ndak jauh beda dengan beliau. Bingung, blanknul puthul, dan OK, saya sudah googling dan yang ada hanyalah makin sebel dan kecewa dengan sebagian besar caleg-caleg yang meminta untuk dicoblos itu setelah melihat latar belakang mereka.

Ditambah lagi, sampai hari ini, sehari sebelum pemilu, masih banyak alat peraga kampanye dengan ukuran besar dari beberapa caleh terpasang di kanan dan kiri jalan, di masa tenang yang seharusnya alat-alat peraga tersebut sudah dibersihkan.

Akhirnya, saya masuk ke rumah, buka laptop, cari file yang dimaksud, lalu mencetak dokumen tersebut. Kemudian saya keluar rumah dan menemui Pakdhe Guno yang sekarang posisinya duduk bersandar di tembok sambil kriyip-kriyip menikmati udara pagi itu.

Dhe,” sambil menepuk bahunya, “jujur saja, saya juga belum punya jawaban yang saya rasa benar untuk pertanyaan njenengan.  Tapi ini saya print-kan daftar caleg DPR RI, DPRD DIY, dan DPRD Sleman, sapa tau bisa membantu memecahkan kecunthelan yang sedang njenangan rasakan. Kalo masih bingung, saya ditelpon ya ndak papa kok. Ra jaminan bakal memecahkan masalah sih, ning paling ora bisa rembugan bareng. Kebetulan hari ini rada sela saya.”

Kemudian saya langsung berlalu menuju kantor, meninggalkan Pakdhe Guno yang leyeh-leyeh di teras sambil memandangi daftar caleg yang tadi saya berikan. Kira-kira bakal menelpon tidak ya dia nanti?