Pasar Tangkiling

Pasar Tangkiling

Hari Minggu lalu untuk pertama kalinya berkunjung ke Pasar Tangkiling, di daerah Tangkiling, yang kalau tidak salah terletak kira-kira 30Km sebelah utara Palangka Raya.

Dalam beberapa hal, ini mengingatkan saya pada sebuah pasar tradisional lain di Lamno, 80Km selatan Banda Aceh.

Salah satu persamaannya antara lain tampilannya yang masih sangat tradisional, bahkan jika dibandingkan dengan pasar di Jogja seperti Gowok atau Demangan sekalipun.

Kesamaan lain antara pasar Tangkiling dan pasar Lamno adalah kedua pasar ini hanya beroperasi pada hari Minggu saja.

Beberapa kios di pasar Tangkiling pada malam Minggu memang sudah mulai beroperasi, tapi puncak keramaian dan keriuhannya tetap di Hari Minggu.

Pasar yang hanya beroperasi seminggu sekali seperti itu, dulu umum ditemui di beberapa bagian Indonesia. Maka tidak heran jika di beberapa daerah, kata “pekan” selain bermakna “minggu” (satuan waktu yang lamanya 7 hari), juga memiliki arti yang sama dengan “pasar”.

Sementara dalam bahasa Jawa, kata “pasar” selain bermakna tempat di mana orang melakukan kegiatan jual beli, juga bermakna satuan waktu yang lamanya 5 hari.

Itulah mengapa ada tempat yang bernama pasar Rebo yang dulu adalah pasar yang hanya buka di hari Rabu, pasar Senen di hari Senin, atau pasar Minggu di hari Minggu.

Sementara di Jawa, akan ditemukan pasar Pon yang hanya buka di “hari” Pon, pasar Wage di “hari” Wage, dan seterusnya untuk Kliwon, Legi, dan Pahing.

Saya sesungguhnya sangat suka dengan konsep pasar yang buka seminggu sekali dan berpindah-pindah sesuai harinya.

Sebab keramaian akan selalu berpindah dan tersebar, tidak hanya terpusat di satu titik saja, sementara para penjual dan pembeli dapat memperoleh “keuntungan jarak dari rumah” pada hari-hari tertentu saat pasar sedang berlokasi di dekat tempat mereka.

Siapa yang pernah berkunjung di pasar seperti ini? 🙂