Health check on Gundul by BOSF Medical Team

Pemeriksaan kesehatan Gundul oleh Tim Medis Yayasan BOS

Pertama-tama, memang benar saya adalah salah seorang staf the Borneo Orangutan Survival Foundation (BOSF), tapi apa yang akan saya tulis berikut ini adalah benar-benar pendapat dan pandangan saya pribadi yang menyaksikan “serangan” terhadap BOSF dari mereka yang kurang memperoleh informasi memadai mengenai bagaimana kondisi yang sebenarnya, namun mereka berhasil dimanipulasi oleh seseorang (sebut saja X) dengan memberikan informasi yang kurang akurat seputar kondisi orangutan betina di Samarinda – Kalimantan Timur, yang bernama Gundul.

Mari kita telaah satu persatu informasi yang selama ini beredar di media sosial sehingga kita bisa dengan jelas melihat mana yang benar-benar bekerja keras untuk orangutan, dan mana yang hanya menggunakan isu ini untuk kepentingan pihak-pihak tertentu semata.

Pertama, X menyalahkan BOSF karena setelah mengirim beberapa surat, tidak ada reaksi dan tindakan dari BOSF untuk menyelamatkan Gundul dari kondisinya yang dikabarkan memprihatinkan.

Berdasarkan fakta ini, X memprovokasi orang-orang di media sosial untuk mengutuk BOSF dengan alasan organisasi ini tidak melakukan apapun untuk menyelamatkan Gundul.

Kemudian, ratusan orang yang sesungguhnya tidak memahami bagaimana sebenarnya kondisi yang ada, secara massif menyerang BOSF melalui media sosial dan mengirimkan begitu banyak email menanyakan mengapa BOSF tidak mau menyelamatkan Gundul.

Kalau saja X dan orang-orang yang mengutuk BOSF itu menyadari bahwa BOSF hanyalah sebuah LSM yang tidak dapat melakukan apa-apa tanpa permintaan dan ijin dari Balai Konservasi dan Sumber Daya Alam (BKSDA) setempat, mereka pasti sadar kalau selama ini menyerang sasaran yang salah.

Jika saja.. Hanya jika saja X dan orang-orang yang mengirim ribuan email ke BOSF membaca berita beberapa hari lalu mengenai BOSF yang telah menerima lagi 3 orangutan di Pusat Rehabilitasi Samboja Lestari, hanya beberapa hari sebelum X memulai kampanye di sosial media untuk mengutuk BOSF,  dan dengan tambahan 3 orangutan itu pusat rehabilitasi BOSF di Samboja Lestari benar-benar berada dalam kondisi daya tampung maksimum, serta jika dipaksakan penambahan orangutan lagi, itu akan mengganggu kesejahteraan sekitar 250 orangutan yang telah lebih dulu ada di pusat rehabilitasi itu, mereka pasti sadar kalau selama ini menyerang sasaran yang salah.

Kedua, dalam kampanyenya menyerang BOSF, dikatakan:

Gundul is now 21 years-old and held by an old man since 1990 in Samarinda on the east coast of Borneo. It has been 20 years since she was taken from her slaughtered mother. Gundul has not seen another orangutan for 20 years: Why not take some time and think about this as well?

Sangat menyentuh ya?

Namun, Jumat lalu menurut tim medis BOSF yang melakukan tes kesehatan pada Gundul dan sekaligus memeriksa gigi-giginya untuk memperoleh berapa usia Gundul yang lebih tepat, ternyata diperkirakan usia Gundul berkisar 12 – 13 tahun, bukan 21 tahun.

Nah, sekarang hitung-hitungan yuk.. Gimana ceritanya itu orangutan yang umurnya berkisar 12 – 13 tahun, dikatakan tidak pernah ketemu orangutan lain selama 20 tahun?

Setelah bisa menjawab pertanyaan di atas, mari kita berpikir logis. Bagaimana ceritanya si X ini, yang ndak tahu menahu tentang regulasi penyelamatan orangutan di Indonesia, dan tidak punya cukup pengetahuan tentang orangutan, setidaknya dalam hal yang paling mudah, yaitu menentukan usia orangutan, punya nyali yang begitu besar untuk memprovokasi orang-orang supaya menyerang BOSF, sebuah organisasi nir-laba yang telah terbukti melepasliarkan ribuan orangutan kembali ke habitat aslinya?

Pertanyaan terakhir yang tak kalah pentingnya adalah, dengan mempertimbangkan fakta-fakta di atas, bagaimana mungkin orang-orang masih percaya dengan apa yang orang ini katakan yang berkaitan dengan penyelamatan dan kesejahteraan orangutan?

Entahlah bagaimana dengan kalian, tapi saya tidak punya jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tadi.

Hal yang saya tau adalah, dengan adanya kehebohan ini energi dan sumber daya BOSF nyaris terkuras habis, dan yang lebih menyedihkan adalah, sesungguhnya kami ingin menyimpan energi dan sumber daya itu untuk kegiatan pelepasliaran beberapa orangutan di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur yang rencananya akan kami lakukan dalam waktu dekat ini.

Menyedihkan memang, tapi itulah kenyataannya…