Beberapa bulan lalu ada seorang kawan yang share status di media sosialnya kalau sedang bersiap-siap packing karena dalam hitungan hari, ia akan melalukan perjalanan ke masa depan.

Usut punya usut, ternyata yang dimaksud perjalanan ke masa delan itu bukan seperti di film Back to The Future itu.

Perjalanan ke masa depan yang dimaksud kawan saya itu ternyata perjalanan menuju Papua untuk menyelesaikan suatu pekerjaan di sana dalam jangka waktu beberapa bulan.

Kenapa dibilang perjalanan ke masa depan? Karena, menurut kawan saya itu, jika pergi menuju Papua, itu berarti pergi ke sebuah daerah yang memiliki zona waktu 2 jam lebih dahulu ketimbang Jakarta atau daerah-daerah yang sewaktu.

Dengan demikian, dari sudut pandang Jakarta atau daerah-daerah yang berzona waktu sama, Papua ada di masa depan. Atau setidaknya dua jam lebih dulu di masa depan.

Masuk akal juga sih. Meski oleh¬†beberapa orang “perjalanan ke masa depan” yang diucapkan kawan saya itu hanya guyonan belaka.

Tapi kalau mau jujur, sebenarnya ucapan kawan saya itu ada benarnya.

Bukan. Bukan yang bagian pergi ke zona waktu yang jam-nya lebih awal adalah sama dengan pergi ke masa depan.

Melainkan kalau kita melihat dari sudut pandang berbangsa dan bernegara (abot tenan ya rembugan e iki), maka bisa dikatakan BENAR kalau Papua dan daerah-daerah yang jauh dari pusat pemerintahan itu adalah semacam proyeksi gimana wajah INDONESIA di masa depan.

Kok bisa?

Karena kalau mau fair, kedigdayaan masa depan sebuah negara yang bernasib jadi bekas jajahan negara lain, hanya bisa dilihat dari sejauh mana negara tersebut mampu memajukan dan memakmurkan daerah-daerah di negara tersebut yang pada saat masih terjajah belum sempat dijamah apalagi dibangun oleh negara penjajah.

Jakarta, Bandung, Bogor, misalnya sudah dibangun dengan apik oleh pemerintah Hindia Belanda jaman dahulu kala, bahkan kota-kota tersebut jaman dahulu sudah diberi nama a la Belanda oleh penjajah. Jadi pemerintah pasca kemerdekaan tinggal melanjutkan saja. Tidak from the scratch.

Berbeda dengan Papua, misalnya. Hindia Belanda belum sempat membangun kota semapan Batavia atau seindah Buitenzorg. Indonesia-lah yang bertanggungjawab membangunnya dari 0. Jadi gimana kemampuan negara ini sesungguhnya, ya dilihat aja sejauh apa ia mampu membangun daerah-daerah tersebut. Dan itu baru bisa kita lihat di masa depan. Itu wajah sebenarnya kita.

Jadi ya bisa diterimalah kalau kawan saya itu bilang perjalanannya adalah perjalanan ke masa depan.