Awal minggu ini seorang kawan memention saya melalui twitter sambil menyertakan link instagram seorang perempuan ayu, sebut saja Mbak Raline Shah, yang sedang bercengkrama dengan satu individu bayi Orangutan Sumatera (Pongo abelii) di tempatnya

Intinya kawan saya itu mengingatkan bahwa orangutan itu adalah satwa dilindungi, jadi bukan untuk dipelihara selayaknya pet.

Mungkin melihat berbagai tanggapan berkenaan dengan fotonya bersama orangutan itu, maka Mbak Raline Shah memberikan penjelasan di akun instagramnya:

Singkatnya gini, bayi orangutan berusia 3 tahun itu orangtuanya sudah meninggal dibunuh karena memasuki kawasan perkebunan kelapa sawit dan memakan buahnya. Kemudian bayi orangutan tersebut sempat dirawat oleh sepasang pemilik warung. Melihat kondisi orangutan dalam perawatan pasangan tersebut dirasa menyedihkan, maka ada seseorang yang mengambil orangutan ini kemudian membawanya ke tempat paling aman terdekat, yaitu kebun binatang Pematang Siantar yang dimiliki dan dikelola oleh Mbak Raline Shah ini.

Pada penjelasan tersebut juga disebutkan bahwa Mbak Cantik ini sadar bahwa orangutan adalah satwa yang dilindungi dan berrencana mengembalikan Steve —nama orangutan itu— kembali ke habitatnya di rimba raya. Ia juga menyatakan tidak memiliki niat sama sekali menjadikan orangutan itu sebagai hewan peliharaan layaknya pet.

Saya percaya niat baik Mbak Raline Shah dan Ayahandanya dalam memperhatikan kondisi dan keselamatan si Steve ini, serta upaya mengembalikan bayi orangutan ini kembali ke rimba.

Akan tetapi sejauh yang saya tahu, untuk mempersiapkan satu individu orangutan kembali ke habitatnya (apalagi orangutan tersebut sudah yatim piatu sejak bayi) melewati proses yang panjang dan tidak mudah.

Sebab dalam kehidupan aslinya di alam liar, bayi orangutan akan menyusu pada induknya hingga sekitar usia 3 tahun, kemudian akan terus bersama induknya sampai usianya 6 – 7 tahun.

Pada usia-usia tersebut, si anak akan belajar banyak pada induknya mengenai keahlian-keahlian vital yang sangat diperlukan orangutan untuk bertahan hidup di hutan, seperti memanjat pohon, membuat sarang, dan mengenali musuh-musuh alami mereka.

Keterampilan-keterampilan tersebut memang harus diajarkan ke bayi orangutan, sebab orangutan adalah satwa yang memiliki insting rendah, maksudnya adalah untuk melakukan hal-hal tertentu seperti memanjat atau membuat sarang, orangutan harus melewati proses belajar terlebih dahulu, jadi tidak mendadak bisa dan lihai secara natural dan instictive, seperti bayi sapi yang tahu-tahu bisa jalan beberapa saat setelah kelahirannya.

Sudah banyak kasus terjadi di mana orangutan yang terlalu lama berinteraksi dengan manusia, kehilangan kemampuan mereka sebagai orangutan. Bahkan percaya atau tidak, sampai ada orangutan yang karena kelamaan dikurung oleh manusia saat bayi, hingga ia menjelang dewasa menderita semacam takut ketinggian. Bayangkan, gimana ceritanya orangutan yang secara kodrat adalah makhluk arboreal (tinggal di pepohonan), takut ketinggian dan jadi tidak berani memanjat pohon tinggi-tinggi.

Melihat kondisi seperti ini, tanpa sama sekali bermaksud menyepelekan kemampuan kebun binatang Ayahanda Mbak Raline Shah, mungkin akan lebih baik bagi perkembangan dan masa depan Steve jika ia diserahkan ke Pusat Rehabilitasi Orangutan Sumatera.

Sesuasi namanya, di pusat rehabilitasi orangutan, oleh para personel yang ahli dan terlatih, orangutan akan “direhabilitasi” agar kembali menjadi orangutan yang baik dan benar. Tidak hanya itu, biasanya mereka juga telah mempersiapkan rencana jangka panjang untuk melepasliarkan orangutan-orangutan yang dianggap telah cukup menimba ilmu sebagai orangutan di pusat rehabilitasi tersebut.

Urusan melepasliarkan orangutan ini juga tidak sesederhana keliatannya. Kita tidak bisa begitu saja melepasliarkan orangutan di tengah-tengah hutan begitu saja. Selain dilihat apakah orangutan tersebut secara fisik dan psikis memang benar-benar siap dilepasliarkan, ada beberapa syarat yang harus dipenuhi sebelum sebuah hutan dapat dijadikan lokasi pelepasliaran.

Selain itu, biasanya ada tim monitoring orangutan yang akan dari kejauhan akan mengamati orangutan yang baru dilepasliarkan ini. Tujuannya adalah untuk memastikan apakah orangutan tersebut benar-benar bisa mempraktekkan semua yang telah diperoleh saat di pusat rehabilitasi di kehidupan nyata yang dihadapi sekarang. Lamanya kegiatan monitoring ini kalau tidak salah minimal 1 – 2 tahun.

Nah, setahu saya Sumatran Orangutan Conservation Program (SOCP), sebuah organisasi konservasi yang memiliki pusat rehabilitasi Orangutan Sumatra, punya kantor di Medan kok. Memang sih, agak sedikit jauh dari Pematang Siantar, mungkin ada 130Km jaraknya. Tapi apalah arti jarak itu jika memang kita peduli pada masa depan Steve, kan?

Semoga Steve segera dibawa ke tempat yang lebih baik untuk perkembangannya menuju orangutan dewasa yang handal kelak ya…

Oh iya satu lagi, yang benar itu “orangutan” bukan “orang utan” 🙂