Bagi kawan-kawan pecinta game Football Manager, biasanya tak asing dengan istilah complacency yang biasanya dialami saat kita memegang tim besar yang hebat, dan jangankan kalah, seri aja jarang.

Mungkin buat kawan-kawan yang sudah “level dewa”, masalah seperti ini bisa diselesaikan dengan mudah, atau sama sekali tidak dipedulikan karena dengan sedikit mengutak-atik taktik dan strategi saat bertanding di lapangan, tim lawan dapat teratasi.

Tapi buat orang awam sekaligus pemain pemula seperti saya, hal itu merupakan masalah yang mungkin bisa dikatakan lebih rumit ketimbang seorang pemain atau staff yang “Unh”.

Pemain atau staf yang “Unh” masih bisa dicari sebab musababnya untuk kemudian diberikan treatment yang sesuai agar yang bersangkutan tidak “Unh” lagi. Tapi kalau misalnya penyebab “Unh”-nya cukup berat, misalnya punya personal problem dengan manager alias kita yang memainkan game itu, maka salah satu cara ampuh adalah dengan menjual pemain yang bersangkutan ke tim lain.

Sementara, kalau complacency, yang kalau saya terjemahkan adalah “berpuas diri”,  merupakan “penyakit” yang muncul saat tim kita selalu menang dalam berkali-kali pertandingan sebelumnya. Kemudian ini biasanya akan semakin parah saat tim kita berhadapan dengan tim-tim papan bawah.

Sebab, jika sudah seperti ini, para pemain tim kita akan bermain seolah tanpa semangat bertanding, menganggap remeh lawan, dan merasa pasti akan memenangkan pertandingan bahkan sebelum pertandingan itu dimulai.

Eh ndilalah-nya, tim kita kebobolan. Kemasukan gol. Para pemain tim kita (dan tentu saja kita sebagai manajer) mendadak bingung karena harusnya permainan ini dengan mudah dimenangkan.  Heran karena, tim yang dihadapi adalah tim papan bawah yang poinnya di klasemen terpaut jauh dengan kita yang di papan atas. Tak habis pikir karena secara teknis tim kita lebih superior dibanding tim lawan, tapi hingga peluit akhir berbunyi, gol untuk tim kita tak juga terwujud.

Dan semuanya itu berawal dari satu hal, Complacency atau Berpuas Diri, yang sayangnya tak bisa diobati dan diperbaiki dengan berbagai macam latihan dan kegiatan fisik, juga tidak bisa dihilangkan dengan sorak sorai semangat dari penonton. Karena complacency adalah masalah mental yang tak bisa dibenahi satu dua hari, atau sampai kita terbentur dengan kenyataan bahwa kita tak sehebat yang kita bayangkan dan yang digambarkan orang/media massa.

***

Complacency alias berpuas diri saya khawatirkan juga sedang menjangkiti kubu capres sebelah, dan nampaknya efeknya sudah mulai terasa.

Dengan latar belakang setidaknya lebih “terang” dengan track record yang jelas sejak menjadi pejabat sebuah kota di Jawa Tengah, capres sebelah nampak lebih love-able ketimbang capres lawan yang masih diliputi pertanyaan seputar peristiwa tahun 1998 dan penghilangan beberapa orang.

Lalu masih ditambah lagi dengan organisasi-organiasi yang berada di belakang capres sebelah, relatif tak memiliki kekurangan yang terkuak lebar seperti capres lawannya.

Bahkan seorang tokoh intelektual Indonesia di depan publik dengan jelas mengatakan bahwa: “Saya tidak memiliki beban moral saat memilih capres sebelah.”

Kemudian itu semua makin diperkuat dengan gegap gempitanya dukungan dari berbagai pihak baik artis, pengusaha, tokoh masyarakat, dan lain sebagainya yang bisa dilihat di media-media sosial serta media konvensional.

Belum lagi keramaian-keramaian aksi dukungan bagi capres sebelah yang diselenggarakan di kota-kota besar Indonesia, bahkan di beberapa kota-kota besar luar negeri, seolah selalu dipadati orang.

Kombinasi semua itu nampaknya makin memantapkan posisi capres sebelah dalam pemilu yang tinggal dalam hitungan hari lagi.

Tapi benarkah demikian?

Ternyata eh ternyata, apa yang terjadi di lapangan seolah belum membuktikan bahwa capres sebelah akan menang mudah di pemilihan presiden yang akan datang.

Di beberapa hasil survey, elektabilitas capres sebelah nampak kian menurun, sementara capres lawannya makin meningkat. Sehingga selisih mereka berdua makin menipis.

OK, mungkin kemudian ada yang protes dan tidak percaya validitas survey-survey tersebut. Terserah. Tapi kalau saya jadi timses capres sebelah, ini akan saya anggap sebagai masalah yang harus segera diatasi. Ini PILPRES, kita harus bersiap untuk kemungkinan terburuk, bukan terbuai oleh dukungan-dukungan yang terus mengalir.

Mungkin juga kalian mengajukan fakta bawah di Monas kemarin, pendukung yang datang banyak, sementara di sosial media juga percakapan yang tentang capres kalian lebih  mendominasi ketimbang capres lawan, tentu saja dengan mengabaikan akun-akun bot yang wagu itu.

Iya benar, tapi cukupkah itu untuk memenangkan capres kalian? Cukupkah itu untuk meyakinkan para swing voters agar akhirnya menjatuhkan pilihan mereka ke capres kalian?

***

Saya yakin kalian tahu bahwa rakyat Indonesia yang aktif di sosial media tidak sampai 50 persen dari seluruh penduduk Indonesia yang memiliki hak pilih. Itu saja masih dikurangi dengan pemilik akun media sosial lain yang mendukung capres lawan. Jadi kedigdayaan kalian di sosial media belum memberikan jaminan cukup calon kalian akan memenangkan pilpres yang akan datang.

Karena lebih banyak calon pemilih yang tak terjangkau oleh pesan-pesan yang kalian sebarkan melalui blog, twitter, Facebook, dan youtube.

Kalaupun mereka mendapat pesan-pesan yang kalian buat, namun banyak dari mereka yang belum dapat mencerna maksud pesan itu dengan baik. Istilah para calon pemilih itu: “Enggak ngerti, karena bahasanya ketinggian..”

Iya, mereka orang-orang yang, nuwunsewu, secara pendidikan tidak setinggi kalian. Kalian tidak bisa dengan mudah menyuruh mereka “Googling” untuk mencari track record para capres, lalu memilih dan memilah mana data yang benar dan mana yang salah. Itu tidak mudah bagi mereka.

Makanya jangan heran jika mereka dapat dengan mudah percaya dan hingga kini masih ada yang percaya bahwa capres kalian nama depannya “Heribertus” dan keturunan Tionghoa.

Kalian juga harus memikirkan bagaimana pesan yang tepat dan dapat dipahami mereka yang masih percaya bahwa untuk menjadi pemimpin itu, harus dilihat kejantanan, ketampanan, dan kegagahannya.

Tidak ketinggalan pula, kalian harus menjelaskan pada orang-orang itu bahwa calon presiden kalian tak ada sangkut pautnya dengan komunis.

Dan mungkin dari sisi kalian ini menggelikan tapi benar-benar terjadi di masyarakat, banyak yang masih percaya bahwa foto capres kalian di hadapan banyak orang di monas itu adalah hasil rekayasa, walaupun mereka sudah diberi link videonya di youtube.

Karena kawan ketahuilah, isu-isu itu disampaikan secara langsung pada mereka secara lisan, BBM, WA, selebaran-selebaran, dan nampaknya juga tabloid,  tanpa harus menyuruh mereka untuk “coba googling deh” atau “coba browsing aja..”

Memang benar, kalian bisa kemudian berteriak kalau itu black campaign, tapi selain kalian dan para pendukung capres kalian, siapa lagi yang perduli?

Sekarang yang harus dilakukan adalah membanjiri informasi dengan cara yang benar dan bahasa yang sesuai dengan masyarakat yang menjadi sasaran kalian.

Karena memang metode menyampaikan informasi untuk tiap lapisan masyarakat tidak bisa disamakan.

Sementara itu, kalian di sisi lain sejauh ini yang terlihat melawan isu-isu seperti itu hanya lewat sosial media dan media konvensional yang SES media tersebut juga berkisar A dan B, sedangkan calon pemilih yang diterpa isu-isu itu dengan dahsyat, ada jauh di bawah sana.

Kalau tidak percaya, coba kalian liat semua video-video kalian yang berisi dukungan pada capres sebelah. Kemudian coba pikirkan lagi, berapa persen pesan yang ada di video-video tersebut dapat diterima dan dicerna oleh seorang pemuda pemilih pemula lulusan SMA dari daerah gersang terpencil luar Jawa yang punya cita-cita langsung mendaftar jadi tentara karena tak mampu melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi?

Atau seorang pemuda tak tamat SD yang berbulan-bulan berada di tengah hutan mencari gaharu sebagai mata pencahariannya?

Bagaimana dengan ibu-ibu buruh pemecah batu yang jika dalam sehari bisa mendapatkan upah sebesar Rp. 25.000,- sudah dianggap rejeki yang tak terhingga?

Padahal, orang-orang seperti merekalah para swing voter yang berperan penting setidaknya secara kuantitatif karena akan menentukan capres kalian menang atau terdepak, tapi kalian belum maksimal berbicara dengan mereka menggunakan bahasa mereka.

Semoga kalian memang sedang serius menyelesaikan masalah tersebut dan tidak sedang berpuas diri.

Karena pemenang pilpres dilihat dari siapa yang lebih banyak gambarnya dicoblos di kertas suara, bukan berapa jumlah mention di sosial media, berapa kali pernah menjadi trending topic, atau siapa yang lebih banyak mendapatkan surat terbuka dari netizen.