Bertemu teman, menemukan kawan

Sela

Hampers sebagai sebuah keratabasa

keratabasa hampers

Secara sederhana mungkin keratabasa bisa dimaknai sebagai usaha menjelaskan suatu kata atau istilah dengan cara memperlakukannya sebagai sebuah singkatan.

Nampaknya, tujuan awalnya adalah agar kata atau istilah tersebut lebih mudah dimengerti, dipahami, dan lebih mudah diingat karena seringkali keratabasa ini hasilnya jenaka. Istilah lain keratabasa dalam Bahasa Jawa adalah jarwa-dhosok, sementara dalam Bahasa Inggris, dikenal sebagai backronym.

Sumber: Kateglo.com

Hal ikhwal mengapa tahu-tahu bicara tentang keratabasa ini adalah gara-gara munculnya istilah hampers, yang menjelang lebaran Idulfitri ini menjadi sering muncul dan dibicarakan, setidaknya di media sosial.

Penggunaan istilah hampers tersebut menggantikan parcel untuk merujuk pada bingkisan atau paket yang diberikan dalam rangka perayaan suatu pencapaian atau perayaan hari besar.

Kalau pakai keranjang, itu hampers. Kalau tidak pakai keranjang dan dibungkus (dengan kertas, seperti kado), itu parcel.

Awalnya sempat juga bertanya-tanya apa yang menyebabkan adanya perubahan istilah itu di masyarakat. Namun terima kasih pada seorang kawan yang mengingatkan kalau dulu, ketika masih sering bekerja dengan orang asing, mereka lebih sering menggunakan istilah hampers ketimbang parcel.

Ketika ditanya apa bedanya, jawaban mereka sederhana saja: Kalau pakai keranjang, itu hampers. Kalau tidak pakai keranjang dan dibungkus (dengan kertas, seperti kado), itu parcel.

keratabasa hampers
Hamper (Image by rawpixel.com)

Penjelasan tersebut sangat masuk akal karena menurut berdasarkan The Oxford Pocket Dictionary of Current English yang disitir encyclopedia.com kata hamper itu sendiri sebenarnya bermakna: “a basket with a carrying handle and a hinged lid, used for food, cutlery, and plates on a picnic: a picnic hamper. “

Kemudian mengapa di kita jadi lebih dikenal dengan istilah parcel saya juga tidak tahu alasannya apa. Seingat saya istilah tersebut sudah umum digunakan sejak tahun 80-an.

Saya benar-benar mengingat hal tersebut karena pertama kali melihat bingkisan seperti itu di rumah kawan saya, anak seorang petinggi BUMN. Waktu itu kawan-kawan dan saya main ke rumah anak ini beberapa hari setelah lebaran di separuh akhir dasawarsa 80-an. (Iya, saya tuwa!)

Baru sampai tempat tinggal si kawan ini, yang merupakan rumah dinas di komplek BUMN itu, saya sudah terperangah. Benar-benar sangat luas juga dibanding dengan rumah saya sendiri.

Ketika sampai di teras rumahnya, keterperangahan itu makin bertambah melihat di beranda rumahnya berjajar banyak sekali bingkisan lebaran dalam keranjang yang berhias, isinya masih lengkap karena belum dibuka, tertata amat rapi berjajar-jajar memanjang sehingga menutupi setengah jendela ruang tamunya, yang tentu saja juga sangat luas!

Dari situ saya baru paham ternyata ada to yang namanya parcel yang biasa dikirimkan dan diterima di hari raya Idulfitri. Sambil di satu sisi juga langsung sadar kalau keluarga saya dan saya waktu itu, secara sosial ekonomi ada di level: “Tidak cukup dana untuk mengirimkan parcel. Belum cukup keren untuk menerima parcel.” 😀

Berkenalan dengan keratabasa

Nah kembali ke masalah hampers tadi. Mengingat kenangan-kenangan yang berkelindan seputar hampers dan parcel tadi. Serta melihat bagaimana netizen lebih memilih mencari informasi di media sosial dari sumber yang “nampaknya” terpercaya, ketimbang membuka kamus atau ensiklopedi yang relatif lebih bisa dipercaya, (serta efek mati gaya menunggu jam berbuka di masa-masa seperti ini) maka saya iseng bikin keratabasa dari kata hampers tersebut.

Keratabasa dari kata hampers

Sebagai sebuah bagian dari budaya lisan dan tulisan, sesungguhnya keratabasa ini telah lama dipraktikkan di masyarakat. Mungkin hanya bentuk dan istilahnya yang berbeda ya.

Semuanya bertujuan untuk memberi penjelasan sesederhana mungkin dan syukur-syukur bisa disisipi pesan-pesan moral dalam penjelasannya itu.

Misalnya kata pisang yang dalam Bahasa Jawa gedhang. Misalnya menjelaskan pisang adalah tumbuhan dengan pohon berbatang lunak (bukan dari kayu) berdaun besar memanjang, buahnya tersusun dalam tandan yang terbagi dalam beberapa sisir, dan termasuk keluarga Musaceae, belum tentu si penanya mengerti maksudnya.

Maka untuk mempermudah pemahaman digunakanlah keratabasa berupa gedhang = digěgět lěbar madhang yang artinya “digigit setelah makan”. Hal ini merujuk pada kebiasaan orang dahulu yang memakan pisang sebagai pencuci mulut yang disantap setelah makanan utama (main course).

Contoh lain misalnya untuk (minuman) air panas yang dalam Bahasa Jawa wedang, di-jarwa-dhosok-an menjadi ngawe kadang yang maknanya kurang lebih “memanggil saudara”. Maksudnya, wedang yang biasa disuguhkan pada tamu, selain sebagai sarana pelepas dahaga, juga menjadi sarana memperluas dan mempererat persaudaraan dengan si tamu yang disuguh wedang tadi.

Keratabasa alias jarwa-dhosok ada juga yang dimaksud untuk menyampaikan nasihat atau petuah-petuah bijak. Misalnya kupat atau ketupat, yang keratabasanya adalah ngaku lepat alias “mengaku salah”. Suatu hal yang sangat dianjurkan dan identik pada setiap bertemu sanak saudara, kerabat, dan handai taulan saat perayaan hari raya Idulfitri.

Karena tujuan awalnya untuk menjelaskan sebuah kata secara sederhana, mudah dimengerti, dan syukur-syukur jenaka, maka tidak hanya Bahasa Jawa “asli” yang menjadi sasaran keratabasa ini.

Bahasa serapan juga ada yang dibuat keratabasanya. Misalnya keretaapi yang dalam Bahasa Jawa adalah sepur yang merupakan serapan dari Bahasa Belanda spoor, bisa dijelaskan menjadi asêp e mêtu ndhuwur atau “asapnya lewat atas”.

Penjelasan tersebut yang kemudian memberi ide para komedian dhagelan Mataram untuk menjelaskan sepeda motor menjadi “asêp e mêtu ngisor” atau “asapnya lewat bawah”, dan sepeda yang dijelaskan menjadi “asêp e tidak ada“.

Ada sebuah pertanyaan menarik mengenai hampers yang saya keratabasa-kan lalu diunggah ke media sosial, yaitu, “Apakah itu termasuk hoax?”

https://twitter.com/temukonco/status/1263455865480155136

Kelihatannya kok tergantung konteks, urgensi, dan kaitannya dengan kemaslahatan masyarakat banyak ya.

Kalau hal tersebut benar-benar berkaitan dengan info penting dan vital yang harus disampaikan secara benar, jelas, seperti untuk keperluan akademis, keliatannya ya tidak masuk lah pakai keratabasa ini. Bayangkan apajadinya kalau di jurnal ilmiah biologi, kita menjelaskan gedhang sebagai digěgět lěbar madhang.

Di sisi lain, bisa jadi keratabasa membantu orang-orang masa kini dan masa depan melihat masa lalu, terutama di lingkup sosial budaya, dengan lebih baik.

Contohnya, di masa depan ketika ada seorang anak bertanya pada kakeknya apa yang dimaksud dengan kata sepur lalu dijawab asêp e mêtu ndhuwur, akan mendapat informasi bahwa di jaman dahulu kereta api ada asapnya yang keluar lewat atas. Hal itu karena jaman dahulu kereta api bekerja dengan mesin uap, tidak dengan tenaga listrik seperti di masa sekarang.

Nah, keratabasa dari hampers tadi termasuk hoax, bukan? 😀

6 Comments

  1. Owalah…. Itu to hampers-hampers yang dibilang orang-orang. 😀 Makasih, Mas Iwan, sudah memberikan pencerahan. 🙂

    Soal keratabasa ini, saya jadi inget kodok. Dulu temen pernah bilang kalau kodok ada teko-teko ndodok. 🙂

  2. Riza Firli

    kalau saya bilangnya parsel 😀

  3. Zam

    soal keratabahasa, orang Jawa ini memang sangat pandai bikin sambungannya.. aku pas pertama dengar istilah “hampers” ini malah mengira “hopok”.. 😆

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.