Sumonar Lampor-by-Anung-Srihadi-x-Ruly-Kawit-x-Dani-Argi

Kemarin Ada Lampor di SUMONAR!

SUMONAR yang merupakan festival yang nyaris identik dengan segala macam hal yang berbau teknologi tinggi dan mutakhir, ternyata bisa juga dimasuki unsur-unsur klenik, yaitu LAMPOR.

Unsur-unsur itu tampil sebagai salah satu karya video mapping yang dipresentasikan kemarin tepat di malam Jumat, 1 Agustus 2019, oleh Ruly “Kawit” Prasetya, Anung Srihadi, dan Dani Argi.

Menurut Ruly, melalui karya ini mereka ingin menyampaikan tentang salah satu kisah mitos legendaris masyarakat Yogyakarta yang saat ini sudah mulai terlupakan. Ia berkisah, Lampor adalah pasukan dari laut Selatan yang melakukan perjalanan menuju Utara, yaitu Gunung Merapi. Dalam perjalanannya para pasukan tersebut selalu menggunakan jalur sungai yang membentang di Yogyakarta. Seperti Kali Code, Winongo, maupun Bedog.

Sumonar Lampor-by-Anung-Srihadi-x-Ruly-Kawit-x-Dani-Argi
Sumonar: Lampor by Anung Srihadi x Ruly Kawit x Dani Argi

Melalui karya video mapping “Lampor” ini, mereka ingin kembali mengisahkan cerita ini dengan karya yang  diharapkan akan bisa lebih mudah untuk dicerna oleh masyarakat, terutama generasi mudanya.

Dalam karya berdurasi sekitar empat menit tersebut, Ruly “Kawit” Prasetya, Anung Srihadi, dan Dani Argi memperlihatkan beberapa hal yang bermuatan kritik terhadap sesuatu yang terjadi pada sungai yang ada di Yogyakarta saat ini. Misalnya saja seperti ornamen-ornamen sampah berserakan yang mereka gambarkan di dalam karyanya. Dan hal inilah yang perlu diketahui oleh masyarakat Yogyakarta bahwa sungai bukanlah tempat untuk membuang sampah.

“Misalnya saja kita bayangkan jika Lampor itu memang ada, saat sampah dibuang sembarangan dan bermuara di laut Selatan, para “penghuni” laut Selatan pasti akan marah. Tak hanya itu, dalam kenyataannya jika memang sampah itu dibuang ke sungai, biota-biota di laut pun akan sangat terganggu keberlangsungan hidupnya. Dan kami berharap, melalui karya video mapping “Lampor” ini masyarakat yang tidak tahu tentang kisah ini menjadi tahu dan tidak melakukan sesuatu yang tidak seharusnya mereka lakukan pada sugai,” jelas Ruly.

Untuk makin membuat karya ini semakin terasa mistis, mereka menggaet Paksi Laras Alit untuk mendramatisir karya tersebut dengan sajian audio yang mampu membuat bulu kuduk berdiri.

Selain pertunjukan video mapping, SUMONAR juga hadir dalam bentuk pameran instalasi seni cahaya yang bertempat di Loop Station dan masih terbuka untuk umum hingga tanggal 5 Agustus 2019. Agenda selanjutnya dari SUMONAR adalah Creative Sharing bersama Ican Agoesdjam, Isha Hening dan Kongfoo Motion, yang akan diadakan pada 4 Agustus 2019 di Museum Sonobudoyo.

Pertunjukan video mapping selanjutnya dilangsungkan pada 5 Agustus 2019 di Gedung Bank Indonesia dan Kantor Pos Besar Yogyakarta sekaligus menjadi Closing Ceremony SUMONAR 2019. Informasi lebih lanjut dapat mengikuti kanal resmi di www.jogjavideomapping.com dan akun Instagram @sumonarfest.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.