October 31, 2020
Nasi Bungkus

Nasi bungkus sebagai media perlawanan

Nasi bungkus dengan berbagai variannya yang umum ditemui, usut punya usut, ternyata juga sebuah media –atau setidaknya– simbol perlawanan lho.

Mungkin banyak yang menganggap ini mengada-ada dan hanya sebagai sebuah sarana membuat judul yang click-bait. Tapi sabar, tunggu dulu. Ha mbok yakin ini bukan yang seperti itu.

Jadi, jangan buru-buru ditutup tab-nya, ya.

Nasi Bungkus
“Nasi Bungkus” by lulun & kame is licensed under CC BY-NC-SA 2.0

Nasi bungkus, memang tidak tampak se-heroik Mbak-mbak yang fotonya sedang pegang megaphone di tengah aksi kemarin dan menjadi viral.

Tidak pula penuh kenangan romantis masa perjuangan seperti yang dimiliki rantang.

Namun perannya di ajang perebutan kepentingan dan kekuasaan tidak serta merta bisa diabaikan begitu saja. Meskipun itu sangat samar. Bukan karena nasi bungkus kurang rebel, tapi lebih karena kebanyakan orang-orang selama ini beranggapan, “Nasi bungkus kan cuma buat makan biar kenyang?”.

Di balik nasi Padang yang dibungkus

Tidak percaya? Lihat saja bagaimana porsi Nasi Padang yang dibungkus lebih banyak barang setengah sampai satu centong nasi khas rumah makan Padang dari batok kelapa itu.

nasi padang dibungkus
“Essentials.” by Andi Saleh is licensed under CC BY-NC-ND 2.0

Jadi kalau makan di tempat, piring biasanya hanya diberi nasi satu centong batok kelapa. Satu centong nasi di piring ini dianggap cukup untuk meladeni berbagai lauk pauk berbumbu rempah menggoda dan kuah santan menggairahkan.

Sehingga kalau misalnya si nasi di atas piring mulai kewalahan karena duluan habis ketimbang lauk, si konsumen yang sedang semangat-semangatnya bersantap itu tinggal mengangkat tangan memanggil pegawai rumah makan Padang, kemudian bilang, “Tambo ciek, da!”

Hal tersebut berbeda kalau nasi Padang itu ingin dinikmati tidak di rumah makan tersebut sehingga harus dibungkus dulu.

Pegawai rumah makan tersebut, biasanya akan memberikan satu setengah sampai dua centong nasi, sebelum kemudian ditambah lauk pauk, pucuk ubi, kuah santan, dan sambal hijau yang biasanya pedasnya segar tidak gahar.

Tentu saja tindakan ini membuat kuantitas nasi yang dibungkus jadi lebih banyak ketimbang nasi yang dihidangkan di tempat. Belum lagi kalau dapat pelayan yang sangat baik hati, yang setelah memberikan takaran nasi ekstra, masih menambahkan ekstra bumbu rendang, sayur nangka, dan kadang-kadang remukan gorengan yang masih tersedia.

Konon, ada beberapa alasan mengapa nasi Padang dibungkus lebih banyak ketimbang makan di tempat.

Ada yang menghubungkan dengan sejarah masa penjajahan dahulu, ketika rumah makan Padang hanya didatangi orang-orang kaya dan pejabat-pejabat kompeni. Sehingga meskipun relatif murah dibanding warung lain, rakyat biasa tidak nyaman makan di rumah makan itu.

Karena itu si pemilik warung Padang memberikan porsi lebih jika ada rakyat biasa beli nasi Padang dibungkus di warungnya. Selain sebagai bentuk solidaritas sesama pribumi, tindakan ini juga didasari anggapan umum bahwa kalau beli untuk dibungkus dibawa pulang, biasanya untuk jatah makan lebih dari satu orang.

Bayangkan, entah sadar atau tidak, dalam kasus rumah makan Padang, nasi bungkus bisa jadi simbol sekaligus sarana literasi.

Setidaknya tentang adanya perbedaan kelas dan timpangnya pembagian sumber daya, dalam hal ini nasi. Karena kalau porsi untuk dibungkus tak ditambah, maka 1 centong nasi di rumah makan bisa dinikmati satu orang saudagar atau pejabat kompeni. Sementara kalau dibungkus (tanpa ada penambahan nasi), 1 centong nasi itu ternyata untuk jatah setidaknya 2 orang.

Nasi Jinggo, sega kucing angkringan Jogja, dan hik Solo.

Demikian pula dengan nasi bungkus versi lain. Seperti sega kucing a la warung angkringan di Jogja atau hik di Solo, dan nasi jinggo di Bali.

Bukan, bukan tentang nasi jinggo, sega kucing, dan hik adalah “jajanan untuk kaum marjinal elit (ekonomi sulit)”. Sebab melihat perkembangan sekarang, orang-orang berada juga banyak yang nongkrong di angkringan dan hik.

Selain itu kalau niatnya ingin kenyang, biasanya satu bungkus nasi-nasi mungil ini kurang terasa “nendang”. Jadi perlu setidaknya 2 – 3 bungkus lagi. Secara rupiah kalau dihitung angkanya mendekati biaya makan di warung biasa. Jadi kurang lebih ya sama saja.

Sega Kucing khas angkringan
Sega Kucing Angkringan Jogja

Namun demikian, sebagai nasi bungkus, sega kucing dan nasi jinggo mewakili simbol sekaligus pernyataan sederhana tapi penting yang sayangnya kurang diperhatikan.

Simbol dan pernyataan sederhana tapi penting itu adalah: Makan secukupnya, kurangi sampah makanan!

Kemasan nasi bungkus yang mungil-mungil tersebut, secara tidak langsung membuat pembeli mengukur diri. Kira-kira berapa bungkus akan disantap.

Ada pembeli yang beraliran langsung ambil 2 atau 3 bungkus nasi angkringan atau hik tergantung berbagai tipe nasi angkringan yang tersedia. Apakah teri sambal, kering tempe, telur sambal, dan yang lainnya.

Ceritanya mau memadupadankan lauk-lauk tersebut, kemudian menyantapnya. Karena memang paduan teri sambal dan kering tempe sangat menarik sebagai teman menyantap dua bongkah kecil nasi angkringan.

Kalau kurang atau merasa jatuh hati pada nasi angkringan dengan lauk tertentu yang baru saja tadi disantapnya, pembeli ini baru akan mengambil lagi.

Ada pula yang lebih konvensional dengan mengambil satu dulu, setelah habis baru ambil bungkusan nasi lagi. Aliran dan irama menyantapnya lebih tenang namun stabil. Hingga tak heran jika ketika sadar, 4 – 5 bungkus nasi angkringan sudah tandas disantap.

Manapun aliran yang dianut dalam persantapan nasi bungkus mungil-mungil tersebut, semuanya bermuara ke hal yang sama. Hampir seluruh pembeli yang menyantapnya, selalu menghabiskan makanannya.

Sehingga, dibanding tempat-tempat lain yang menyediakan layanan menghidangkan makanan, bisa dibilang nasi bungkus mungil-mungil ini mampu menghindarkan para pemilik warungnya sebagai penyumbang sampah makanan terbesar.

Dan sekadar informasi, menurut The Economist Intelligence Unit tahun 2016, Indonesia menjadi penyumbang sampah makanan terbesar ke-2 di dunia dengan memproduksi rata-rata 300 kg sampah makanan setiap tahunnya. Sementara di sisi lain, di periode 2016 – 2018 menurut IDB dan IFRI, terdapat 22 juta penduduk Indonesia kelaparan dan malnutrisi.

Bahkan, sampai tahun 2020, Indonesia menghasilkan sampah makanan hingga 13 juta ton per tahun.

Apalagi menurut Suara.com makanan yang terbuang di Indonesia jika dikumpulkan dapat dikonsumsi oleh 11 persen penduduk dari total populasi Negara Indonesia, atau sekitar 27 juta jiwa.

Menariknya lagi adalah, para konsumen nasi jinggo, sega kucing, sega hik, dan nasi-nasi bungkus mungil lainnya tidak sadar kalau mereka berjasa besar dalam mengurangi angka food waste. Baik dari sisi konten makanannya sendiri maupun dari sisi kemasan yang sangat mudah terurai secara alami.

Terus, yang jadi penyumbang angka food waste terbesar siapa dong?

Yang jelas menurut saya juga bukan Ibu Rumah Tangga, sebab entah kalau di kota besar, kalau di kota kecil dan desa-desa, para ibu itu punya jurus jitu menghangatkan makanan sisa kemarin atau mengolah sisa makanan kemarin jadi hidangan baru layak santap.

Nasi Bodrek – Ketapang Banyuwangi

Oh, jadi ingat. Di daerah Ketapang – Banyuwangi, ternyata ada juga nasi bungkus mungil yang keliatannya lebih mendekati nasi jinggo ketimbang sega kucing.

Oleh para pembeli, nasi bungkus kecil ini dijuluki “Nasi Bodrek”. Alasannya karena nasi ini perannya mirip dengan obat sakit kepala “Bodrex”, yang fungsinya hanya sampai cukup menghilangkan sakit kepala karena lapar, dan bukan hingga dapat mengenyangkan perut. Jadi kata kuncinya adalah “cukup”.

Kalau panjang umur dan panjang niat, mungkin besok akan dilanjutkan dengan peran nasi bungkus dalam sebuah aksi massa.

temukonco

husband | food-lover | good-listener | secret-keeper | story-teller | TemuKonco Podcast | merindukan ngopi a la kopi tiam | lengkap dengan roti sari kaya | dan telur setengah matangnya

View all posts by temukonco →

7 thoughts on “Nasi bungkus sebagai media perlawanan

    1. Saya kemarin siang menemukan fenomena yang menarik, Paman. Jadi mungkin karena sedang jaman ekonomi sulit,ternyata nasi yang dibungkus dari warung nasi Padang dekat rumah porsinya jadi mengecil. Setara dengan kalau makan di tempat. Usut punya usut, nasi yang dibungkus tetap dapat dua centong nasi. Hanya saja ternyata ukuran centongnya yang diperkecil. 😀

  1. NGomongin nasi bungkus, ternyata gitu yaa pak sejarahnya. Memang bener sih, sampe skrng, kalo kita beli nasi bungkus, pasti nasinya jadi lebih banyak. Btw, aku beneran jadi ngiler nih ini, jd laper hhaha

    1. saya juga pas nulis ini ya mendadak pengen nasi bodrek ini. rasane cen unik tenan e. bener-bener buat obat pusing saja. kecuali kalau kita ambil lebih dari satu bungkus lho ya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.