“Patah Hati itu Asu” single Akadama yang digarap keroyokan dan penuh paksaan

“Patah Hati itu Asu” single Akadama yang digarap keroyokan kemarin tayang di kanal YouTube Musik Jogja, sebuah kanal milik para pengelola akun Instagram dengan nama yang sama.

Alasan utama meluncurkan “Patah Hati itu Asu” di kanal YouTube Musik Jogja adalah karena Akadama tidak memiliki kanal YouTube sendiri.

Lagu yang kerangkanya digarap Akadama menggunakan aplikasi Garage Band di ponsel ini, pada bagian gitar diisi oleh Gatra Laringal gitaris dan penulis lagu dari band GIE.

Uniknya isian gitar di single Akadama keempat setelah sebelumnya meluncurkan single Kundera dengan Portelea, Bungkam dengan U-MON (Wanirekoso dan Uncle T), serta Sakafaka bersama Borje ini, dilakukan Gatra hanya dalam satu kali take.

Hal tersebut bukan lantaran dalam satu kali take, Gatra Laringal yang Oktober 2020 lalu juga baru saja meluncurkan “Owalah adalah Berkah” sudah puas dengan hasilnya, melainkan karena unsur pemaksaan dari Akadama sendiri.

“Saya enggak dibolehin mengulang, bedebah memang dia ini, sudah maksa, suka-suka pula,” ungkap Gatra Laringal.

“Patah Hati itu Asu” single Akadama
“Patah Hati itu Asu” single baru Akadama

Pemaksaan yang dilakukan Akadama dalam penggarapan single ini tak hanya berhenti di situ. Seorang jurnalis perempuan, Hanni Mitsurugi, yang sedang berkunjung ke Gotbluesyou Office (basecamp GIE) turut dipaksa mengisi suara pada bagian reffrain lagu yang dirilis di bawah bendera Siksa Mantan Indonesia ini.

Pengalaman yang hampir mirip juga dialami Kemal Akbar, drummer DOM65 yang secara dadakan diseret Akadama untuk me-mixing dan mastering lagu tersebut.

“Kita ni bingung, maksudnya dia sok-sokan jadi penyiar di awal lagu itu apa coba?” tanya Kemal mengomentari Akadama yang pada bagian awal lagu ini berbicara layaknya seorang penyiar radio.

Tentu saja dengan semua latar belakang kisah di balik pembuatan lagu ini, adalah hal yang tidak mengherankan jika artwork single ini juga hasil karya karena terpaksa dari seorang ilustrator sekaligus penulis Mojok, Azka Maula.

Akhirnya, hasil semua jerih payah dan paksa yang akhirnya lahir dalam bentuk lagu ini dalam pengakuan Akadama sendiri, “Akan didedikasikan untuk mereka yang tidak sempat memindahkan cinta ke kertas nota!“

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.