September 26, 2020

Pengemis-pengemis Lucu (2)

Sebenarnya , pengalaman pengemis-pengemis yang lucu itu bukan pertama kali saya alami.

Ketika saya masih mahasiswa dulu, saat parah-parahnya krisis moneter menimpa Indonesia, saya mengalami bagaimana rasanya melakukan pengiritan yang amat sangat supaya jatah dari orang tua yang mendadak harus disunat lebih dari separuh bisa untuk bertahan hidup selama sebulan.

Karenanya, kami para mahasiswa biasanya makan siang di Warung Bu Harjo yang terletak di sekitar Bulaksumur. Makanan di sini terhitung murah pada saat itu, makanya sering jadi tujuan mahasiswa untuk makan siang.

Dalam rangka penghematan, hampir setiap hari menu yang dipesan selalu sama, yaitu nasi, sayur, tempe dua, dan kerupuk.

Dulu, sayur sop ditambah sambel, adalah menu andalan kami saat ke Bu Harjo, karena selain lezat, harganya sangat bersahabat.

Memang, kadang-kadang kalau lagi ada tambahan rejeki, lauknya bisa berubah jadi telur dadar atau ayam goreng. Tapi itu sangat jaraaanggg sekali…

Nah, suatu hari ketika kami makan siang, di sini, ada seorang pengemis yang datang ke warung itu, namun tidak membawa tas atau karung gandum yang merupakan peralatan utama mereka ketika berdinas.

Kami tahu orang itu pengemis karena kami selalu menemuinya meminta-minta  di perempatan jalan yang selalu kami lewati saat pergi dan pulang kampus.

Nah, melihat pengemis itu tumben-tumbenan beroperasi sampai daerah Bulaksumur tapi tanpa membawa peralatannya, tentu ini menarik perhatian kami.

Karena konon biasanya waktu itu selain menjadi tukang becak, bakul  angkringan, tukang bakso keliling, atau penjual nasi goreng keliling, menjadi pengemis adalah salah satu bentuk penyamaran intel. Entah intel apa dan dari mana, yang jelas tahu-tahu nyangking mahasiswa yang sering berkata benar.

Ternyata pengemis itu masuk Warung Bu Harjo dan langsung mendatangi penjualnya. Kawan saya dan saya mengira adegan berikutnya yang akan terjadi adalah si penjual akan memberikan recehan pada si pengemis.

Ternyata eh ternyata, pengemis itu memesan makanan sebanyak lima bungkus, dan isi kelima-lima makanan yang dia pesan itu adalah nasi sayur dengan lauk tempe plus ayam goreng. Iya, ayam goreng..

Kami yang melihat kejadian itu misuh-misuh dengan seksama.

Bagaimana tidak, selama ini setiap melewati perempatan itu, seringkali kami memberikan uang recehan kami untuk pengemis-pengemis itu, walaupun kondisi kantong kami juga cekak karena krisi moneter.

Tapi ternyata para pengemis yang sering kami beri recehan itu sekarang malah makan dengan lauk yang belum tentu satu bulan sekali kami mencicipinya.

Dalam kondisi ini petuah “ikhlaslah jika sudah bersedekah”, tidak bisa diaplikasikan di sini. Sebab berarti yang kemarin-kemarin kami berikan dipandang pengemis itu bukan sedekah, tapi hasil dari korban yang kena tipuannya.

Ternyata pengemis itu bersama kawan-kawannya yang biasa beroperasi di perempatan jalan tersebut, juga merupakan kelompok pengemis yang terorganisir.

Konon mereka didrop oleh sebuah truk sekitar jam setengah lima pagi, kemudian mereka masuk ke sebuah ledok dekat perempatan itu untuk “merias diri”, agar penampilan mereka sebagai pengemis lebih meyakinkan, dengan berbagai macam trik dan beberapa device tambahannya.

Malamnya, truk yang tadi pagi mengantarkan mereka, kembali menjemput kelompok pengemis itu untuk pulang entah ke mana.

Kerabat saya juga pernah punya pengalaman dengan pengemis lucu.

Saat itu kerabat saya berhenti di lampu merah di sebuah pertigaan. Kemudian ada seorang ibu-ibu pengemis yang menghampirinya.

Kerabat saya yang baik hati itu, kemudian sibuk mencari-cari uang receh di kantong dan dompetnya. Tapi yang mengejutkan adalah, di tengah-tengah pencarian uang receh, terdengar bunyi dering suara handphone, dan ternyata itu handphone si pengemis tersebut.

Mungkin karena tengsin, pengemis itu langsung berlalu tanpa sempat menerima uang recehan dari kerabat saya, sambil berkata, “Maaf Mbak…”

 

temukonco

husband | food-lover | good-listener | secret-keeper | story-teller | TemuKonco Podcast | merindukan ngopi a la kopi tiam | lengkap dengan roti sari kaya | dan telur setengah matangnya

View all posts by temukonco →

2 thoughts on “Pengemis-pengemis Lucu (2)

    1. wah ndak tau juga e, lama banget ndak ke sana.. tur nek arep ke sana ki saiki ndadak muter-muter dulu e, gara-gara kampusnya udah dipagerin di sana sini..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.