TemuKonco

Bertemu teman, menemukan kawan

Sela

Surat Terbuka untuk Menkominfo Kabinet 2014 – 2019

laptop-lilin

Halo MENKOMINFO yang baru dilantik,

Saya keren ya, bikin surat terbuka ini di saat mungkin Anda belum tahu akan terpilih jadi salah satu menteri dalam kabinet yang akan bertugas dari tahun 2014 – 2019.

Bahkan, surat ini ditulis saat Anda belum tahu partai mana yang memenangkan pemilu 2014 dan siapa saja kandidat presiden yang akan berlaga di Pemilihan Presiden nanti.

Tenang saja, saya juga belum tahu kok.

Alasan saya bikin surat ini adalah saya berharap Anda dapat memberikan kemajuan pada bidang komunikasi dan informatika di Indonesia secara nyata.

Alasan yang nampaknya sederhana dan bahkan klise ya? Tapi mungkin karena nampak sederhana dan klise, maka seringnya harapan itu jadi disepelekan dan bahkan terlupakan.

Tapi efeknya disepelekannya harapan yang sederhana dan klise itu sangat nyata. Indonesia menjadi negara yang kecepatan Internetnya tidak bisa terlalu dibanggakan, jangankan untuk level dunia, di level Asia-pun masih kalah jauh dibandingkan negara-negara tetangga kita.

Kalau tidak percaya, Anda bisa melihat kondisinya sendiri untuk 30 hari terakhir di sini (yang saya harap, saat Anda telah menjabat, peringkat kita jauh lebih baik dari hari ini, yaitu peringkat 142 dari 188 Negara, hanya lebih cepat dari dua negara ASEAN lainnya, Laos dan Filipina).

Anda juga bisa melihat kondisi Intenet kita pada Quarter 3 2013 di sini di mana kita berada di atas India, tapi serangan ke Internet kita menduduki peringkat ke-2 setelah China. Bukan prestasi yang menggembirakan menurut saya sih.

Jadi, selain gaji dan karir Anda yang melompat dengan cemerlang saat diangkat jadi menteri nanti, pekerjaan rumah yang menumpuk siap menanti Anda, sehingga acara syukurannya mungkin tidak usah terlalu heboh dan berlama-lama, karena kelas menengah ngehe Indonesia yang beberapa diantaranya bahkan menjadikan koneksi Internet adalah kebutuhan pokok manusia setelah sandang, papan, pangan, listrik dan transportasi, akan selalu memantau kinerja Anda hampir 24 jam tiap hari.

Saran saya, karena permasalahan yang sifatnya teknis dan fisik sudah cukup menggunung, sebaiknya permasalahan yang sifatnya moral dan susila diserahkan pada mereka yang lebih berwenang, Menteri Pendidikan misalnya.

Karena selain itu bukan wewenang Anda, mencoba mengatasi dampak negatif Internet yang berkaitan dengan moral dan susila itu seperti membelah air dengan pedang. Sia-sia..

Sumber daya untuk NAWALA jika dialihkan untuk daerah-daerah yang belum tersentuh Internet, nampaknya lebih bermanfaat. Sumber daya di sini maksudnya ya ndak cuma servernya aja, tapi lebih ke biaya, tenaga, dan waktu.

Khawatir anak-anak membuka situs porno dan sejenisnya? Di situlah orang tua dan pendidik berfungsi kan? Kita tak bisa melarang atau bahkan mencoba menciptakan mitos “tidak ada situs porno” dengan melakukan pemblokan situs-situs tersebut.

Dengan berbagai cara, situs-situs semacam itu akan dapat melewati celah yang ada. Jangankan dunia digital yang serba maya ini, lha wong  koruptor yang badannya gede-gede itu dengan mudahnya mbludhus ke luar tahanan, bahkan ada buronan yang bisa lari ke luar negeri kan?

Kalau mau agak berpikir lebih berat sedikit, mungkin ada baiknya Anda meminta para staf ahli menyediakan atau memfasilitasi konten yang lebih baik dan lebih kaya untuk dikonsumsi masyarakat. Itu lebih efektif untuk meredam aliran situs-situs porno menurut saya.

Contoh betapa kekuatan konten ini bisa mengatasi situs porno adalah, bagaimana situs-situs sosial media dapat mendepak situs-situs porno dari papan peringkat lalu lintas bandwidth (oh iya, tolong jangan sampai salah ketik jadi “band with” ya. Please..), internasional. CMIIW.

Atau contoh yang lebih dekat dengan kita deh, di Indonesia. Anda tahu KASKUS kan? (Kalau sampai tidak tahu, saya ragu kapasitas Anda sebagai Menkominfo baru deh, sungguh..)

Singkatnya, KASKUS dulu adalah forum yang cukup terkenal dengan BB17-nya (dan Anda kudu tahu ini singkatan apa, beneran..), saat BB17 dihapuskan dari KASKUS, tak sedikit yang kecewa dan bahkan sok-sok meramal kalau situs ini tak bakal berumur lama karena penghapusan ini.

Namun kenyataan berkata lain, KASKUS masih tetap berdiri hingga sekarang dan menjadi forum terbesar se-Indonesia, tanpa BB17, dan konten-konten non-porno semakin banyak menghias KASKUS dengan penggemar yang kian bertambah tiap harinya. Silahkan cekidot gan, kalo tidak percaya…

Tapi apakah itu berarti forum semacam BB17 serta merta musnah di Indonesia? Tentu tidak, forum-forum tersebut tetap ada.

Namun, jumlah, kecepatan,  dan keragaman konten yang dimiliki situs-situs seperti KASKUS, yang disumbangkan oleh para membernya, yang membuatnya forum-forum seperti ini masih lebih sering diakses dan memiliki pertumbuhan konten yang lebih cepat ketimbang forum ala BB17.

Oh iya, jangan beralasan hal ini terjadi karena ada program NAWALA ya, jauh sebelum NAWALA diluncurkan, KASKUS sudah sedemikian populernya jika dibandingkan forum-forum porno yang kala itu dengan bebas diakses di Indonesia.

Dan, walaupun sekarang ada NAWALA, anak-anak muda itu masih bisa kok masuk forum-forum porno jika mereka mau.

OK ini mungkin bakal banyak kaskuser yang bilang kalo sebenernya ada yang masih posting BB tapi di tempat-tempat tersembunyi, tapi ketahuilah kaskuser, satu-satunya alasan saya nggak ngasih tahu tempat-tempatnya di mana adalah biar enggak pada dihapus postingya 😀

Salah satu konsekwensi logis yang harus dilakukan jika ingin menyediakan konten yang baik dan bermutu untuk masyarakat Indonesia tentu saja koneksi yang baik, lancar, dan cepat.

Karena saat ini konten tidak melulu berbentuk teks biasa yang besar datanya tak seberapa, tapi sudah membutuhkan koneksi Internet yang lebih cepat untuk dapat mengakses jurnal, ebook, audio, video, streaming, dan sejenisnya.

Itu semua perlu koneksi Internet yang lebih cepat ketimbang yang kita miliki saat ini. Tentu saja dengan harga yang terjangkau masyarakat, karena kita semua ingin informasi melalui Internet ini tersebar luas ke seluruh masyarakat.

Sehingga masyarakat menjadi lebih cerdas, kritis, dan memiliki wawasan lebih luas, jadi kelak lebih banyak masyarakat tahu bahwa makna “bingit” itu jauh berbeda dengan “banget“, serta lebih tepat dan cermat dalam menggunakan kata “galau“.

Jadi saya mohon Anda jangan sampai bertanya “Internet cepat untuk apa?” ke siapapun ya. Malu sama jabatan.. Bener..

Bukannya publik sensitif  (seperti gajah yang ditanya harimau tentang siapa yang paling jagoan di rimba dalam sebuah dongeng), dan tidak terbuka atas pertanyaan yang diberikan oleh pejabat.

Tapi pertanyaan seperti itu benar-benar tak layak disampaikan oleh seseorang yang memang tanggungjawabnya untuk hal tersebut.

Analoginya, itu sama seperti seseorang yang bertanggungjawab menata dan membangun jalan sebagai prasarana transportasi massal bertanya: Jalan raya yang mulus dan lancar buat apa?

Atau seperti orang yang bertanggungjawab terhadap jaringan dan kapasitas arus listrik untuk masyarakat menanyakan: Listrik yang lancar dan tidak “byar pet” buat apa?

Atau seperti seorang pelajar yang diberi saran untuk belajar agar pintar, bertanya: Memang belajar sampai pintar buat apa?

Sehingga, pertanyaan tentang “Internet cepat buat apa?”, yang sebenarnya itu adalah tanggungjawab Anda untuk menjamin kelancaran dan kecepatannya, namun kenyataannya kondisi Internet masih belum cepat, kalau sampai Anda tanyakan pada publik, sesungguhnya akan dianggap sebagai sebuah pertanyaan yang tidak pada tempatnya.

Singkatnya, kalau meminjam istilah anak-anak sekarang, itu sebenarnya bukan bertanya, tapi NYOLOT.

Jadi sekali lagi, mohon jangan sampai Anda bertanya seperti itu ya saat nanti bertugas sebagai MENKOMINFO.

Sebenarnya banyak yang mau saya sampaikan pada Anda, tapi sebaiknya nanti-nanti saja ya, saya kasihan kalau belum-belum Anda sudah saya berondong dengan berbagai macam keluhan seputar bidang kerja jabatan yang baru ini.

Mengakhiri surat ini, saya sekali lagi menyampaikan selamat kepada Anda karena telah menduduki jabatan MENKOMINFO ini, dan saya ucapkan selamat bekerja dan semoga kita semua menjadi lebih baik. Terima kasih.

Salam,

-temukonco-

30 Comments

  1. Akhirnya, Mas Iwan geregetan juga bikin ini. Hehehe…
    Padahal, kalau koneksi internetnya lambat, apa iya pak menteri bisa nulis tweet dengan lancar? eh.

    Padahal (lagi), kementerian lain justru menjalankan program Buku Sekolah Elektronik http://bse.kemdikbud.go.id/. Sudah berjalan dan semoga semakin dikembangkan. Tapi, kalau internetnya ndak lancar ya… bagaimana mau berkembang? Satu rumah, kok ora kompak ngono yo mas… piye le arep akur?

    • temukonco

      Hihihi.. saya cuman gumun, kok iso nganti semono ne lho.. semoga menteri yang akan datang lebih mengerti permasalahannya karena memang memiliki keahlian di bidang tersebut, sehingga bekerja dengan lebih baik ya. Aamiiin..

    • michan

      setuju banget..bagaimana saya dipusingkan harus donlod buku2 BSE krn buku di sekolah anak saya tidak mencukupi jumlahnya untuk anak satu kelas…hehe

      • temukonco

        kalau dengan kecepatan sekarang, kira-kira satu e-book perlu waktu berapa lama untuk mendownloadnya ya?

  2. Ada pepatah dari negara dimana matahari tenggelam, right man on the right place, itu bener sekali, dalam agama saya ada pepatah juga yg intiya lebih kurang sbb ” jika kamu mempekerjakan orang yang tidak menguasai bidang pekerjaan itu, maka tunggulah kehancuran (pekerjaan) itu”, lha kalau pakbose yg akan datang tidak mempertimbangkan hal ini ya harapan mas temu tentu hanya asa dan khayal belaka….

    • temukonco

      semoga saja pak bos e yang akan datang paham tenan jadi milih menteri cen berdasarkan kemampuan, bukan berdasarkan tawar-menawar politik dengan partai-partai pendukungnya. ben ra kawus usaha rakyat yang sudah ngebela-belain ke kotak suara 😀

  3. ya, kecepatan internet sudah menjadi kebutuhan yang krusial.. terus terang saya bekerja di sebuah startup konten multimedia, banyak yang masih mikir 1000x untuk streaming di youtube (ini channelnya youtube.com/yufidedu), bahkan kantor saya sendiri tidak cukup mampu untuk streaming video2 kita sendiri dengan lancar, kita masih belum mampu bayar mahal untuk internet yang supercepat (kita non profit), kita harus nunggu lama untuk bisa “berbagi” dan akhirnya program “mencerdaskan bangsa” juga semakin lambat.. #malahCurcol

    • aku sepakat sama mas nobi, ya kalau liat konten2 youtube menyedihkan dengan bandwith Insonesia saat ini.
      Ada yang berniat membuat livestreaming terhambat oleh kecepatan unggah, iya bagi pemain youtube (ceile ini istilah apalagi lah wik). kecepatan unggah yang stabil lebih penting daripada kecepatan unduh. apalagi unduh matu 🙁

      -sekian dwikm-

    • temukonco

      saya sudah meluncur ke youtube-nya Mas.. Bagus e.. Saya jadi pengen belajar matematika dan fisika lagi 😀 Dan channel seperti ini yang memang diperlukan pelajar dan orangtua pelajar (biar kalau ditanya anak-anak mereka, bisa menjawab dengan keren hahaha..) Semoga Internet bisa kian cepat dan murah, jadi niat Mas e berbagi semakin lancar terlaksana. Aamiiin..

  4. Rafli

    Dalam konteksnya, pemerintah lewat MENKOMINFO lah yang sebagai pengawas dan penganggungjawab dalam penataan infrastruktur secara merata di bumi Indonesia ini. Nah, penyedia internetlah yang merupakan target utamanya. saya harap jawaban yang dilontarkan lebih ditekankan lagi bukan sekedar wacana/teori semata melainkan lebih kepada penetapan prosedur di lapangan dengan tindakan preventif yang cepat dan tidak bertele-tele bagaimana membangun infrastruktur yang menunjang dan tidak sikut-sikutan antar penyedia internet. Itu yang harus ditekankan. Kenapa? pengguna internet di Indonesia berapa banyak sekarang? Penetrasi pengguna internet tiap tahun berapa besar lonjakannya? sekarang berapa banyak penyedia internet di Indonesia? berapa persen pemanfaatan backbone yang fleksibel untuk 1 saja perusahaan penyedia internet? apakah 1 jalur backbone sudah memadai? kenapa terlalu banyak penyedia internet yang monopoli lahan backbone, spektrum sinyal, dan infrastruktur lain dengan iklan-iklan yang menjamin mutu padahal berbalik dengan hasil yang didapat? kenapa pengawasan layanan mutu dari perusahaan penyedia internet terkesan lambat oleh pemerintah? Apakah lahan milik swasta diperhatikan juga? kalau sudah diperhatikan kenapa bisa terjadi lack of spectrum dan perebutan jalur yang sama? Di Indonesia ini banyak sekali operator selular dan penyedia internet. Tolong di awasi. Di indonesia ini banyak pemain-pemain IT ahli dan terampil yang perlu “dibudidayakan” untuk mendulang income/provit yang nantinya bisa dipakai untuk pembenahan infratrusktur IT kita. Mohon di perhatikan kembali. Karena pertanyaan yang dilontarkan saya rasa itu bukan sindiran, melainkan penegasan betapa “konyolnya” pernyataan untuk sebuah jawaban. yang dalam arti lain, silahkan sandingkan peran bapak dengan komposisi tanya-jawab yang PAS bukan KONYOL-KONYOLAN seperti itu!

    NB : Perhatikanlah sumber dayanya, sebelum menggali kedigdayaan. Kita punya banyak potensi yang Anda-anda para pemangku jabatan rakyat tidak tahu itu. Mainkan sumber dayanya kalau mau mendongkrak pertumbuhan IT kita. semoga sukses pak! 🙂

  5. temukonco

    hahaha.. panjang sekali komentarnya. saya sampai terpana setelah membacanya. semoga bisa jadi lebih baik ya.. terima kasih dan sukses selalu 🙂

  6. 64kbps aja ya 😀

  7. Beginilah kalau seorang mentri dipilih secara random, apa yang harus jadi tanggung jawab kementriannya aja dia masih nanya sama yang notabene bayar gajinya. :)).

    Kan seharusnya dia jauh lebih pintar dari kita2 makanya dia kepilih jadi mentri 😀

    • temukonco

      sabar bro.. sabaar.. ini.. ini.. minum air putih dulu biar tenang.. 😀

  8. Ending nya kalau saya selalu berharap pada celah profeder untuk menikmati freedom, karena kepada siapa lagi ane bisa berharap :mrgreen:

    Mungkin kalau harapan ane selain kenceng yang lebih utama adalah merata dulu, kalau bener2 semua wilayah indonesia ini tersambung koneksi internet. ane tidak bisa membayangkan bagaimana semua ilmu bisa terdistribusi. bagaimana penghematan di dunia pendidikan akan terjadi, tersambung aja dulu deh gak usah kenceng pasti akan banyak yang bersyukur.

    Saya pernah 6 bulan di jambi koneksi naudubillah cuma dapet GPRS, smartphone gak ada gunanya 😀 , tapi masalah terbesar karena listrik cuma dari jam 6 sore – 6 pagi jadi kalau siang batre Hp abis mau dapet HDSPA juga gak ada artinya :mrgreen:

    Tapi kenyataanya listrik aja masih belum menjangkau seluruh indonesia apalagi ya internet. Merdeka buat orang pedalaman adalah ketika bisa merasakan air bersih, jalan yang layak, listrik yang stabil dan koneksi yang tersambung :mrgreen:

    Semoga yang 2014 – 2019 bisa ngatasin 😉

    • temukonco

      Aammiiiin… Saya juga pernah merasakan seperti itu e Mas.. Wah bener-bener melihat dengan mata kepala sendiri ada daerah yang jangankan Internet, lha wong listrik dari PLN aja tiap hari kecuali hari libur/Minggu, mati mulai sekitar jam 8 hingga jam 5. Kalau hari libur/Minggu, mati mulai jam 1 siang dan jam 5 nyala lagi. Kuwi tiap hari.. 🙁

  9. Mantap pakdhe…

    Cuma sedikit koreksi, Nawala sih gak dibiayain Kominfo. Itu inisiatif teman2 ex AWARI, independen, jadi gak pake duit Kominfo. Program Filter yang dikelola dan dibiayai Kominfo namanya Trust Positif,
    Data di Trust+ dan Nawala itu juga berbeda.

    *berharap Menkominfo baru mau membaca surat ini*

    • temukonco

      Ah iya, itu yang sebenarnya bagi saya agak membingungkan Mas. Di satu sisi saya pernah denger kalo NAWALA itu bukan program pemerintah dan tidak dibayai pemerintah. Sehingga termasuk masyarakat, bukan pemerintah berwenang.

      Nah yang jadi pertanyaan saya, gimana ceritanya kok bisa masyarakat biasa, melakukan sensor terhadap informasi yang hendak diakses masyarakat lain dengan NAWALA ini.

      Saya jadi berpikir, kalau gitu caranya, apa bedanya NAWALA sama ormas-ormas yang sering seenaknya mengadakan sweeping di restoran-restoran atau tempat-tempat hiburan malam itu? Kan sama-sama bukan pihak yang berwenang?

      Tapi terlepas dari itu, maturnuwun sekali atas masukan dan pencerahannya nggih Mas 🙂

      • Bedanya Nawala gak maksa mas, itu kan opsional. Kalo yang sweeping itu kan maksa. Saya sendiri pasang Nawala, karena takut anak2 ke klik gak sengaja masuk ke situs yang gak genah. Dan mereka lebih terbuka dibanding Trust+. Permasalahannya banyak yang mengkambinghitamkan Nawala ketika terjadi kasus pemblokiran, padahal provider pakenya data dari Trust+ bukan Nawala, ini saya udah menemukan beberapa kasus dari beberapa provider. Dan Nawala juga jauh lebih terbuka untuk komunikasinya dibanding Trust +, sy sering berdiskusi dengan team Nawala jadi tahu banyak (tapi bukan sama yg ngotot2an di FB yah :)). Mereka jg punya SLA yg jelas jika ada pengaduan.

        Tapiiiii… saat ini ada rencana permen untuk mewajibkan Trust Positif digunakan oleh semua ISP. Ini nih yang kalau aturan dan prosedurnya gak jelas bakal bisa jadi kacau. Tapi kalau jelas maka kita jadi tahu harus protes kemana, gak kaya sekarang yang saling salahkan. Kita pantau bareng mas ketika Permen ini keluar untuk Uji Publik. ICJR udah duluan menentang ini: http://icjr.or.id/imdln-dan-icjr-tolak-rancangan-peraturan-menteri-kominfo-tentang-penanganan-situs-internet-bermuatan-negatif/

        • temukonco

          wah informasinya ini mencerahkan tenan.. maturnuwun Mas.. Semoga menteri yang akan datang tidak melanjutkan rencana Permen ini, sebab sangat rawan disalahgunakan oleh pihak yang berkuasa e…

  10. mungkin pikirannya pak mentri adalah internet cepet itu buat donlot aneh-aneh atau buat melakukan aneh-aneh setelah kerjaan selesai. (kalaupun buat aneh-aneh itu jane mung bonus to mas? situ mesti setuju sama saya. hahahaha ).

    mungkin agak wagu kalau ngomongin internet cepat buat apa, sakjane memang buat apa? wong infrastruktur di Indonesia wae ambyar ndak karu2an kok. atau memang seperti halnya pernah salah satu orang yang bekerja di provider bilang kalau orang Indonesia itu semacam abusing internet atau provider(mobile broadband tapi dipake buat rumah dan dipanjer) tapi menurut saya kok wajar, wong jaringan di Indonesia ndak merata, daerah-daerah dikuasai pemain lama, pemain baru semacam Fastnet dll itu cuman di bagian bagian daerah saja. jangkauan minim.

    akhirnya ya mbulet nyalahin satu sama lain sih menurut saya, akhirnya saya cuman balik menerima wae apa adanya. Seperti kata Rasarab, kalau ada celah ya dipake, kalau ndak ada sepertinya kudu menunggu kapan waktu itu datang, seperti halnya daster mas.. aku akan menunggu wanita berdaster itu datang membangunkan saya di pagi hari nanti.. *halah*

    • temukonco

      rembukan panjang lebar, akhir-akhir e ya bali meneh nek ra bab bidan atau perawat, ya bab daster.. :))

  11. Zam

    INI INTERNET DIPAKE BUAT NGEBLOG BUKANNYA BACA DATA PENELITIAN ATAU TELEKONFERENS! GAK PRODUKTIF!

    *ngakak*

    • temukonco

      SITU JUGA, INTERNET DIBUAT KOMEN BLOG NGGAK JELAS BUKANNYA DONLOT JURNAL LEWAT EMAIL. DASAR KONSUMTIF!

      *bwahahahaha*

  12. godril

    Jawaban klise:

    tapi posisi indonesia masih lebih bagus dari Maldives, Honduras, NIcaragua .. dst .. *isi urutan negara > 141*

  13. hush

    mungkin kita kudu lebih selo dengan memberikan alternatif calon menkominfo ke pemerintah secara brutal om.. mungkin dg cara kita gencarkan hestek #rasarab4menkominfo atau sebangsa gitu, biar pemerintah kelingan nek rakyat kecil ngamuk tu mbahaya.. bisa2 produksi daster diboikot sama pengusaha kecil.. *opotoh
    pikiran itu semua keluar amerga, saya janjane mikir, itu carane milih menteri ki kepiye.. opo karo pingsut, sing menang milih dadi menteri opo.. lha dulu yg gencar bab telematika ki om kumis je, kok bukan dia yg jadi menkominfo, malah jadi mentri baliho..
    weslah, ndak kefilter tim trasples, mengko wordpress iso diblok 🙁

    • temukonco

      kita gencarkan Rasarab, Kang Lantip, atau Mas Bernad sebagai Mekominfo Muda penuh dinamika dan vitalitas? 😀

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Theme by Anders Norén