Kebiasaan menikmati soto tanpa kecap sebenarnya sudah jadi kebiasaan lama, jadi bukan dalam rangka “menyadarkan” teman saya yang ada di tulisan tadi pagi itu.

Tapi memang dahulu kala sekali saya juga melakukan persis seperti dilakukan teman satu itu. Selalu menambahkan kecap ke hidangan-hidangan yang dirasa layak dibubuhi kecap. Mulai bakso, nasi goreng, telur rebus setengah matang, telur mata sapi setengah matang, bubur ayam, bubur ayam Samarinda, dan tentu saja soto (dan maaf, rendang bukan salah satunya yang dikecapin).

Sebagai orang yang dilahirkan di kota yang standar condiment meja-meja warung dan rumah makannya terdiri dari kecap manis dan kecap asin —selain tentu saja ada saus tomat, sambal, dan sejenisnya—, mungkin ini bisa dimaklumi.

Meramu banyaknya kecap manis dengan kecap asin di semangkuk soto sebelum diberi jeruk nipis dan sambal adalah keasikan sendiri, dan kepuasan ini menjadi makin paripurna saat setelah diicip, rasanya persis seperti yang dikehendaki.

Jadi nyaris setiap menyantap soto kuahnya berwarna cokelat gelap atau cokelat gelap kemerahan kalau menyantap bakso.

Saat pindah ke Yogyakarta, mau tak mau harus menghadapi kenyataan kalau di meja-meja warung makan dan restoran umumnya hanya ditemui kecap manis saja, tidak ada kecap asin karena untuk pengganti rasa asin beberapa warung menyediakan garam.

Padahal rasa asin yang ditimbulkan garam berbeda dengan yang dimiliki kecap asin, jadi agak sukar dipertukarkan keduanya. Apalagi secara fisik bentuk garam yang kristal kecil-kecil relatif lebih sukar menyatu dengan kuah soto atau bakso, ketimbang kecap asin yang sama-sama cair. Sementara, kalau nekat cuma membubuhkan kecap asin saja, rasanya menurut saya jadi aneh. Soto manis… (kayak kamu… halah)

Nah, mulai dari situ yang membuat (awalnya terpaksa sih) saya mencoba mencicipi soto atau bakso tanpa kecap. Sementara untuk jeruk nipis tetap digunakan. Selain agar rasa soto bisa agak lebih “ringan” juga konon jeruk nipis bisa mengurangi kadar kolesterol (maklum, umur…).

***

Sejak mencicipi soto dan bakso (juga mie ayam) tanpa kecap (dan saus), lama-lama terbentuk 3 kategori soto berdasarkan pengalaman dan pendapat saya sendiri, jadi boleh setuju, boleh tidak.

Kategori pertama, adalah soto yang tanpa dibubuhi apapun entah itu kecap, jeruk, atau sambal, rasanya sudah mantap sekali. Biasanya ini ditemukan di warung-warung soto yang bener-bener niat dan serius dalam mengolah kaldu yang menjadi kuah soto tersebut, ditambah bahan-bahan pendukung lain yang masih segar. Mungkin karena itulah biasanya soto-soto ini kalau tidak harganya yang mahal, ukuran porsi-nya relatif lebih kecil dari soto-soto lain.

Kategori kedua, adalah soto seperti andalan teman saya itu. Saat tidak dibubuhi apa-apa rasanya biasa saja cenderung hambar. Tapi saat sudah diberi tambahan jeruk dan sedikit sambal, rasanya jadi lebih oke. Well dug!

Kategori ketiga, adalah soto yang walaupun sudah ditambah jeruk dan sambal, rasanya masih terasa belum cocok. Biasanya kalau menemui soto seperti ini, sambalnya akan saya tambah biar makannya tampak semangat dan menggebu-gebu.

***

Tentang kebiasaan kita membubuhkan kecap dan saus ke makanan ini pernah jadi pertanyaan seorang mahasiswa Jepang. Ia tak habis pikir bagaimana seseorang itu bisa menentukan banyak sedikitnya kecap atau saus yang dimasukkan ke soto/bakso/mie ayam-nya tanpa mencicipi rasa hidangan tersebut terlebih dahulu? Bagaimana kalo ternyata soto/bakso/mie ayamnya dari tukang masaknya udah manis sekali atau pedas sekali? Kan rasanya bisa ambyar?

Ada pula seorang kawan yang pernah ditegur oleh kenalannya orang Italia saat melakukan atraksi tuang kecap dan saus ini. Karena menurut si orang Italia itu, penggunaan saus ataupun kecap yang terlalu banyak pada sebuah hidangan yang disuguhkan (terutama di restoran-restoran besar) tersebut, bisa dianggap sebagai bentuk penghinaan halus atau tanda kita tidak menghargai jerih payah sang koki dalam menyiapkan dan mengolah hidangan yang disuguhkan pada kita.

Tapi kalau di warung-warung soto, keliatannya para tukang masak dan penjualnya keliatan tidak perduli itu deh ya? 😀