Hal yang paling sukar diungkapkan dengan kata-kata adalah pengalaman menyaksikan dan merasakan pergantian hari siang menjadi malam atau sebaliknya di alam terbuka.

Bukan, maksudnya bukan sekadar menunggu dan menikmati matahari terbit atau terbenam saja. Tapi benar-benar mengikuti proses dari matahari terlihat penuh di sisi barat sampai kemudian langit menjadi gelap, atau menanti ketika langit masih gelap sampai matahari tampak terlihat penuh di atas cakrawala.

Mungkin buat beberapa orang, fenomena seperti itu tidak ada unik-uniknya sama sekali. Apalagi kalau tinggal di daerah-daerah yang tiap hari bisa menyaksikan sunrise dan sunset di pantai.

Tapi percayalah –setidaknya buat saya sendiri–, meskipun sudah berkali-kali menyaksikan keajaiban alam seperti ini, tapi tetap saja rasa kagum itu selalu muncul.

Rasa kagum dan takjub itu jadi berlipat ganda kadarnya kalau menyaksikan proses matahari terbit dan terbenam itu di daerah yang benar-benar sepi dan terpencil, yang kita tidak melihat sarana penanda waktu yang buatan manusia, seperti jam, alarm, atau siaran radio/televisi.

Sehingga secara mental saya jadi tidak “siap” dan “antisipatif” dengan perubahan alam yang terjadi. Itu membuat fenomena alam ini lebih menakjubkan.

Karena pemandangan yang dari terang benderang dengan langit biru perlahan-lahan berubah jadi ungu, jingga, biru tua, kuning emas. Kemudian itu terus perlahan-lahan berubah meninggalkan larik-larik lembayung kemerahan di langit yang kian gelap, sampai akhirnya benar-benar gelap gulita.

Selama waktu itu kita benar-benar terpesona dengan keindahan perubahan alam yang terjadi. Sampai-sampai saya jadi bertanya-tanya jangan-jangan apa yang dikatakan film The City of Angels (1998) bahwa sunset dan sunrise adalah saat para malaikat turun ke bumi dan menikmati keindahan ciptaan Tuhan itu, memang benar.