Bertemu teman, menemukan kawan

Dahulu, Sastra

Arti “bahagia” dalam budaya Jawa

arti bahagia dalam budaya jawa

Percaya atau tidak, sejauh yang saya tahu dalam budaya Jawa nampaknya tak mengenal konsep BAHAGIA seperti apa yang umumnya masyarakat masa kini bayangkan dan kejar.⁣ Setidaknya budaya para sesepuh dan orang-orangtua Jawa yang ada dan hidup di sekitar saya selama ini.

Awalnya sederhana, dengan seringnya berkeliaran di media sosial, saya iseng mencari arti “bahagia” dan padanannya dalam bahasa Jawa.⁣

Semangat iseng ini semakin berkobar mengingat beberapa bulan di awal 2020 ini, kita seolah bertubi-tubi dibenturkan keadaan-keadaan yang tidak bisa dibilang membahagiakan.

Tentu saja rujukan paling awal adalah Google Translate, yang menerjemahkan “bahagia” sebagai “sênêng”.⁣

Namun mengingat Google Translate tahun 2011 pernah menerjemahkan “Michael Jackson” dalam Bahasa Inggris menjadi “Didi Kempot” dalam Bahasa Indonesia, tentu saja saya tidak langsung percaya hasil terjemahan itu.

⁣Beruntunglah oleh Mas Fajar, seorang kawan, memberikan alamat situs Sastra Jawa yang memudahkan pencarian saya ini.

Ternyata ketidakpercayaan pada hasil Google Translate tadi cukup beralasan. Sebab menurut situs Sastra Jawa tadi, “sênêng” maknanya lebih ke “suka” atau “dhêmên” alias “rêmên”. Bisa pula dimaknai “bungah” atau “marêm”, yang bisa diartikan “senang” atau “puas”.⁣

Jadi lebih ke arah suka ke sesuatu hal. Misalnya “seneng es krim“, “suka soto”, “dhêmên Nella Kharisma”, dan semacamnya. Tentu saja makna ini tidak begitu pas dengan padananan kata “bahagia” yang umumnya dipahami.

“Bagya”. Seorang kawan memberikan alternatif lain tentang padanan “bahagia” dalam bahasa Jawa, yang langsung saya cocokkan di situs baru andalan tadi.

Hasilnya adalah, walaupun terdengar mirip dengan “bahagia”, ternyata maknanya lebih merujuk pada “bêgja” alias keberuntungan atau “slamêt” alias selamat.

Kalau begitu, di manakah letak arti “BAHAGIA” itu?⁣

Dalam beberapa hal, sebenarny Google Translate tak sepenuhnya keliru. Karena biasanya untuk membahasakan “kebahagiaan” orang lain (biasanya untuk anak-anak mereka), para orangtua tersebut lebih memilih kata “seneng”.

Contohnya pada kalimat: “Wong tuwa yèn wêruh anak e sênêng, ya mêsthinè mèlu sênêng.”⁣ (Orangtua kalau lihat anaknya bahagia, ya pastinya ikut bahagia.)

Sementara jika menyangkut diri sendiri, alih-alih bercita-cita untuk “berbahagia”, orang-orang tua dan sesepuh di lingkungan saya sejak masa kecil dulu ternyata lebih mengharapkan kehidupan yang “ayêm” yang kurang lebih bermakna “tenang”. Tak jarang juga sering ditambah dengan “têntrêm” yang kurang lebih bermakna “damai”.⁣

Jadi bukan “bahagia” seperti yang kerap dibayangkan orang-orang masa kini, yang nyaris identik dengan kemewahan, kegemilangan, dan gebyar harta benda mas picis raja brana.

Sejak 2019 yang baru lewat kemarin, ditambah 2020 yang nyaris separuh jalan kita jalani ini, saya mendapatkan pelajaran mengenai hal yang sudah panjang lebar saya ceritakan tadi.⁣

Bukan hanya pelajaran seputar memaknai kata-kata, bahasa, padanannya saja.⁣

Namun lebih dari itu, pelajaran tadi membuat saya berpikir untuk memikirkan ulang tentang cita-cita dan tujuan hidup yang akan dijalani dan dicapai kelak.⁣

Kalau kawan-kawan, lebih mengejar yang mana? Kebahagian, atau ketenangan dan kedamaian?⁣

2 Comments

  1. Zam

    apakah berarti bahwa orang jawa tidak mengenal kata bahagia? 🤔

    • Comment by post author

      bahagia seperti yang dibayangkan orang-orang jaman sekarang yang kesannya mewah, bergelimang harta, punya kuasa, dan berfoya-foya keliatannya enggak sih Mas.

      Tapi kalau yang dimaksud ayem tentrem, ada. Dan itu maknanya agak berbeda dari bahagia yang kita maknai di masa kini.

      Itu miturut penemu saya sih Mas. Sangat mungkin bisa luput. 😀

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.