October 28, 2020
nasi bungkus sega kucing

Nasi bungkus dan aksi massa

Nasi bungkus dan aksi massa sebenarnya tidak bisa dipisahkan. Alasannya apalagi kalau bukan nasi bungkus juga bisa berfungsi sebagai media perlawanan.

Mungkin ketika membaca judul di atas, yang langsung terlintas di pikiran adalah tentang “panasbung” alias “pasukan nasi bungkus”. Dan pikiran tersebut tidak salah sepenuhnya.

Sebab diakui atau tidak nasi bungkus (dan berbagai variannya baik dari sisi isi maupun kemasan) punya peran penting dalam aksi massa, setidaknya di Indonesia.

Sayangnya nasi bungkus seolah dipandang tidak penting atau bahkan sengaja dihindari, karena khawatir “menodai” aksi massa yang sedang dijalankan.

Seolah-olah kalau ada nasi bungkus terlibat dalam sebuah aksi massa, maka seolah aksi massa itu kehilangan “kesucian”-nya.

Lihat saja betapa istilah “panasbung” seolah memalukan dan memiliki makna negatif.

Untung istilah “disegani” yang kalau dalam Bahasa Jawa secara bebas diterjemahkan sebagai “diberi nasi”, tidak ikut-ikut kecipratan makna negatif itu.

Oh iya, untuk yang belum akrab dengan kata tersebut, “disegani” adalah istilah yang biasa digunakan mereka yang terlibat dalam sebuah event pertunjukkan sederhana. Begitu sederhananya, sampai-sampai para penampil di event tersebut, baik anak band, penyanyi, penari, atau bahkan MC, tidak mendapatkan bayaran berupa uang.

Sebagai gantinya, panitia acara sederhana ini biasanya menyediakan konsumsi komplit dari mulai minuman, snack, dan sega alias nasi (bisa kotak, bisa bungkus) bagi para penampil. Dari situlah muncul istilah “disegani”, yang maknanya tentu berbeda dengan kata “disegani” dalam Bahasa Indonesia. Dan semuanya baik-baik saja, senang, bahagia, dan puas karena pertunjukkan berlangsung lancar. Semuanya karena niat dan spirit yang ada di sana adalah untuk saling dukung dan bantu.

Ini akan berbeda pada event besar menampilkan bintang-bintang kelas atas dengan panggung gemebyar dan harga tiket masuk yang tinggi. Kalau sampai penyelenggara event tersebut menerapkan pendekatan “disegani” untuk para penampilnya, tentu akan mendapat pandangan kurang baik. Bahkan bisa jadi rasan-rasan alias gosipan di lingkungan para pekerja event.

Jadi sebenarnya sama sekali bukan “nasi bungkus” atau “nasi kotak”-nya (yang kalau di Jogja biasanya merk Olive Fried Chicken), yang jadi sumber gosipan, rasan-rasan, atau bagaimana sebuah event dipandang tidak “OK”.

Namun sebesar apa event-nya, siapa penampilnya, dan yang tak kalah penting adalah bagaimana penyelenggara menghargai para penampil yang memeriahkan event-nya tersebut.

Pentingnya nasi bungkus di aksi massa

Hal tersebut tidak jauh berbeda dengan hubungan aksi massa dan nasi bungkus (bisa juga nasi kotak, snack, air minum, dan sejenisnya).

Bahkan bagi orang awam yang sama sekali belum tahu menahu tentang aksi apa yang sedang berlangsung, bisa kemudian menarik sebuah dugaan yang masuk akal, jika mengetahui siapa atau pihak mana yang menyediakan nasi bungkus tersebut.

Kemudian setelah mengetahui siapa dan pihak mana penyedia nasi bungkus di sebuah aksi massa tadi, barulah rakyat awam bisa memilih akan berpihak di sisi mana.

Mungkin hal seperti itu juga yang kemudian membuat “panasbung” menjadi sebuah istilah yang memiliki kesan negatif.

Sementara di waktu dan tempat lain, tidak ada peserta aksi massa yang merasa malu atau tersinggung ketika sepanjang jalan yang dilalui aksi massa tersebut, warga menyediakan nasi bungkus, minuman, dan kudapan untuk mereka.

Tidak ada juga yang kemudian menjuluki para mahasiswa yang bergerak di tahun 1998 tersebut “panasbung” dengan nada yang kurang sedap didengar.

Padahal yang dibagikan ke peserta aksi massa, sama-sama nasi bungkus, lho.

Tampaknya itu bisa terjadi karena rakyat punya cara pandang dan pemahaman mereka sendiri tentang aksi massa, siapa yang mendukungnya (dengan mengetahui siapa penyedia nasi bungkus), dan apa kaitannya dengan kehidupan mereka sendiri sehari-hari.

Sialnya, penggagas “aksi massa” ada yang dengan cermatnya menutup informasi ke luar, sehingga rakyat tak dapat mengetahui dengan jelas siapa penyedia nasi bungkus aksi tersebut. Mungkin kondisi seperti ini yang diharapkan dari penggagas “aksi massa” model seperti ini.

Dan lebih sial lagi, ada penggagas aksi massa yang sibuk dengan gagasan-gagasan dan ide-ide besarnya sendiri untuk membela kepentingan rakyat. Sampai-sampai melupakan pentingnya nasi bungkus dari rakyat yang konon mereka perjuangkan.

Padahal nasi bungkus dari rakyat di aksi massa, adalah senyata-nyatanya bentuk dukungan dari pihak yang konon sedang diperjuangkan.

Memang untuk bisa sampai di tahap tersebut banyak kerja yang harus dilakukan, serta membutuhkan waktu yang tidak sebentar.

Sebab mau tidak mau si penggagas aksi harus sedikit demi sedikit dalam waktu lama memberikan penjelasan dan pemahaman tentang apa aksi yang sedang dan akan dilaksanakan, pentingnya apa, dan bagaimana itu memengaruhi hidup rakyat yang diharapkan dukungannya.

Dengan demikian sangat-sangat mungkin dari langkah awal hingga sebuah aksi massa berhasil, membutuhkan waktu yang lama. Bahkan sangat-sangat lama, sehingga penggawas awal ide gerakan massa ini, saat perjuangan mereka berhasil usia mereka sudah sangat tua untuk dapat duduk dan menjabat sebagai komisaris sebuah BUMN.

Karena tanpa semuanya tadi, mencoret-coret kain atau tembok, membakar ban, dan lain semacamnya itu alih-alih mencapai tujuan yang diharapkan dari aksi massa tersebut, yang ada malah memberikan banyak pekerjaan rumah baru bagi penggagas aksi massa.

Salah satunya adalah menjelaskan di sebelah mananya gerakan bakar-bakaran itu bisa membantu dan memperjuangkan rakyat?

Parahnya lagi, hasil bakar-bakaran dan rusak-rusakan itu dengan lihay digunakan pihak lain untuk memukul balik aksi massa tersebut, kemudian memisahkannya jauh-jauh dari rakyat, yang konon mereka perjuangkan.

Sehingga, kalau seperti itu caranya, tak heran tidak ada nasi bungkus dari rakyat untuk aksi massa waktu itu dan mungkin di waktu-waktu mendatang.

Eh tapi bener kan, minggu lalu itu enggak ada nasi bungkus dari rakyat untuk yang melakukan aksi massa?

temukonco

husband | food-lover | good-listener | secret-keeper | story-teller | TemuKonco Podcast | merindukan ngopi a la kopi tiam | lengkap dengan roti sari kaya | dan telur setengah matangnya

View all posts by temukonco →

2 thoughts on “Nasi bungkus dan aksi massa

  1. saya jadi ingat dulu ada nasi ayam khas event, yaitu Yogya Chicken, yang selalu jadi sponsor kalo mahasiswa bikin event dan mengirim proposal.. nilainya biasanya berupa makan siang dari si sponsor.. 😆

    1. Bener Maaaas… Kalau ada sedikit tambahan bantuan dana dari kampus, agak naik tingkat dikit jadi gudeg telur 😀
      Tapi sekarang Yogya Chicken keliatannya sudah tergeser sama Olive dan Rocket Fried Chicken e Mas di sini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.