Olive Fried Chicken, Gudeg, dan Bakpia

Bisa jadi akan tiba saatnya gudeg dan bakpia tergeser oleh Olive Fried Chicken sebagai kuliner Yogyakarta yang dirindukan.

Itu nanti bisa saja terjadi saat nanti mahasiswa-mahasiswa sekarang ini sudah lulus dan kembali ke daerah asalnya. Gitu kurang lebih postingan yang saya unggah di akun instagram @temukonco beberapa waktu lalu.

 

Asal mula munculnya ide untuk mem-posting tulisan dan gambar paha ayam goreng a la Olive itu sepele sebenarnya. Karena saya melihat adanya kesamaan isi status  media sosial  mahasiswa-mahasiswa Yogyakarta yang sedang pulang kampung saat liburan tengah semester kemarin.

Isi status media sosial para mahasiswa itu yang banyak beredar di lini masa saya adalah “kerinduan mereka terhadap ayam goreng Olive”!

Buat kawan-kawan dari luar wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta yang mungkin belum tahu, “Ayam Goreng Olive” atau nama resminya “Olive Fried Chicken” adalah sebuah franchise fast food Indonesia dengan jualan utamanya apalagi kalau bukan ayam goreng.

Nampaknya kombinasi antara rasa yang sesuai selara, harga yang pas di kantung, serta lokasi yang tersebar di mana-mana sehingga mudah ditemui, membuat para mahasiswa jadi akrab dengan Olive Fried Chicken ini.

Jangankan mahasiswa, ayam goreng ini juga kerap jadi pilihan orang-orang kantoran kalau sudah bingung dan mentok tidak ada ide mau makan siang di mana.

Nah, kembali ke mahasiswa-mahasiswa yang sedang liburan di kampung halamannya tapi kangen dengan ayam goreng Olive karena tidak ada cabangnya di daerah mereka (kecuali Klaten).  Melihat status mereka di media sosial jadi terbayang, beberapa tahun lagi saat para mahasiswa ini sudah lulus keluar Yogyakarta dan jadi orang sukses. Jangan-jangan yang ada di kenangan mereka tentang makanan khas Yogyakarta, ya Olive Fried Chicken ini. Bukan gudeg atau bakpia.

Apalagi pas iseng saya tanya ke beberapa mahasiswa itu, dalam satu bulan kalau di Yogyakarta lebih sering makan gudeg atau ayam goreng ini? Jawabannya lebih banyak ayam goreng dan bahkan belum tentu sebulan mencicipi gudeg.

Demikian pula dengan bakpia. Amat jarang para mahasiswa luar Yogyakarta itu dalam sebulan beli bakpia. Kalaupun mencicipi bakpia biasanya karena diberi oleh orang lain atau oleh-oleh dari kenalan atau kerabat.

Jadi tidak salah kan kalau di masa depan, sangat terbuka kemungkinan makanan yang dirindukan para pemuda-pemudi lulusan perguruan tinggi Daerah Istimewa Yogyakarta bukan lagi gudeg dan bakpia, tapi Olive Fried Chicken?

Catatan:

1. Tulisan ini ha mbok sumprit sama sekali tidak berbayar ataupun dibayari oleh Olive Fried Chicken.

2. Kalau dua point catatan ini mendadak menghilang dari artikel ini, berarti Olive Fried Chicken sudah berbaik hari membayari. 😀 😀 😀

2 thoughts on “Olive Fried Chicken, Gudeg, dan Bakpia”

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.