Pernahkah mendadak jam 3 pagi ingin nongkrong di warung teh nasgitel? Atau jam 4 pagi menjemput tamu yang baru datang dari luar kota dan langsung ingin mencari tempat tongkrongan yang menyediakan teh nasgitel a la angkringan?

Jam-jam segitu di Yogyakarta biasanya memang jam-jam tanggung untuk cari angkringan atau lesehan. Karena mau ke lesehan, bakulnya sudah siap-siap menggulung tikarnya dan membersihkan lokasi berjualan semalam. Mau ke angkringan, biasanya sebelum kita sampai ke lokasi angkringannya, kita sudah duluan berpapasan dengan penjual angkringan yang mendorong gerobak kosongnya pulang.

Ada memang warung burjo 24 jam, tapi biasanya teh nasgitelnya kurang sip. Sementara kalau ke rumah makan waralaba yang buka 24 jam, selain tidak ada teh nasgitel di sana, juga kita yang enggak enak hati sendiri. Lha wong tamu datang jauh-jauh dari luar Yogyakarta, kok sampai di sini diajak makan di tempat yang nyaris bisa ditemukan diseluruh kota Indonesia.

Eh ndilalah beberapa bulan lalu ada seorang kawan yang memberitahu kalau di daerah selatan Pojok Beteng Kulon ada warung angkringan teh nashgitel yang baru mulai beroperasi jam 3 dini hari. Lokasi persisnya ada di Jalan Bantul, sisi timur jalan, persis di selatan pintu gerbang gereja Pugeran, bertenda biru.

Sesungguhnya oleh si pemilik, warung ini tidak diberi nama, tapi oleh para pelanggan yang sering mampir di sini, ada yang menjulukinya “Warung Teh Dekok”, ada yang menamainya “Wedangan Pak Pur”, ada juga yang mengenalnya sebagai “Angkringan Pak Pur”.

Meskipun ada yang menjulukinya “angkringan” tapi jangan dibayangkan bentuknya sama seperti angkringan-angkringan lain pada umumnya. Setidaknya di sini tidak ada gerobak khas angkringan, karena hanya terdiri dari susunan meja-meja saja, serta ciri khas ceret telu yang biasa nongkrong di gerobak angkringan umum, tidak terlihat di sini.

Jika ada yang menyamakan ini dengan angkringan, selain teh nasgitel-nya yang yahud, mungkin karena sama-sama menggunakan tenda biru sebagai penutup warung ini.

Biarpun sama-sama teh nashgitel, cara penyuguhan teh nasgitel di warung ini juga berbeda dengan angkringan pada umumnya. Karena kalau di angkringan mainstream biasanya teh kental sudah disiapkan terlebuh dahulu di ceret blirik tanggung. Teh kental dari ceret ini yang dituangkan ke gelas barang seperempat gelas tinggi, kemudian baru ditambahkan air panas hingga penuh.

Nah, di warung Wedangan Pak Pur ini beda. Bisa langsung dilihat dari gelas tinggi yang digunakan menyuguhkan teh nasgitel. Bukannya gelas tinggi tapi gelas belimbing yang lebih pendek, jadi teh nasgitel untuk pembeli ditempatkan di situ.

teh nasgitel

Melihat ukuran gelasnya, jangan berpikir kalau teh yang disuguhkan hanya sebanyak gelas kecil tersebut. Sebab gelas belimbing berisi teh nasgitel yang siap minum itu ditemani cangkir cilik yang isinya teh daun yang baru saja disiram air mendidih sebelum diserahkan ke pembeli. Cangkir cilik ini dilengkapi dengan saringan kecil.

Cangkir cilik inilah yang nanti kita tuangkan ke gelas belimbing kita, kalau teh nasgitel isinya sudah habis kita teguk. Bahkan jika isi cangkir itu habis, kita bisa minta untuk kembali menuangkan air panas ke dalamnya.

Sehingga dari sisi kuantitas, jelas tak kalah dengan teh nasgitel a la warung angkringan mainstream kan?

Biar tidak kecele, Mas Warsono yang bertanggung jawab di bealik meja saji warung itu berpesan, kalau ingin ngopi dan ngeteh, jam 3 pagi kami sudah siap. Kalau ingin makan nasi bungkus dan jajan-jajan lainnya, biasanya baru datang sekitar setengah 4 pagi.

Asal-usul warung ini beroperasi di jam yang tidak umum itu, ternyata karena sejak awal beroperasi, niatnya untuk melayani para bakul dari luar kota yang akan pergi ke pasar.

Jaman dahulu jalan dan alat transportasi belum sebaik sekarang, maka para bakul harus mulai bergerak dini hari, agar bisa sampai di pasar sepagi mungkin. Sekitar jam 3 atau jam 4 para bakul sampai di lokasi warung teh nasgitel ini.

Di situlah Pak Pur, pendiri warung ini menjajakan dagangannya. Waktu itu tentu saja warungnya belum seperti sekarang ini. Karena Pak Pur berjualan dengan menggunakan pikulan dari rumahnya di sekitar daerah Jalan Wates.

Oh iya, jaman dahulu yang dimaksud di sini bukan hitungan 20 atau 30 tahun lalu, tapi pada jaman agresi militer, Pak Pur yang kala itu usianya 15 tahun, sudah mulai berjualan dengan pikulan.

“Jaman Pak Pur masih jualan, Jalan Bantul ini masih tanah dan masih ada rel kereta ke arah selatan menuju stasiun Palbapang.” kata Mas Warsono.

Tentu saja saat ini Pak Pur sudah pensiun, dan warung ini diteruskan oleh anak dan keponakannya, ya Mas Warsono itu, yang mengatakan warung ini beroperasinya sampai jam 2 siang atau sehabisnya makanan dan minuman yang dijual.

Jadi, kapan menyempatkan diri berkunjung ke sini?

Versi lebih lengkap dari tulisan ini dalam bahasa Jawa bisa dinikmati di tabloid JAWACANA edisi April 2018, yang dapat diunduh di http://bit.ly/JAWACANA-April-2018