Kalau googling keyword “kalabia”, yang akan muncul biasanya adalah situs kalabia.net yang isinya tentang Environmental Education & Conservation.

Pada beberapa baris kemudian berikutnya baru ditemukan informasi tentang kalabia sebagai salah satu jenis hewan laut.

Kalabia yang berkaitan dengan gerakan environmental education & conservation ini sebenarnya adalah salah satu daya tarik tambahan yang membuat semangat berangkat ke Papua jadi makin berkobar.

Karena dari situs tersebut dijelaskan sepak terjang Kalabia –yang ternyata nama sebuah kapal– memberikan pendidikan dan pelajaran pada anak-anak yang ada di gugusan Kepulauan Raja Ampat, terutama di bidang konservasi dan lingkungan hidup.

Kapal Kalabia ini dibangun agar dapat menjangkau anak-anak yang ada di pulau-pulau tersebut. Kapal ini tidak semata jadi sarana transportasi para pengajar menjunjungi anak-anak di pulau-pulau yang perlu waktu beberapa hari tempuh dari Sorong.

Lebih dari itu ternyata kapal ini juga dijadikan sarana belajar, mengajar, dan bermain bagi anak-anak yang Raja Ampat.

Dengan alasan itu tidak heran kalau cat kapal kalabia ini warna-warni mencolok mata, lengkap dengan gambar-gambar hewan laut yang dibuat komikal, menarik, dan lucu.

Sayangnya ketika kita sampai di Sorong dan melihat kapal Kalabia tersebut, ternyata kapal ini sudah agak lama tidak beroperasi. Catnya mengelupas di sana-sini, dan saat kita mengunjunginya kondisi di dalamnya juga terlihat sudah lama terbengkalai.

Menurut Kak Rani, pemilik KLM Kurabesi yang menemani kita mengunjungi kapal ini, Kapal Kalabia berikut aktivitas belajar mengajarnya memang sudah tidak aktif sejak beberapa bulan mendatang.

Belum pasti apa yang membuat hal ini terjadi, tapi bisa jadi kendala terbesar yang mungkin jadi penyebabnya adalah masalah biaya.

Sangat masuk akal sih, karena biaya operasional kapal sebesar Kalabia ini butuh dana sekitar ratusan juta. Belum lagi untuk membiayai sarana belajar, mengajar, dan bermain. Tidak ketinggalan gaji untuk para pengajar dan semua pendukung kegiatan ini.

Ini mengingatkan saya pada bagaimana sepak terjang kawan-kawan mencari dana agar DOES University yang memiliki semangat dan perjuangan mirip dengan apa yang dilakukan Kapal Kalabia ini.

Menjelang usia dua tahun dan dengan jumlah siswa lebih dari 100 orang, DOES University jelas membutuhkan pembiayaan yang tidak sedikit untuk menjalankan kegiatan belajar mengajarnya ini.

Pastinya hal yang tidak mudah untuk mengumpulkan sedikit demi sedikit biaya agar apa yang sedang dijalankan DOES University ini dapat terus berjalan.

Dengan menulis ini bukan berarti terus saya jadi mengeluh atau patah semangat sih. Tapi jadi tidak habis pikir dengan orang-orang yang nampaknya dengan mudah dan enteng mengeluarkan uang berjuta-juta untuk hal-hal misalnya untuk narkoba, judi, main perempuan, atau semacam-semacamnya lah.

Misalnya dana sebesar itu boleh disalurkan untuk membantu kegiatan seperti KALABIA itu misalnya. Mungkin sampai saat ini kegiatan mereka tidak terhenti dan kapal mereka tidak terbengkalai di sebuah sudut dekat pelabuhan Sorong – Papua.

Kenapa tidak ada yang terpikir melakukannya? Mungkin karena sejak awal mula kehidupan diciptakan, berbuat baik itu rasanya lebih berat. Tapi tetap saja, harus ada yang mau dan ikhlas melakukannya.