Sebagai suguhan yang boleh dibilang khas Indonesia, soto memiliki banyak varian yang nyaris tak terhitung. Selain terbagi dari jenis-jenis yang berdasarkan nama daerah asal pembuat hidangan ini, juga masih ada perbedaan antara penjual satu dengan yang lainnya.

Bayangkan, ada soto Betawi, soto Semarang, soto Kemasan, soto Lamongan, soto Surabaya, coto Makassar, tauto, sroto, soto Banjar, dan masih banyak lagi.  Masih ditambah ada soto Pak Samsul, soto Pak To, soto Pak Ngadiran, soto Lamongan Cak Musa, soto Lamongan Cak Kholil, soto Bu Cip, soto Pak Sholeh, dan lain-lain.

Karena sudah sangat umum dan mudah ditemukan di mana-mana, hampir semua orang Indonesia dewasa pernah mencicipi soto, tak perduli soto asal mana dan varian karya siapa. Kemudian di sinilah kadang “konflik”  yang muncul di antara para penikmat dan pecinta soto Indonesia.

Pemicu konflik itu tak lain dan tak bukan adalah saling bersikeras mempertahankan pendapat soto kesukaan merekalah yang paling enak. Soto-soto lain di luar itu enggak enak, dan parahnya ada yang sampai ke tahap menganggap orang yang tidak “seiman” dengan mereka tentang soto yang enak, dianggap orang yang taste-nya rendah, ndak paham kuliner, wong ra dongignorant peasant.

Padahal enak atau tidak soto –atau hidangan apapun– bagi seseorang sangat dipengaruhi oleh preferensi personal dan pengalaman individu yang umumnya berbeda satu dengan lainnya.

Misalnya, ada kawan dari Jawa Timur yang berpendapat kebanyakan soto di Yogyakarta ini rasanya seperti sayur bening, ini karena sangat “ringan” berbeda dengan soto Lamongan, soto Madura, atau soto Surabaya.

Sebaliknya, ada kenalan dari Yogyakarta yang tidak suka dengan soto dari Jawa Timur karena dirasa terlalu berat dan marakke mbleneg.

Belum lagi kerabat dari Kalimantan Selatan yang tak habis pikir saat merasakan soto yang ada sedikit rasa manisnya dan tak tersedianya kecap asin di meja-meja penjual soto di sini.

Kesan dan pendapat yang berbeda-beda dari berragam orang dengan pengalaman soto-nya yang berbeda-beda ini yang membuat sukar menemukan kesepakatan soto mana yang paling enak. Karena itu membuat perbandingan satu soto dengan soto lainnya jadi tidak apple to apple.

Jadi, monggo soto andalan dan langganan kawan-kawan semua itu yang terenak di bawah kolong langit ini, tapi tolong jangan ngenyek dan memandang sebelah mata pada orang-orang lain yang memiliki soto terenak andalan mereka masing-masing.

Karena eyel-eyelan pilpres dan pilkada saja hingga kini masih membisingkan telinga dan lini masa kita, jangan ditambah dengan berseteru tentang soto yang seharusnya bisa jadi pelarian nikmat kita dari hiruk pikuk dunia ini.

Salam soto/coto/tauto/sroto atau apapunlah itu yang menyegarkan dan bikin bahagia!