August 7, 2020
liburan di yogyakarta candi boko

7 Alasan Kenapa Liburan di Jogja Saat Mudik Lebaran

Liburan di Jogja saat mudik lebaran bagi beberapa orang sudah jadi tradisi tahunan yang sudah sangat sukar untuk ditinggalkan.

Bahkan bagi yang kampung halamannya tidak di Jogja, mereka sebisa mungkin menyempatkan diri mampir ke kota ini untuk berlibur.

Sayangnya tidak banyak yang benar-benar memahami Jogja, apalagi sebagai sebuah daerah lokasi berlibur mudik seperti saat ini.

Sehingga akhirnya ada yang kecewa, kagol, bahkan merasa kapok menghabiskan waktu liburan di Jogja. Apalagi ditambah adanya artikel yang ngobong-obong alias manas-manasin pembacanya untuk tidak berlibur di sini saat mudik lebaran. Nggak asik, katanya.

…selama bertanya dan mendapat informasi dari orang yang tepat, Jogja akan selalu jadi tempat yang asik untuk berlibur.

Kalau sampai hal itu yang dirasakan saat liburan di Jogja saat mudik, maka bisa jadi karena kawan-kawan mendapat masukan dan informasi dari orang-orang yang kurang memiliki pengetahuan memadai tentang Jogja dan lokasi-lokasi berliburnya.

Ini ada 7 alasan (dari sekian banyak alasan lainnya) mengapa sebaiknya kawan-kawan liburan di Jogja pas libur lebaran. Semoga bisa memberi pencerahan dan menemukan keasikan baru berlibur di sini.

1. Jogja itu luas. Bukan cuma Kota Yogyakarta saja dan obyek wisatanya bukan cuma Jalan Malioboro saja

liburan di yogyakarta pinus penggerKalau ada orang yang mengatakan liburan di Jogja tidak asik karena “Kota Yogyakarta sebenarnya luasnya sangat kecil hanya 38 km persegi atau mungkin hanya ukuran luas 2 kecamatan kalau di Jakarta sehingga kalau libur akan macet parah”, sebaiknya jangan langsung percaya saja.

Pastikan dulu, yang mau dibahas orang itu “Kota Yogyakarta” atau “Daerah Istimewa Yogyakarta”. Kalau yang dimaksud “Kota Yogyakarta”, memang benar luasnya tidak seberapa jika dibandingkan dengan wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta.

Sebab kalau bicara tentang berlibur di Jogja, ya sebaiknya yang dibahas seluruh wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta. Karena sesungguhnya jauh lebih banyak obyek wisata yang tak kalah menarik dan menyenangkan di Kabupaten Bantul, Gunungkidul, Kulon Progo, dan Sleman, ketimbang di Kota Yogyakarta.

2. Tempat wisata di Jogja bukan hanya Gua Pindul saja

liburan di yogyakarta pantai gunungkidulAda yang bilang kalau masa liburan “tempat wisata di Jogja penuh dengan wisatawan”. Lha ya namanya juga tempat wisata, masa-masa liburan pula. Mosok ya mau penuh dengan wit sledri? Ha mbok Disneyland saja kalau musim liburan ya mesti suk-suk-an alias berdesak-desakan, kok.

Tapi apakah kemudian dengan tempat wisata di Jogja penuh wisatawan, membuat libur di Yogyakarta jadi tidak asyik?

Nah itu tergantung dengan siapa kawan-kawan bergaul dan dapat informasi wisata Jogja dari website yang seperti apa.

Kalau cuma mengikuti artikel-artikel click-bait penarik trafik atau akun-akun instagram yang pemiliknya kurang mengeksplorasi Jogja, maka gambaran yang diperoleh hanya itu-itu saja. Kalau nggak Malioboro, Gua Pindul, atau spot-spot yang ada di film AADC2 (Ada Apa Dengan Cinta-cinta).

Namun kalau mau sedikit riset dan bertanya pada orang yang tepat, kawan-kawan bakal ditunjukkan lokasi-lokasi unik yang jarang terekspose media sosial dan media non-sosial, namun tak kalah indahnya dari obyek-obyek wisata yang sudah mainstream itu.

Serunya lagi, karena lokasi-lokasi unik ini belum banyak terpublikasi ke khalayak, maka antrian wisatawan yang mirip cendol itu tidak akan ditemui di sana.

Sebagai awal bekal informasi sebelum menjelajahi lokasi-lokasi wisata dan kuliner di Jogja yang unik dan belum banyak dikenal publik tersebut, bisa dimulai dari sini dulu. Monggo.

3. Harga-harga makanan relatif murah. Apalagi jika bertanya dahulu sebelum membeli

gudegMemang ada beberapa orang yang kapok berlibur ke Jogja karena pernah dithuthuk saat membeli makanan oleh penjual warung lesehan yang menaikkan harga seenak udelnya sendiri yang bodong cawang telu itu. Sehingga si orang yang membali makanan di lesehan tersebut dipaksa membayar dengan harga yang sangat tinggi dan di luar dugaan.

Namun semua itu sebenarnya sangat bisa diantisipasi dengan menanyakan dulu ke penjual price list dagangannya. Sehingga kalau dirasa mahal kita bisa melipir dari tempat itu. Ndak usah sok gengsi atau malu. Pokoknya kalo dirasa mahal, langsung pamit dan undur diri dari warung lesehan itu.

Karena tidak semua warung lesehan di Jogja penjualnya sejahat yang sering diceritakan dan diberitakan di beberapa media kok.

Oh iya, sekadar berbagi pengalaman saja. Kalau ingin makan di lesehan terutama gudeg, saya biasanya ke Gudeg Permata atau Gudeg Batas Kota (kalau lagi ingin gudeg yang rada manis). Sementara kalau pas ingin mencicipi gudeg yang rasanya agak gurih, saya biasanya ke Gudeg Sagan.

Lalu jika bosen gudeg dan ingin masakan lain, bisa mencoba Warung Nasi Campur Demangan. Biasanya warung ini baru buka sekitar jam 21:30 WIB.

Jangan lupa, walaupun secara default harga-harga di lesehan tersebut lebih manusiawi dan masuk akal, tapi tak ada salahnya menanyakan terlebih dahulu berapa harganya untuk makanan yang akan kita pesan.

Kalau misalnya tetap merasa rikuh dan ndak enak tanya-tanya harga ke penjualnya karena kalau ternyata mahal kita ndak jadi beli. Alternatif lainnya bisa dengan membuka aplikasi Ojek Online di handphone, cari nama warung yang akan kita beli, kemudian cek di aplikasi itu harga hidangan yang akan kita pesan berapa. Kalau sesuai budget, lanjut. Kalau tidak, mlipir.

4. Mudah mendapatkan ojek online, baik yang motor maupun mobil
liburan di yogyakarta mangunan
Image from rawpixel.com / Iswanto

Meskipun dalam suasana ramai karena banyak yang berlibur di Jogja, ojek online relatif lebih mudah diperoleh ketimbang di daerah lain.

Karena itu saat ramai liburan mudik seperti ini, sangat disarankan menggunakan sarana transportasi ojek online jika ingin bepergian.

Selain tidak capek nyetir, kita juga bisa terbebas dari tipu daya oknum parkir yang sering dengan kejamnya menaikkan tarif parkir.

Bawa mobil sendiri atau rental mobil bisa dijadikan alternatif jika lokasi yang dituju agak jauh dari tengah kota, seperti Hutan Pinus Mangunan, Cangkringan, pantai-pantai Gunungkidul, atau kebun teh di Kulon Progo.

5. Selama sudah dipersiapkan jauh-jauh hari, tidak akan menemukan kesulitan seputar akomodasi

liburan di yogyakarta tamansariSelama liburan mudik sudah dipersiapkan jauh-jauh hari sebelumnya, sebenarnya tidak ada alasan sukar mencari penginapan di Yogyakarta karena sudah penuh semua.

Kalau ada yang bilang tidak asik berlibur mudik di Jogja karena “akomodasi berupa penginapan penuh semua dan harganya juga naik. Bukan momen yang tepat untuk berlibur”, bisa jadi yang berpendapat seperti itu jarang traveling atau jarang berlibur ke kota-kota lain di musim liburan.

Sebab, mau itu di Jogja, Bali, Magelang, atau obyek-obyek wisata lainnya, kalau musim liburan ya pastilah penginapannya penuh. Lha musim liburan je. Piye to?

Untuk itu sangat disarankan merencanakan liburan jauh-jauh hari sebelumnya, termasuk menentukan dan memesan penginapan di tempat kita akan berlibur agar tidak kehabisan. Di manapun itu, tidak hanya di Jogja.

Kalau misalnya tetep ngeyel karena entah mengapa pagi-pagi, sehari sebelum liburan panjang, saat bangun tidur mendadak mendapat ide: “Ah, hari ini liburan ke Jogja keliatannya seru deh.” Sehingga kehabisan tempat penginapan berupa hotel dan losmen Jogja. Jangan khawatir.

Sebab di Daerah Istimewa Yogyakarta ini sangat banyak desa wisata yang siap menerima tamu menginap di tempat mereka. Tinggal search saja di Google “Desa Wisata Jogja”, dan kawan-kawan akan menemukan desa wisata di Jogja yang menyediakan penginapan siap dipesan dan biasanya masih pada kosong.

Kalau masih ada yang komplain, “Tapi kan desa wisata jauh dari keramaian kota? Ngapain nginep jauh-jauh di sana?”

Maka jawablah dengan lembut, “Lha kalau tidak mau jauh dari keramaian kota, kok bisa-bisanya berlibur ke Jogja yang jauh dari hiruk pikuk keramaian kotamu?”

Bisa juga ditambahi, “Kemudian buat apa menempuh perjalanan sekian jam dari kotamu ke Jogja, hanya untuk merasakan hiruk pikuk dan kemacetan yang sama dengan kotamu?”

6. Ini kesempatan membuktikan kalau Jogja tidak membeku di masa lalu

liburan di yogyakarta tebing breksi

Mungkin ada yang saat akan berlibur ke Jogja dalam benaknya terbayang suasana seperti di lagu dan video klip “Yogyakarta” punya Kla Project.

Atau berpikir kalau orang-orang di Yogyakarta itu yang bapak-bapak berbusana Jawa komplit serta ibu-ibu berpakaian kebaya lengkap dengan sanggul besar sebagai busana sehari-hari di rumah. Serta semua pemuda-pemudanya ke mana-mana pakai blangkon. Iya, seperti yang sering digambarkan di FTV itu.

Terus saat sampai sini jadi heran karena Jogja yang ditemui tidak yang digambarkan di video klip atau FTV. Kemudian pada komplain di media sosial. Bilang kalau “Jogja nggak kayak dulu lagi.”

Padahal, apa yang ada di video klip Yogyakarta itu, sudah sangat jarang ditemui di Jogja masa kini. Seperti misalnya tempat nongkrong cuma beralaskan lampu senthir, dan penjaja makanan di pinggir jalan tidak seperti itu lagi setting-nya.

Sama halnya dengan sudah jarang menemui Ibu-ibu berkebaya dan konde komplit untuk busana harian rumah, Mas-mas muda yang tiap hari pakai blangkon, atau Bapak-bapak berbusana Jawa komplit tiap hari di rumah. Karena ke-Jogja-an tidak melulu sebatas pakaian, blangkon, dan cara bicara yang di-medhok-medhok-kan saja.

Percaya atau tidak, dalam kemajuannya yang kian pesat seperti ini, kawan-kawan pasti masih bisa menemukan ke-Jogja-an yang khas yang tidak melulu tampil seperti apa yang sering ada di FTV itu.

Susah untuk menggambarkannya sih. Tapi salah satu jalan untuk membuktikannya, silakan berkunjung dan berlibur ke sini untuk menyaksikan dan merasakan bagaimana Jogja sekarang, yang tidak membeku di masa lalu.

Singkatnya, selama bertanya dan mendapat informasi dari orang yang tepat, Jogja akan selalu jadi tempat yang asik untuk berlibur. Tanpa perduli sedang musim liburan atau tidak.

7. Kalian ternyata salah satu anggota IMAYOYO
IMAYOYO
Image by gholib gholib from Pixabay

Kalau kalian tanpa sadar atau tidak ternyata adalah salah satu anggota IMAYOYO, maka mau tidak mau, bisa tidak bisa, liburan di Jogja saat mudik lebaran adalah sebuah kewajiban.

Apa itu IMAYOYO?

Buat kawan-kawan yang belum tahu, IMAYOYO adalah singkatan dari Ikatan Mahasiswa Yogyakarta di Yogyakarta. Alias akamsi, alias anak-anak muda yang domisilinya memang di sini.

Sehingga, tentu saja orang tua, eyang, paman, bibi, pakde, bude, sanak saudara, dan kerabat yang lain juga banyak yang berada di Jogja. Ini membuat berlibur di Jogja saat mudik jadi hal yang tak bisa ditawar-tawar lagi.

Untuk sekadar informasi, sampai saat ini saya belum pernah menemukan anggota IMAYOYO yang merasa tidak asik berlibur di Jogja, deh.

temukonco

husband | food-lover | good-listener | secret-keeper | story-teller | TemuKonco Podcast | merindukan ngopi a la kopi tiam | lengkap dengan roti sari kaya | dan telur setengah matangnya

View all posts by temukonco →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.