Beberapa minggu setelah naskah buku SOEKAMTI GOES TO PAPUA masuk ke tahap proofreading, si pemilik percetakan buku merangkap proofreader bertanya pada saya.

“Mas, ini kok diceritanya tahu-tahu take drum?”

Ternyata yang pertanyaan “tahu-tahu take drum” itu muncul karena dalam buku SOEKAMTI GOES TO PAPUA ini, dijelaskan pada hari-hari awal proses rekaman, Tony Soekamti langsung melakukan rekaman drum.

Awalnya saya merasa tidak ada yang aneh dari hal tersebut jadi tidak akan jadi pertanyaan. Namun setelah dijelaskan oleh Mas Proofreader ini, saya baru sadar kalau mungkin untuk tim Endank Soekamti, para Kamtis, dan mereka yang rajin mengikuti seri-seri Ngintip Pembuatan Album Endank Soekamti sejak beberapa tahun lalu, kegiatan “tahu-tahu nge-drum” ini adalah hal yang wajar.

Akan tetapi bagi mereka yang sama sekali baru kenal dengan Endank Soekamti lengkap dengan segala sepak terjangnya, ternyata hal ini bisa jadi pertanyaan besar.

Sebab dalam bayangan sebagian besar orang, membuat sebuah lagu –apalagi album musik– biasanya diawali dengan proses mencari ilham, melamun, berkontemplasi, atau apalah itu namanya yang biasanya digambarkan si artis/musisi duduk merenung menunduk seperti patung The Thinker-nya Auguste Rodin itu, atau dengan duduk dengan tatapan menerawang entah ke mana sambil pegang kertas dan alat tulis.

Setelah mendapat ide dan ilham segera ide dan ilham tersebut dituangkan di atas kertas dalam jajaran kata-kata sehingga berbentuk semacam puisi yang nantinya jadi lirik lagu yang sedang dalam proses penciptaan ini.

Setelah jadi kata-kata yang jadi lirik lagu, kemudian tibalah bagian genjrang-genjreng pakai gitar menentukan nada dan chord yang cocok untuk lirik tersebut.

Demikan seterusnya sampai nanti tibalah bagian drum sebagai sentuhan akhir dari proses penciptaan ini.

Semua proses yang diceritakan di atas tadi tidak salah, namanya proses penciptaan karya ya bebas dari mana saja, selama karya itu akhirnya jadi dan bisa dinikmati.

Hanya saja, Endank Soekamti tidak melakukan proses penciptaan dengan langkah-langkah seperti itu.

Biasanya yang dilakukan adalah Endank Soekamti klothekan secara intens bersama-sama dalam waktu satu atau dua bulan sebelum nanti melakukan karantina rekaman selama 30 hari.

Nah dari klothekan itu terkumpullah materi-materi yang dirasa layak dan oke untuk dijadikan materi album. Kemudian dibuatlah guide dari materi-materi tersebut untuk pedoman saat rekaman nanti.

Sampai di tahap ini sama sekali belum ada lirik yang muncul dan tercipta, jadi semua benar-benar dimulai dari musiknya dulu.

Nah dalam rekaman musik, yang pertama dilakukan Endank Soekamti biasanya adalah rekaman drum alias take drum dulu. Setelah take drum untuk semua track untuk semua materi yang akan jadi isi album ini selesai, barulah dilanjutkan dengan take bass, take guitar, baru kemudian take vocal alias suara penyanyi-nya dimasukkan.

Lha kemudian lirik-nya kapan bikinnya? Kok tahu-tahu udah take vocal aja?

Saat di Papua kemarin, biasanya lirik dibuat pada malam hari. Saat kita beristirahat dari kegiatan rekaman di siang harinya.

Sambil duduk santai di ruang semi-outdoor area, semua anggota band Endank Soekamti berdiskusi membuat lirik. Bahasa kerennya mungkin workshop ya. Kalau istilah Endank Soekamti adalah belajar kelompok.

Diistilahkan seperti itu karena kalau sekilas dilihat, kegiatan mereka ini mengingatkan pada jaman sekolah dulu, saat kita diminta melakukan kegiatan belajar kelompok di rumah salah seorang teman selepas jam sekolah.

Selama ini, proses pembuatan lirik selalu selesai nyaris bersamaan dengan proses rekaman instrumen musik lainnya. Sehingga langsung bisa dilanjutkan dengan proses take vocal.

Demikian kurang lebih penjelasannya ya. Semoga bisa menjelaskan.