Menulis buku perjalanan. Kurang lebih itu yang saya sampaikan saat 12 November 2017 lalu bersama-sama Mas Dory dan Mas Deka diberi kesempatan mengisi artist talk di Galeri Indonesia Kaya.

Artist talk ini digelar sebagai rangkaian kegiatan peluncuran album terbaru Endank Soekamti “SALAM INDONESIA” pada 9 November lalu, serta pameran foto SALAM INDONESIA karya Mas Deka yang digelar mulai hari peluncuran album sampai 15 November 2017.

Tujuannya untuk lebih mengenalkan dan menjelaskan seluruh karya yang dihasilkan selama perjalanan ke Papua kemarin. Saya kebagian menjelaskan buku saya SOEKAMTI GOES TO PAPUA, termasuk selayang pandang isinya, serta bagaimana cara menulis buku perjalanan itu selama di kapal.

Karena cara menulis buku perjalanan mungkin tidak ada di buku Soekamti Goes To Papua, maka tak ada salahnya ditulis ya.

Jadi gini…

Ketika sebelum berangkat ke Papua saya sudah mempersiapkan segala hal yang berkaitan dengan pencatatan, termasuk menservis laptop supaya tetap perkasa dan penuh stamina, mempersiapkan alat-alat rekaman, kamera saku sederhana, dan beberapa keping memory card.

Kemudian dari sisi workflow saya rencanakan untuk seharian merekam dan mencatat di notes kecil, kemudian malam harinya menjelang dan setelah sahur digunakan untuk merangkum catatan-catatan kegiatan yang terjadi hari itu dan menyimpannya di laptop dan sekeping flash disk untuk back up data.

Akan tetapi, semua persiapan untuk menulis catatan perjalanan ini pada kenyataannya berbeda antara apa yang direncanakan dengan apa yang di lapangan.

Foto: Agib Tanjung

Untuk hari-hari pertama mulai dari berangkat ke Sorong sampai masuk ke Teluk Kabui, workflow itu berjalan baik. Semua kegiatan di siang hari bisa langsung dirangkum di laptop malam harinya.

Setelah keluar dari Teluk Kabui menuju lokasi lain ombak yang di lokasi sebelumnya tidak terasa karena perairan dan angin di dalam teluk sangat tenang, mulai muncul.

Goyangan kapal menjadi lebih terasa. Efek yang paling terasa dari goyangan kapal ini adalah rasa pusing yang mengganggu saat memandang layar laptop waktu mengetik.

Karena proses pencatatan harus terus berjalan, mau tidak mau kendala sesederhana itu tidak bisa jadi alasan untuk berhenti mencatat.

Sebagai gantinya, semua yang tercatat di notes kecil dipindah dan dirangkum di buku notes besar, untuk nanti sampai Yogyakarta baru dipindahkan dan ditata lebih rapi di laptop.

Untuk interview, saya juga lebih memilih untuk mencatatnya di notes ketimbang direkam dengan recorder. Memang sesekali harus mengulangi beberapa pertanyaan beberapa kali sih, agar bisa dicatat dengan baik.

Untungnya mereka yang diinterview adalah teman-teman sendiri jadi kalau misalnya ada yang kurang jelas, bisa bertanya beberapa kali.

Selain biar bisa lebih dalam mengorek data-data dari orang yang diinterview karena mungkin saat pertemuan sebelumnya tidak tersampaikan karena lupa, juga karena pengalaman waktu bikin skripsi, menata dan mengklasifikasikan data yang tersimpan dalam bentuk rekaman suara ternyata agak rumit dan kudu telaten mendengarkan rekaman interview itu berulang-ulang.

Cover Belakang | Foto: Agib Tanjung

Cover Belakang | Foto: Agib Tanjung

Kamera poket sederhana juga disiapkan. Awalnya juga diniatkan sebagai sarana pengumpul data dan dokumentasi hal-hal unik yang ada dan terjadi di sana. Sehingga nanti saat dituangkan dalam bentuk tulisan bisa lebih mudah, tidak perlu bersusah payah mengingat-ingat bentuk, warna, dan semacamnya. Cukup lihat foto, langsung terjelaskan semua.

Dalam prakteknya di lapangan baru disadari ternyata data yang diperoleh dari kamera itu tidak hanya gambar-gambar saja.

Karena selain cover buku Soekamti Goes To Papua juga berhasil diambil dengan kamera ini. Ternyata data tanggal dan jam yang meyertai semua file foto yang disimpan kamera ini sangat membantu dalam mengingat jam berapa kita berada di suatu lokasi.

Tanggal dan jam menyertai foto-foto di kamera itu juga sangat membantu dalam menjelaskan berapa lama waktu tempuh satu lokasi dengan lokasi lainnya. Bisa juga membantu menjelaskan kapan sebuah kegiatan di mulai dan kapan berakhir.

Semuanya dapat dicatat dan didokumentasikan dengan baik oleh kamera ini dengan catatan kita tidak lupa mengambil minimal satu atau dua foto di tempat-tempat yang kita kunjungi, serta memotret awal dan akhir sebuah kegiatan yang dirasa menarik.

Seharusnya ketika balik ke Yogyakarta semua data tersebut segera diolah, ditata, dan dipersiapkan sedemikian rupa sehingga segera menjadi draft buku.

Tapi tahap ini agak tertunda sedikit karena tim Endank Soekamti kembali ke Yogyakarta tepat dua hari sebelum Idul Fitri. Nah, karena langsung ketemu liburan panjang, proses penulisan buku jadi agak sedikit tertunda. Nyaris saja terlena karena keenakan berlibur.

Setelah semua data dikumpulkan, ditata, dan dikemas sehingga jadi draft buku. Langsung draft ini masuk ke tangan editor. Akhirnya awal Agustus 2017 draft buku sudah siap cetak.

Sampai akhirnya setelah peluncuran album terbaru Endank Soekamti SALAM INDONESIA 9 November yang lalu, buku Soekamti Goes To Papua sampai di tangan teman-teman yang memesan boxset, serta mereka yang mendapat undangan peluncuran album ini di Galeri Indonesia Kaya.

Begitulah kurang lebih langkah-langkah membuat buku catatan perjalanan yang saya lakukan saat mebuat buku ini.

Selamat menikmati SOEKAMTI GOES TO PAPUA dan semoga bisa menghibur.

Salam Indonesia!