Ini bukan tentang primordialisme atau semangat kedaerahan. Namun sepanjang pengalaman sebagai orang Jawa, hal yang paling menyenangkan jika sedang merantau dan tahu ada kawan, sanak, kerabat yang kebetulan tinggal di daerah tempat perantauan adalah mengajak mampir ke tempat mereka tinggal di daerah tersebut.

Misalnya waktu di Balikpapan dulu, ada sanak kerabat yang sama-sama berasal dari Yogyakarta dan tahu kami tinggal di kota itu, mereka mengajak mampir berkunjung ke kediaman mereka atau sebaliknya kami yang mengajak mereka mampir. Sehingga jadi hal yang wajar jika saling berkunjung antara satu dengan yang lain.

Padahal walaupun sama-sama tinggal di satu daerah tersebut, jarak tempat tinggal kami dengan kerabat tidak bisa dibilang dekat sih. Namun selain atas nama kekerabatan dan perasaan senasib sama-sama merantau di daerah yang sama di luar Jawa, hal tersebut kadang tidak dihiraukan.

Misalnya di Balikpapan tadi itu, karena ada di Kalimantan Timur, maka sanak saudara lain yang juga ada di Kalimantan Timur merasa kita berdekatan di perantauan jadi saru kalau tidak disempatkan mampir.

Padahal walaupun sama-sama di Kalimantan Timur, tapi yang satu di Balikpapan yang lainnya di Samarinda yang jaraknya sekitar 116 km atau bahkan di Tenggarong yang jaraknya sekitar 120 km. Atas nama kekerabatan dan keakraban, jarak itu relatif dekat dan tidak menjadi masalah jika ingin saling mengunjungi. Lha wong wis tekan kene (Kalimantan Timur) lho…  demikian kurang lebih cara berpikirnya.

Hal serupa juga saya alami ketika menghabiskan waktu sebulan lebih di Papua.

Kawan-kawan yang pernah bersama-sama di Yogyakarta dan tahu saya sedang di Papua, segera menghubungi dan mencari tahu apakah benar saya sedang berada di daerah paling timur Indonesia ini.

Kemudian ya itu tadi dengan semangat kekerabatan yang besar, mereka mengajak mampir dan ketemuan barang sejenak. Mumpung sudah sampai Papua lho.

Tapi mau gimana lagi, Kalimantan bukan Papua, dan jarak antara lokasi teman-teman saya itu luar biasa jauh. Serta untuk menjangkaunya tidak semudah pergi dari Balikpapan ke Tenggarong.

Jadi mohon maaf teman dan kerabat yang ada di Jayapura (823 km dari Manokwari), Timika (mungkin 1.000 km lebih dari Manokwari), dan Merauke (sekitar 2.500 km lebih dari Manokwari), meskipun waktu itu saya sudah ada di Manokwari, tapi situasi dan kondisi benar-benar tidak memungkinkan untuk mampir.

Semoga di lain waktu ada kesempat dan rejeki lagi sehingga bisa mampir berkunjung ke sana. Aamiiiin…