Menyambung tulisan kemarin, sempat juga ada pro-kontra seputar memberi makan ikan hiu  dan ikan-ikan lain di beberapa lokasi di Papua beberapa waktu lalu.

Kalau mendengar kegiatannya mungkin yang dibayangkan adalah kita memberi makan ikan dan ikan hiu seperti yang biasa dilakukan di kebon binatang itu. Satwanya ada di dalam kandang, lalu kita yang memberi makan ada di luar dengan menyodorkan makanan ke satwa tersebut.

Bukan juga seperti di Taman Safari yang kita berada di dalam mobil sambil menjulurkan makanan ke satwa-satwa (yang tentu saja bukan satwa buas) yang berkeliaran di sepanjang jalur perjalanan di Taman Safari.

Memberi makan ikan hiu di Raja Ampat jauh lebih menantang dari kegiatan-kegiatan itu.

Memberi Makan Ikan Hiu

Memberi Makan Ikan Hiu

Kita yang ingin memberi makan hiu harus turun ke pantai sampai air laut setinggi pinggang kita, lalu kita menaburkan makanan yang kita bawa di depan dan sekitar kita.

Nanti ikan-ikan yang ada di sekitar kita termasuk juga ikan hiu akan mendekat dan menyambar makanan-makanan yang jaraknya sangat dekat dengan kita, tidak sampai satu meter.

Demi keamanan, oleh petugas setempat kita diperingatkan agar tidak melakukan gerakan-gerakan yang mendadak dan mengagetkan ikan-ikan itu. Serta tidak boleh memasukkan tangan ke air saat menebarkan makanan.

Sensasi yang dirasakan benar-benar menegangkan bercampur senang. Tegang karena takut kalau-kalau kita ikut tersambar ikan hiu jenis black-tip reef shark yang lumayan besar itu. Senang karena bisa sedekat ini dengan satwa-satwa laut yang jarang kita temui dalam kehidupan sehari-hari.

Namun kemudian ketika foto kegiatan memberi makan ikan dan ikan hiu itu diunggah di media sosial, beberapa pihak menyatakan keberatan dan ketidaksetujuannya dengan kegiatan memberi makan ikan tersebut.

Alasannya jelas, kegiatan memberi makan satwa-satwa liar tersebut dianggap bertentangan dengan prinsip-prinsip Animal Welfare.

Karena dengan memberi makan satwa liar, dikhawatirkan itu akan membahayakan satwa itu sendiri. Karena dengan seringnya diberi makan, sangat dimungkinkan satwa-satwa tersebut akan jadi kehilangan kemampuan alaminya dalam mencari makan.

Satwa-satwa tersebut jadi manja dan jika suatu saat manusia yang rutin memberinya makanan tidak melakukan hal itu lagi karena satu dan lain hal, para satwa bisa terancam kelaparan dan dalam jangka panjang bisa musnah.

Ingat, satwa liar lho ya, bukan satwa peliharaan rumah seperti kucing, anjing, atau marmut.

Nah, akan tetapi dalam kenyataannya di Papua, tidak hanya di kawasan Raja Ampat saja ada kegiatan memberi makan ikan yang ada di laut oleh manusia.

Pada beberapa wilayah Papua lainnya ada tradisi memanggil ikan yang sudah berjalan selama turun temurun. Seperti yang dilakukan Pak Lukas Barayap di Manokwari, beliau melakukan hal ini selama lebih dari 20 tahun.

Hingga saat ini ikan-ikan di perairan tersebut tetap hidup dengan baik, dan pastinya tidak setiap hari prosesi memanggil ikan ini dilakukan. Jadi sang ikan-ikan tidak bisa bermanja-manja mengandalkan makan dari manusia.

Selain itu kegiatan memberi makan ikan hiu ini jelas mendatangkan pendapatan bagi daerah-daerah tersebut. Di daerah-daerah yang memang sangat indah pemandangannya tapi karena jarak dan biaya, hingga kini daerah tersebut relatif masih sepi.

Contohnya saja di Wayag – Raja Ampat, di daerah belum tentu satu hari sekali ada kapal yang datang (yang tarifnya untuk per-kapal yang datang bisa sampai satu juta rupiah ditambah biaya per kepala penumpang kapal lima ratus sampai satu juga rupiah), dan kalaupun ada yang datang biayanya digunakan untuk pelestarian dan usaha-usaha konservasi wilayah tersebut.

Jadi tenang saja, ikan-ikan dan ikan-ikan hiu itu di hari-hari lain tetap harus bekerja keras sendiri, membanting tulang memeras keringat (yang langsung hilang kena air laut) demi bisa mendapatkan sesuap nasi.