Setelah dapat ancer-ancer lokasi cafe itu dari, saya langsung siap-siap pergi sambil tidak lupa memeriksa baterai di kamera saku digital dan juga di tape recorder kecil andalan saya.

Semenjak setahun terakhir, dua benda itu hampir tidak pernah lupa saya bawa ke mana-mana. Tidak dalam rangka keperluan khusus tertentu sih, hanya sekedar iseng siapa tau dapat objek foto yang menarik yang kemudian dikoleksi sendiri –biasanya yang ini terdiri dari foto-foto perempuan-perempuan yang menarik dan tidak membosankan untuk terus menerus dipandang, akan tetapi akan sangat membahayakan dan sangat tidak baik untuk kesehatan kalau obyek foto itu dibawa pulang dan dikoleksi– atau di-share di layanan sosial media tempat sharing dan pamer foto.

Lain halnya dengan tape recorder itu, yang merupakan hadiah kenangan dari seorang kakak angkatan di kampus yang ayu, tinggi, hitam manis, berdagu belah seperti miliknya Jack Scalia, berambut tebal ikal kecil-kecil, penari, dan sangat nJawani. Sayangnya, selain perbedaan usia, ternyata yang bersangkutan sudah punya tunangan, sehingga selama ini saya hanya bisa mengagumi diam-diam sambil menghabiskan waktu dengan berlama-lama ngobrol dan berdiskusi tentang apapun dengannya.

Tape recorder itu seringkali digunakan untuk merekam jika ada suara-suara yang unik, termasuk curhat seorang kawan yang dalam keadaan setengah sadar ketika sedang patah hati yang cukup parah dan sebagai pelampiasannya dia minum-minum sampai mabuk berat beberapa minggu yang lalu, yang dikoleksi sedemikian rupa sebagai kumpulan sampel-sampel suara.

Niatnya sebenernya sih ingin membuat kumpulan berbagai macam sample suara seperti yang pernah dibuat oleh Lucas Film yang terdiri dari beratus-ratus efek suara berformat *.wav dalam kemasan berpuluh-puluh CD Audio itu.

Namun karena keterbatasan kemampuan sebuah tape recorder, tentu saja sampel suara yang di dapat tidak sejernih dan sejelas milik Mas Lucas itu. Tapi tidak jarang malah sampel-sampel suara ala kadarnya inilah yang berperan sebagai penyelamat jika kondisi benar-benar membutuhkan. Walaupun dengan sedikit polesan sana-sini, tapi hasilnya tidak pernah mengecewakan.

Saking seringnya membawa ke dua benda itu di dalam tas punggung ke mana-mana. Beberapa kawan mengindentikan kamera saku dan tape recorder itu dengan Si Peta-nya Dora yang juga selalu dibawa ke mana-mana. Dasar… Memang kadang-kadang kawan-kawan saya itu punya daya imajinasi yang berlebihan, sehingga kadang-kadang sukar membedakan antara dunia komik dan kartun dengan kenyataan kehidupan sehari-hari.

Nah, semuanya sudah siap. Tinggal pamitan sama Bagas di ruang siaran. Masih seperti tadi, Bagas sibuk dengan internet disela-sela dia bercuap-cuap di depan microphone. Dan sekarang nampaknya dia sedang membuka account social network-nya.

Oh iya, sekedar informasi, account miliknya yang sekarang sedang dibuka adalah ”’BaGaSBaGuSFullDuwa”’ katanya sengaja dikasih apostrophe tiga kali supaya bisa tetap ada di awal page kalo dilihat di friends list dari kawan-kawannya yang lain, demikian juga dengan empat account social networknya-nya yang lain yang selalu diberitahukan kepada pendengar setiap kali dia siaran. Ya gitulah..

Setelah pamitan ke Bagas sambil dia tidak lupa memberikan pesan sponsor,”Loe kok enggak pernah nge-like status gue?”, yang langsung saya jawab dengan cengiran serba salah, saya langsung meluncur ke Jalan Flamboyan dengan sepeda motor saya.

Angin malam yang menyapa wajah saya bisa sedikit menyegarkan pikiran dan mengurangi rasa berdenyut akibat migren. Suasana lalu lintas sepanjang perjalanan ini tidak begitu ramai tapi tidak juga terlalu sepi. Berbeda kondisinya dengan jalan-jalan raya yang berada persis di depan mall atau pusat perbelanjaan modern. Kemacetan adalah hal yang umum terjadi di sana. Mungkin ini suatu keunikan baru dari kota ini, ketika mall dan pusat perbelanjaan lebih sering menjadi penyebab kemacetan ketimbang pedagang kaki lima.

Sementara itu di bahu jalan setelah trotoar terlihat lintasan khusus untuk pengendara sepeda, tapi nampaknya lebih sering digunakan untuk ngetem bus kota bermenit-menit, lokasi parkir motor dan mobil, serta tempat berdagang buah-buahan dia atas mobil-mobil bak terbuka, ketimbang digunakan benar-benar untuk lajur sepeda. Kasihan para pengendara sepeda itu…

Setelah sempat kelewatan barang beberapa ratus meter, akhirnya saya bisa menemukan tempat yang namanya Jendela Cafe itu. Dari luar nampaknya tempatnya lumayan nyaman apalagi dengan tempat parkirnya yang luas di halaman depan cafe tersebut, tidak seperti cafe-cafe lainnya yang tempat parkir untuk motor hanya sekedar dibariskan memanjang di pinggir jalan atau bahkan di atas trotoar.

Cafe ini memakai sebuah bangunan tua peninggalan Belanda dengan deretan jendela-jendela kayu model kolonial di depannya. Keliatannya karena banyaknya jendela kuno inilah maka tempat ini memperoleh namanya. Penampilan depan seperti ini menimbulkan kesan mewah dan klasik, hampir sama dengan penampilan luar cafe-cafe lainnya.

Pintu masuk cafe tersebut sebenarnya tidak bisa sepenuhnya dikatakan pintu karena tidak memiliki daun pintu, yang ada hanyalah sebuah kusen pintu dari kayu jati yang sudah tua yang cukup lebar, sehingga praktis cafe tersebut sesungguhnya benar-benar terbuka luas dan setiap orang dapat dengan amat leluasa hilir mudik keluar masuk cafe tersebut.

Satu-satunya penutup untuk bingkai itu hanyalah rolling door yang dengan rapinya disembunyikan pada bagian atas kusen tersebut sehingga tidak mencolok perhatian. Nampaknya rolling door tersebut baru bisa terihat jelas jika sudah ditarik ke bawah untuk menutup pintu tersebut setiap malam ketika cafe ini selesai beroperasi.

Di sebelah kiri pintu masuk tersebut terdapat dua buah papan tulis hitam berukuran sedang yang bermandikan lampu sorot kecil, yang ditulis dan dihiasi dengan coretan kapur berwarna-warni berisi pengumuman mengenai jadwal event yang akan diselenggarakan pada waktu yang akan datang, juga informasi mengenai jam buka dan tutupnya cafe ini setiap harinya.

Khusus untuk jadwal buka dan tutupnya cafe ini, di salah satu papan itu tertulis:

Jendela Cafe

Buka setiap hari mulai pukul 16:00- 02:00 WIB
Khusus hari Sabtu/malam Minggu, waktu tutup tergantung mood dan kondisi fisik karyawan Jendela Cafe.
Harap maklum adanya.

Ttd.

Pelayan

Untuk hari-hari biasa mungkin jadwal tersebut cukup wajar dan sesuai dengan waktu beroperasinya warung-warung angkringan pada umumnya di kota ini -ini juga sesuai dengan apa yang diutarakan pemilik cafe ini ketika berkonsultasi dengan AE ketika hendak membuat iklan di radio-, yaitu mulai jam empat sore hingga sekitar jam dua dini hari.

Entah apa yang mempengaruhi saya, mendadak rasa migren di kepala gara-gara harus bikin iklan radio secara super cepat dan harus keren mendadak terlupakan sama sekali. Mungkin saja karena pintu yang selalu terbuka dan banyaknya jendela besar-besar yang juga terbuka lebar baik yang menghadap parkiran maupun yang menghadap kebun kecil di belakang cafe itu, sehingga memunculkan suasana lega dan lapang. Jauh berbeda dengan ruang produksi di kantor yang penuh tekanan pekerjaan itu.

Maka hari itulah pertama kali saya melangkahkan kaki memasuki Jendela Cafe dan pada saat itu sama sekali saya tidak pernah membayangkan pengalaman-pengalaman apa yang akan saya alami kelak yang berhubungan dengan tempat ini…

Catatan:  Ini adalah posting blog awal saya ketika pertama kali punya domain sendiri, pada 31 Desember 2006, ceritanya mau ber-prosa-ria sih. Diposting ulang dalam rangka Hari Blogger Nasional 27 Oktober 2012