Seberapa besar jiwa petualangan kuliner kita sebenarnya? Sudah setangguh apa petualangan kuliner yang pernah kita lakukan selama ini?

Biasanya kalau ada yang mengajak “petualangan kuliner” ke daerah tertentu, tujuannya adalah warung-warung atau tempat-tempat makan yang sudah lebih dulu terkenal dan sudah dikunjungi para pakar kuliner.

Mungkin karena lokasi warung/tempat makan itu jauh dari tempat kita biasa tinggal, atau lokasinya menyelip, harus keluar masuk gang sempit, maka kita merasa itu layak disebut “petualangan kuliner”.

Tapi menurut saya kok itu belum seperti petualangan kuliner sesungguhnya ya. Kalau petualangan jalan-jalan atau traveling, boleh lah. Bisa. Masuk.

Kalau “petualangan kuliner” keliatannya belum tentu sih. Karena walau tempatnya jauh, mencit, nlesep-nlesep, terpencil, dan sejenisnya, biasanya kita sudah punya keyakinan cita rasa makanan yang dihidangkan di warung itu kemungkinan besar kalau tidak enak, ya enak banget!

Di mana letak petualangan kulinernya kalau kita sudah yakin kemungkinan besar apa yang akan kita hadapi adalah kenikmatan belaka? Di mana letak tantangan yang harus dihadapi dengan keberanian, ketangguhan, dan ketabahannya?

Saya tersadar tentang hal ini saat beberapa tahun lalu bertemu lagi dengan @tianagustina. Dia seorang kawan lama yang cerita kalau sering melakukan kegiatan yang dia namakan sendiri “Bakso Random“.

Jadi sesuai namanya, kegiatan ini adalah mengunjungi warung bakso secara random, tidak berpedoman pada “Peta Kuliner Yogyakarta Paling Hits dan Maknyus!” atau sejenis-sejenisnya itulah.

Tujuannya tak lain dan tak bukan adalah untuk bertualang. Petualangan kuliner!

Karena di situ jiwa petualangan kuliner kita diuji. Kita tidak tahu apa yang akan kita hadapi. Tidak tahu bagaimana nanti rasanya, kita tidak tahu bagaimana pelayanannya, dan kita tidak tahu harga yang dikenakan sesuai dengan cita rasa panganan di warung itu tidak.

Ada tantangan dan ketidakpastian di situ. Adrenalin kuliner kita diuji. Karena bisa jadi kita akan puas, atau sebaliknya kita akan merasa kecewa, kagol, dan getun.

Tidak pasti enak, senang, dan menyenangkan. Namanya juga petualangan. Apakah kita pernah seberani itu dalam petualangan kuliner selama ini?

Sisi baiknya dari petualangan kuliner seperti ini adalah referensi tempat-tempat yang menjual makanan yang sesuai selera kita juga semakin bertambah. Tidak hanya berputar di tempat itu-itu saja yang sudah ratusan kali muncul di media dan postingan-postingan Instagram serta media sosial lainnya.

Oh iya, foto ini adalah penjual empek-empek di kaki lima dekat batas kota Yogyakarta di Jalan Laksda Adisucipto sisi utara jalan. Lokasinya nyempil di antara warung nasi/bakmi goreng dengan warung tongseng/tengkleng.

Meskipun mungkin buat kawan-kawan asli Palembang kuah cuko-nya ini dianggap cemen karena tak “segarang” di tempat aslinya, tapi dari beberapa tempat yang pernah dikunjungi, kuah cuko ini  rasanya cocok dengan lidah saya.