TemuKonco

Bertemu Kawan

Sela

Yogyakarta

Tembok Kotagede

Tembok Kotagede

Hal paling sering ditanyakan kawan-kawan manca yang pertama kali berkunjung ke Yogyakarta atau yang menyadari kalau saya berasal dari Yogyakarta adalah, “Mana yang benar dari nama kota ini? Yogyakarta, Yogya, Jogjakarta, atau Jogja?”

Sebagai orang yang sudah cukup lama tinggal dan bahkan memiliki KTP Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), dengan yakin saya menjawab bahwa semuanya sama saja. Tapi, saya menambahkan pada kawan manca negara itu, jika berkaitan dengan hal-hal formal, surat menyurat, dan sejenisnya, lebih baik menggunakan Yogyakarta, atau lebih tepatnya Daerah Istimewa Yogyakarta.

Gang Ngerikan

Gang Ngerikan

Memang buat beberapa orang yang belum begitu mengenal Yogyakarta, biasanya akan sedikit bertanya tentang hal tersebut. Belum lagi saat mengetahui pembagian Provinsi DIY secara administratif terdiri dari empat Kabupaten yaitu Bantul, Kulon Progo, Sleman, dan Gunungkidul, serta sebuah Kotamadya yang bernama…iya, tepat sekali, Yogyakarta.

Untungnya dalam keseharian masalah penamaan ini tidak terlalu menimbulkan permasalahan, terutama dalam percakapan sehari-hari. Apalagi masyarakat Yogyakarta sudah kerap menggunakan istilah “Kodya”yang merujuk pada Kotamadya Yogyakarta, untu membedakannya dengan Yogyakarta yang maksudnya adalah provinsi.

Masalah penamaan ini juga tak jarang jadi materi joke yang cukup menggelitik, misalnya: ada pihak —dengan merujuk penamaan UNEJ (Universitas Negeri Jember), UNNES (Universitas Negeri Semarang)—menganggap penamaan UNY (Universitas Negeri Yogyakarta) itu kurang tepat, karena mengingat secara administratif lokasinya berada di Sleman, maka nama yang tepat adalah Universitas Negeri Sleman, disingkat UNSLEM. Tapi jangan diambil hati, itu tadi hanya joke. 

Sementara itu, jika ada yang menyebut Jogjakarta, itu juga tak bisa disalahkan sebab memang pada masa lalu, orang-orang luar mengenal Yogyakarta dengan  sebutan itu. Sedangkan kata Yogya dan Jogja, sebenarnya adalah bentuk sebutan singkat dari kedua sebutan itu.

Namun demikian, untuk urusan yang sifatnya resmi dan formal, misalnya surat-menyurat, maka “Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta” digunakan untuk merujuk pada Provinsi, sementara “Kotamadya Yogyakarta” digunakan untuk merujuk pada Kodya.

Semoga ini tidak membingungkan lagi ya…

Artikel ini sebelumnya telah muncul di Truly Jogja.

4 Comments

  1. zam

    sekadar menambahkan, di lidah orang bule, bilang “yogyakarta” itu lebih sulit, daripada “jogjakarta”.. kalo aku ditanya soal ini, jawabanku selalu, dalam tulisan, gunakan Yogyakarta (dari Ngayogyakarta Hadiningrat), sedangakan dalam sebutan/tulisan tak resmi bisa pake Jogja..

    orang lama malah sering bilang, “Yoja..”

    • Iya Mas, kalau dalam penulisan untuk urusan formal/resmi digunakan Yogyakarta. Sementara kalau Jogja. selain sebutan yang non-formal, juga digunakan sebagai “brand” bagi Yogyakarta. Nek ra kleru kuwi sih.. 😀

  2. secara ilmu bahasa, dulu ejaan yang digunakan di Indonesia disebut Ejaan Lama. Penulisan Jogjakarta dibaca Yogyakarta. Di tahun 1972, muncullah Ejaan Yang Disempurnakan (EYD), dimana penulisan:
    ‘oe’ menjadi ‘u’
    ‘tj’ menjadi ‘c’
    ‘dj’ menjadi ‘j’
    ‘nj’ menjadi ‘ny’
    ‘j’ menjadi ‘y’

    menurut aturan EYD, Jogjakarta menjadi Yogyakarta (dari Ngayogyakarta Hadiningrat seperti disebutkan mas Zam) dan sesuai fakta sejarah.

    nampaknya pengaruh penulisan ‘Jogjakarta’ yang seharusnya dibaca ‘Yogyakarta’ itu berlanjut. orang masih mengingat penulisan Jogjakarta itu kemudian terbacalah sesuai EYD sehingga banyak orang melafalkannya dengan JOGJAKARTA.

    yak-e lho…… 🙂

Leave a Reply

Theme by Anders Norén

%d bloggers like this: