Ternyata di Instagram tidak lama tadi baru saja ada sedikit keramaian. Mungkin saking serunya keramaian tersebut, sampai-sampai perdebatan seputar kejadian tersebut juga meriah di twitter. (Eh udah kayak anak media sosial beneran belum sih, kalo paragraf pembukanya kayak gini?)

Pemicunya adalah sebuah postingan di Instagram yang menggambarkan segelas kopi ditumpahkan dari ketinggian tertentu ke meja yang di atasnya ada beberapa cangkir kopi yang bertumpuk, serta beberapa (mungkin) saucer dari kayu di sana.

Kalo susah membayangkannya, silahkan berburu di twitter. Karena di IG keliatannya sudah dihapus postingannya.

Namanya juga di internet, di media sosial, yang apa-apa kalo bisa diributin, maka berbagai macam celaan dan dukungan terhadap karya si fotografer itu bermunculan baik di twitter maupun di IG. Kebanyakan perdebatan berkisar tentang mubazir karena buang-buang makanan/minuman, tidak menghargai kerja keras barista, tidak menghormati jasa para petani kopi, dan melecehkan coffee shop-nya .

Sementara dari kubu pembela kebanyakan berkisar tentang karena sudah membayar si pembeli kopi bebas melakukan apapun pada kopinya. Ada pula yang berpendapat konsekwensi sebuah proses pemotretan makanan (food photography) seperti ini adalah tercecer/terbuangnya makanan dan minuman yang akan dipotret. Ada pula yang menganggap itu foto yang banyak dilakukan food blogger sambil memperlihatkan postingan IG dari akun lain yang memperlihatkan kopi yang baru (yang latte art-nya masih jelas) ditumpahkan.

Sementara itu pembelaan diri dari si fotografer yang mengatakan kalau itu kopi kotor, jadinya dipake buat siram.

Kejadian ini membuat saya ingat Pak Pin. Hubungan dan sepak terjangnya dengan dunia per-kopi-an saya juga kurang tahu, kecuali memang beliau salah seorang pecinta kopi pabrikan yang kemasannya bergambar kapal api. Berarti jelas yang membuat saya teringat beliau bukan karena kopi.

Pak Pin adalah salah seorang pengajar di sebuah sekolah gratis fotografi partikelir di Yogyakarta. Saat mengajar, dia pernah dengan caranya yang pagob tapi menghibur, mengkritisi beberapa caption yang sering ada postingan IG pada masa itu. Misalnya saat banyak yang menggunakan hashtag #nofilter untuk menjelaskan foto yang diunggah di IG tersebut benar-benar warna asli tanpa ada menggunakan filter yang disediakan IG.

“Lha terus kalau fotonya #nofilter, njuk ngopo?” demikian beliau mengomentari.

Dari Pak Pin juga kami mendapatkan sebuah istilah yang sangat pagob sampai-sampai saya tidak tega menuliskannya di sini, yang istilah tersebut merujuk pada kelompok mereka-mereka yang mampu membeli kamera mahal namun belum paham teknik dan etika memotret. Kalau pengen tahu, japri ja…

Mereka-mereka yang sibuk memotret di sebuah proses keagamaan tanpa menghiraukan tata krama, aturan, dan etika di tempat ibadah tersebut, mungkin juga bisa tergolong dalam istilah tersebut.

Atau mereka-mereka ini saat ada panggung atau konser, tanpa permisi mendesak-desak sampai ada di depan kalian sehingga menutupi pandangan ke panggung, selesai memotret di depan kalian si orang ini tidak segera menyingkir dari situ melainkan chimping sambil tetap berdiri menutupi pandangan kalian, selesai chimping, alih-alih pergi dari situ, orang ini kembali memotret di lokasi yang sama dalam waktu lama tanpa memperdulikan orang-orang di belakangnya tidak bisa menikmati pemandangan di panggung. Konon pernah salah seorang dari kelompok ini pernah ini mendapat lemparan tripod dari fotografer beneran yang demi tidak ingin mengganggu penonton, dia mengambil posisi agak dibelakang lengkap dengan lensa tele dan tripodnya.

Pak Pin tak segan-segan mengomentari foto-foto murid-muridnya yang oleh si murid itu sendiri dianggap sudah sangat bagus dan aesthetic, tapi di tangan dan mata beliau jadi ambyar saat ditanyakan mana “POI-nya” atau yang lebih sering adalah “Apa yang mau kamu sampaikan dari fotomu ini?” dan jawaban “Ya bagus aja  pemandangannya” tidak masuk hitungan jawaban.

Jawaban yang diharapkan tidak harus yang berat-berat selevel “Dengan pendekatan semiotika ala Saussure saya ingin menggambarkan…”, tapi bisa sesederhana “Sup ayam yang baru saja masak dan siap dihidangkan di meja makan sebuah keluarga kecil sederhana”.

Pokoknya, walaupun teknologi digital lebih memudahkan para fotografer memotret tanpa khawatir film-nya akan habis di jepretan ke 36 atau lebih dikit, tapi tetap saja saat memotret sebaiknya sudah ada gambaran kira-kira nanti hasil fotonya seperti apa dan kira-kira apa yang mau kita sampaikan dari hasil foto seperti itu. Sebuah foto yang bercerita.

Kembali ke postingan IG kopi tumpah tadi (yang sudah dihapus oleh si empunya akun), terlepas dari apakah itu kopi asli, kopi sisa, atau kopi kotor, memang foto itu terlihat bagus dan nampaknya sempat mendapatkan “Like” yang banyak.

Pencahayaan dan pengaturan kecepatan bukaan kamera nampaknya juga sudah diperhitungkan sehingga bisa menimbulkan efek freeze pada cairan kopi (yang konon kotor) yang ditumpahkan itu.

Hanya saja yang agak mengganjal memang dari beberapa penghargaan food photography di luar negeri saya belum pernah melihat ada foto makanan/minuman yang ditumpahkan. Kalaupun ada makanan/minuman yang disebarkan/dijatuhkan biasanya masih dalam kondisi belum diolah, seperti biji-biji kopi yang disebar di meja di seputar cangkir kopi, buah apel yang dijatuhkan ke air, keratan cokelat blok di dekat cake cokelat, atau serpihan keju di sekeliling pizza.

Mungkin teknik tumpah menumpah ini pendekatan baru dalam dunia food photography yang lebih kekinian kali ya?

Saya jadi membayangkan percakapan antara Pak Pin dengan si fotografer kalau sedang membahas foto ini:

Pak Pin: Di foto ini apa yang mau kamu sampaikan?
Fotografer: Ya itu Pak, kopi yang ditumpahkan dari ketinggian sekitar 50cm  ke cangkir yang dalam posisi terguling di bawahnya.
Pak Pin: Iya, terus maksudnya apa?
Fotografer: Maksudnya “Splash”, Pak… “Splash…”
Pak Pin: Kalau gitu, kenapa harus pakai kopi? Bukankan “Splash” lebih tampak menyegarkan kalau pakai air bening atau air es atau air bening di botol bening yang baru keluar dari lemari es?
Fotografer: Beda Pak, tekstur dan kontur cairan kopi ini keliatan lebih bagus kalau di high speed gini Pak.
Pak Pin: OK, setelah bisa mencapai tekstur dan kontur cairan kopi seperti yang kamu maksud, kemudian itu membantumu untuk menyampaikan sesuatu melalui fotomu ini?
Fotografer: Yaaa… Kan keliatan bagus dan keren Pak. Pasti yang nge-LIKE banyak.
Pak Pin: Jadi foto ini bukan bentuk protesmu karena kopinya tidak enak?
Fotografer: Bukan Pak.
Pak Pin: Protesmu karena coffee shop-nya tidak memberikan pelayanan yang memuaskan?
Fotografer: Bukan juga Pak. Lha wong kopi dan coffee shop-nya tidak mengecewakan sama sekali kok.
Pak Pin: Terus kenapa kok mengambil foto kopi ditumpahkan ke cangkir yang ngglimpang?
Fotografer: Ya itu tadi Pak, ngejar biar air kopinya bisa “Splash…”
Pak Pin: Lha terus kalau di foto kopinya bisa “Splash”, njuk ngopo?