TemuKonco

Bertemu teman, menemukan kawan

Boga

Cerita tentang Kopi

Cerita-Tentang-Kopi

Cerita tentang kopi ini terinspirasi  artikel Mas Vindrasu yang “gerr” tur menohok tenan beberapa hari lalu.  Mengingatkan “perdebatan kecil” beberapa kawan seputar cerita tentang kopi yang hingga kini masih sering terulang.

Memang, “perdebatan kecil” ini tidak berlangsung secara frontal, pihak-pihak yang memiliki pendapat berbeda tak saling hadap-hadapan lalu eyil-eyilan gitu.

Tapi pendapat-pendapat tentang kopi yang saling bersilangan dan berbeda tersebut sesekali muncul baik dalam bentuk semacam sindiran di media sosial, dan lebih sering lagi dalam obrolan saat sedang njagong atau nongkrong.

Dan saya, yang ndilalah sering nongkrong dan njagong di sana dan di sini, jadi sering mendengarkan argumen pihak-pihak yang saling rerasan sembari berdebat non-frontal bab kopi tersebut. Sehingga lama kelamaan jadi punya cerita tentang kopi versi saya sendiri.

 

Cerita tentang Kopi Pihak Pertama

Salah satu pihak, seolah memandang kopi sebagai sesuatu yang benar-benar agung dan berharga. Bahkan mereka percaya kalau secara ekonomi, kopi adalah komoditi terbesar kedua yang diperdagangkan secara internasional setelah minyak bumi. Sehingga saat akan mencicipi segelas kopi, ubo rampe-nya sangat detail dan teliti.

Mulai dari pemilihan biji kopi, proses pemanggangannya, cara penyimpanannya yang sebaiknya masih dalam bentuk biji jangan dalam bentuk sudah digiling, kemudian sehalus atau sekasar apa biji kopi tersebut akan digiling, ini kemudian akan menentukan dengan metode apa biji kopi tersebut diseduh.

Oh iya, kopi yang diseduh biasanya single origin dan tidak dicampur macem-macem lagi. Hanya cairan kopi itu sendiri, lengkap dengan segala kesyahduan dalam tiap tetesnya.

Bahkan sampai ada kawan-kawan yang seolah “mengharamkan” minum kopi sachet-an, sebab kopi asli adalah ya yang single origin itu bukan yang dicampur macem-macem, dan syukur-syukur bisa memilih dan menentukan profil yang diinginkan saat proses pemanggangan alias roasting biji kopinya.

Sampai situ saja? Oh beluuum… Masih ada lagi hal-hal kecil tapi penting yang harus diperhatikan, seperti suhu air yang akan digunakan untuk menyeduh, ruangan tempat menikmati kopi tersebut yang sebisa mungkin bebas aroma selain aroma kopi yang wangi itu sendiri, serta jangan dibubuhi gula karena ini minum kopi bukan minum gula.

Akhir-akhir ini di Yogyakarta semakin banyak kedai-kedai kopi menawarkan konsep menikmati kopi seperti ini. Bahkan sampai cerita tentang kopi tersebut berasal dari daerah mana, nama petaninya siapa, dan cara pengolahannya bagaimana, juga menjadi suguhan menarik tersendiri bagi para pengunjung.

Biasanya kedai-kedai kopi seperti ini jadi sasaran para penggemar food photography untuk memperkaya jumlah postingan di akun instagram mereka.

 

Cerita tentang Kopi Pihak Kedua

Sementara ada kawan-kawan lain yang punya cerita tentang kopi lain. Mereka berpendapat bahwa kopi yang enak itu ya yang selama ini dinikmati, yang roastingnya sampai hitam sekali, agak sedikit di atas Spanish Roast. Lalu saat memanggang (atau lebih tepatnya menyangrai karena memang biasanya dilakukan di atas wajan tebal besar dan panas), biasanya dicampur elemen non-kopi, ada yang jagung, ada yang beras, dan bahkan di suatu daerah, yang diseduh untuk dijadikan “kopi” adalah daun kopi itu sendiri.

Kemudian cara menikmatinya juga bebas, boleh sambil merokok, bisa dicampur gula, dicemplungi arang, dicampur susu kental manis saat masih dalam bentuk bubuk di dalam lalu dituangi air panas. Pokoknya bebas. Bahkan ada metode memasak kopi yang memasukkan bubuk kopi langsung ke air yang sedang mendidih di atas kompor, tanpa harus menunggu air tersebut suhunya turun barang beberapa derajat lebih dahulu.

Singkatnya, kalau boleh dibilang kawan-kawan ini bertolak belakang dengan kawan-kawan yang sebelumnya. Bahkan ada yang ekstrim menyatakan tak bisa menikmati kopi ala single origin tersebut karena menurut mereka rasanya asem. Kopi kok asem, biasanya kan pait. Gitu.

 

Mana yang Benar?

Sebenarnya dua pendapat dari kawan-kawan saya itu tidak bisa disalahkan semua sih (padune wedhi kelangan kanca), sebab saya percaya minum kopi dan menikmatinya itu adalah suatu yang benar-benar personal dan ngabudayan. Tidak sekadar minum mak cleguk hanya untuk menghilangkan haus atau mengusir kantuk belaka. Tapi ada latar belakang kebiasaan, ekonomi, dan kahanan suatu masyarakat di baliknya.

Kawan-kawan penikmat kopi yang ubo rampe-nya pating clekunik itu misalnya, harus kita apresiasi karena mereka memperkenalkan bagaimana sebenarnya cara kopi diperlakukan, diolah, dan dinikmati peradaban dunia yang lebih dahulu mengenal kopi ketimbang kita.

Jadi setidaknya metode-metode yang lebih mapan dan dilakukan secara bertahun-tahun secara internasional dalam mengolah dan menikmati kopi, dapat kita pelajari di sini.

Sehingga kita tidak “kapusan” hanya karena ada sebuah gerai kopi besar terkenal dan punya cabang di seluruh dunia yang buka cabang di kota kita, lalu ternyata ada menu green tea latte yang enak dan paling laris ditawarkan di kedai itu, lantas kita berkesimpulan bahwa “kopi yang benar di seluruh dunia itu adalah kopi green tea latte, buktinya ada di menu gerai kopi internasional itu dan laris kok”.

Lalu tentang kawan yang “mengharamkan” atau anti dengan kopi sachet, sampai di level tertentu hal ini bisa disetujui. Terutama dengan menjamurnya kopi-kopi yang katanya enak, tapi tidak perih di lambung, tapi kopi luwak, tapi warnanya putih (dan ini diperkuat dengan memperlihatkan biji kopi yang berwarna putih di sebuah tayangan iklannya).

Bukannya kenapa-kenapa, tapi gara-gara  penasaran tentang konsep white coffee, saya mencoba melihat kemasan sachet-nya, ternyata satu-satunya ingredient-nya yang berkaitan dengan kopi yang tertulis di situ adalah “kopi instant” yang dulu saya lihat persentasenya hanya 10 persen dari keseluruhan sachet, tapi tadi malam ketika saya lihat kemasan dari produk yang sama, nampaknya persentase-nya sudah dihilangkan.

Bayangkan, sudah rahasia umum kalau kopi instant (kopi instant lho ya, bukan white coffee) itu saja, kopi aslinya hanya sebagian dari keseluruhan isi sachet.

Nah sementara jika dalam white coffee disebutkan bahwa kopi instan adalah SALAH SATU BAGIAN dari seluruh isi sachet, kira-kira kopinya tinggal berapa persen, coba? Dan satu hal lagi, dari kopi yang cuman sebagian keciiiiiil dari seluruh isi sachet itu, kira-kira yang beneran kopi luwak berapa persennya ya?

Belum lagi konsep “white coffee” yang mereka gambarkan melalui biji kopi yang berwarna putih pating gelinding memenuhi layar tivi sambil sesekali diselingi tampilan Mbak-mbak diiringi suara perempuan yang berulang-ulang menyebutkan “wait kafe..” dengan cara berdesah. Saya dalam hati kembali bertanya: Kopinya berapa persen ya?

Sebab, white coffee yang selama ini saya tahu adalah kopi biasa (berwarna hitam) yang dalam proses penyangraian menggunakan mentega/margarine, tanpa ditambah bahan-bahan lain (seperti jagung atau beras). Kopi Solong — Ulee Kareng, biasa menggunakan metode ini dalam mempersiapkan kopinya.

 

Cerita tentang Kopi orang Indonesia

Namun pada bagian tertentu, saya tidak bisa begitu saja mengharamkan kopi sachet, setidaknya bagi saya sendiri. Terutama kopi-kopi hitam yang non-instan seperti misalnya kopi “Prau Geni”, yang cukup populer di Indonesia.

Benar, saya tahu bahwa “Prau Geni” bukan seluruhnya terdiri dari kopi asli, mungkin buat yang biasa menikmati kopi ini tidak dapat dengan mudah mengetahuinya. Tapi jika sempat sekali dua mencicipi kopi single origin (misalnya sore harinya), lalu malam hari coba menikmati kopi ini, biasanya akan terasa jejak-jejak rasa jagung di kopi ini.

Tapi ini tidak masalah, karena memang sebagian besar budaya kita, orang Indonesia, dalam menikmati kopi sejak jaman dahulu ya kurang lebih seperti itu. Dicampur jagung saat menyangrai, atau ada pula yang dicampur beras.

Itu cara orang Indonesia menikmati kopi dari jaman dahulu, yang konon tercipta karena kahanan, sebab mereka tidak seberuntung para pecinta kopi di negara-negara lain yang mampu membeli dan menikmati kopi tanpa harus dicampur macem-macem.

Karena sudah jadi tradisi, malah di beberapa tempat ada kopi-kopi merk daerah yang nyaris melegenda. Meskipun para penikmatnya tahu bahwa kopi legendaris tersebut adalah -mereka mengistilahkan- kopi JITU (kopi ne siji, jagung e pitu).

Memaksa orang-orang seperti ini mencoba dan mencicipi kopi dengan cara yang “benar”, mungkin seperti memaksa mereka mengganti kaos, sarung, dan sandal yang mereka pakai dengan tuxedo lengkap dengan bow-tie-nya serta sepatu kulit kinclong-kinclong. Sama-sama tidak ada yang salah, tapi membuat yang bersangkutan merasa kurang nyaman karena tak terbiasa.

Bahkan kalau perlu kita membanggakan kopi campur jagung dan/atau beras ala Indonesia ini lalu memperkenalkannya ke dunia luar sebagai ciri khas kita. Ini serius.

 

Cerita tentang Kopi dari New Orleans

Percaya atau tidak, New Orleans, sebuah kota di Amerika Serikat malah dengan bangga dan bahkan mengemas Coffee Chicory sebagai salah satu hal yang harus dinikmati jika berkunjung ke sini.

Coffee Chicory adalah –sama seperti kopi jagung ala Indonesia– kopi yang dicampur dengan bubuk akar tumbuhan Chicory (Cichorium intybus). Dalam praktiknya, biasanya perbandingan antara bubuk akar chicory sangrai ini dengan kopi antara 30–50%.

Kopi ini muncul juga disebabkan kahanan, ketika pasokan kopi mereka terganggu akibat perang sipil Amerika dan orang-orang New Orleans yang sudah terbiasa ngopi itu kemudian mencari alternatif lain untuk dicampurkan ke persediaan kopi mereka yang makin menipis itu. Lalu terciptalah Coffee Chicory.

Kebanggaan mereka pada Coffee Chicory ini begitu lekat hingga saat ini sehingga lahir anggapan bahwa belumlah lengkap ke New Orleans kalau belum merasakan tiga kenikmatan: Coffee Chicory, Beignet, dan Jazz.

Jadi ketimbang saling berdebat tentang apa dan bagaimana kopi yang “benar” itu, mungkin sudah saatnya kita memperluas varian kopi yang kita tawarkan pada masyarakat dunia.

Jadi tak hanya menawarkan Kopi Toraja, Mandailing, Gayo, Bali, Wamena, dan sejenisnya; namun mungkin bisa juga kita mulai juga menawarkan “Kopi Jitu”, “Kopi Beras”, “Kopi Daun Kopi”, atau bahkan “Kopi Racik Rempah” ala Kediri yang dahsyat itu.

Siapa tahu, kelak ada anggapan dari orang luar negeri bahwa belumlah lengkap ke Gunungkidul jika belum merasakan tiga kenikmatan: Kopi Jagung, Gaplek, dan Campursari.

Monggo ngunjuk kopi

Originally published at jagongan.org on October 26, 2014.

4 Comments

  1. asyik ceritanya 😂

  2. Hastira

    makasih ceritanya

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Theme by Anders Norén