TemuKonco

Bertemu teman, menemukan kawan

Pengumuman

5 Seniman/Kelompok Seni Terpilih dari Pameran Platform Perupa Muda Biennale Jogja XV Equator #5 2019

5 Seniman/Kelompok Seni Terpilih dari Pameran Platform Perupa Muda Biennale Jogja XV Equator #5 2019

5 Seniman/Kelompok Seni terpilih dari Pameran Platform Perupa Muda Biennale Jogja XV Equator #5 2019 “Dari Batu, Air, dan Alam Pikir… Untuk Udara dan Kehendak Bebas Manusia” oleh Dewan Juri yang terdiri dari Faruk HT (budayawan), Nasir Tamara (akademisi), Nindityo Adipurnomo (seniman), Eko Prawoto (arsitek), dan Zamzam Fauzanafi (akademisi).

5 seniman/kelompok seni yang terpiih berdasarkan pada beberapa kriteria, yaitu aspek visual (bahasa ungkap dan metafor) karya; kesesuaian antara karya dengan gagasan tentang pinggiran yang menjadi tema Biennale Jogja XV – 2019; keselarasan antara material yang digunakan dengan isu yang dibicarakan; Kebaruan atau inovasi dalam segi visual; penggunaan material; serta perspektif terhadap isu.

Berdasar kriteria-kriteria tersebut, dari 16 peserta, terpilih 5 seniman/kelompok seni, yaitu:

Wisnu Ajitama dengan karya berjudul Umbai-Umbai; Yosep Arizal dengan karya berjudul Tanggalan Mani; Meliantha Muliawan dengan karya berjudul Point of Interest; Studio Malya (kelompok) dengan karya berjudul Have You Heard It Lately?; dan Pendulum (kelompok) dengan karya berjudul Rest In Fear.

5 Seniman/Kelompok Seni Terpilih Pameran Platform Perupa Muda Biennale Jogja XV Equator #5 2019

Kelima seniman/kelompok seni terpilih selanjutnya akan mendapat proses pendampingan lebih lanjut untuk mempersiapkan partisipasi mereka dalam pameran utama Biennale Jogja XV Equator #5 2019.

Pameran utama Biennale Jogja XV Equator #5 2019 akan berjudul “Do We Live In the Same PLAYGROUND?” dengan fokus mengangkat tema pinggiran. Judul tersebut merupakan pertanyaan dan ajakan untuk solidaritas.

Sehingga pameran ini dimaksudkan sebagai pertanyaan tentang posisi seniman, audiens, dan pihak-pihak lain dalam berbagai isu yang dihadapi, kritik, atau sindiran terhadap praktik seni yang menjadikan dunia dan penderitaannya sebatas jadi medan permainan, konsep, dan inspirasi.

Selain itu dengan mengusung judul itu juga dimaksudkan sebagai respons terhadap isu bersama dan juga beragam persoalan yang berlangsung di konteks negara masing-masing yang digerakkan oleh otoritas tertentu.

Seniman-seniman partisipan Biennale Jogja XV Equator #5 2019 yang akan digelar pada 20 Oktober – 30 November 2019 adalah:

Abdul Semute (Surabaya) | Angki Purbandono (Yogyakarta) | Anida Yoeu Ali (Kamboja) | Arief Setiawan (Pontianak) | Arisan Tenggara (Asia Tenggara) | Bing Lathan (Pontianak) | Bounpaul Phothyzan (Laos) | Citra Sasmita (Denpasar) | Cut Putri Ayusofia (Banda Aceh) | Deden Sambas (Bandung) | Dian Suci Rahmawati (Yogyakarta) | Ferial Afiff (Yogyakarta) | Gan Siong King (Malaysia) | Geger Boyo (Yogyakarta) | Hendra Priyadhani “Blangkon” (Yogyakarta) | Hildawati Soemantri Sidharta (Jakarta) | Ika Vantiani (Jakarta) | Ipeh Nur (Yogyakarta) | Khairulddin Wahab (Singapura) | Khonkaen Manifesto (Thailand) | Ling Qiusumbing Ramilo (Filipina) | Made Bayak (Denpasar) | Meliantha Muliawan (Yogyakarta) | Moe Satt (Myanmar) | Moelyono (Tulung Agung) | Mukhlis Lugis (Makassar) | Muslimah Collective (Thailand) | Nasirun (Yogyakarta) | Nerisa del Carmen Guevara (Filipina) | Nge Lay (Myanmar) | Nguyen Thi Thanh Mai (Vietnam) | Nguyen Trinh Thi (Vietnam) | Pathompon Mont Tesprateep (Thailand) | Pisitakun Kuntaleang (Thailand) | Pendulum (Yogyakarta) | Popok Tri Wahyudi (Yogyakarta) | Ratu Rizki Saraswati (Jakarta) | Ridwan Alimuddin (Makassar) | Roslisham Ismail aka Ise (Malaysia) | Sutthirat “Som” Supaparinya (Thailand) | Suvi Wahyudianto (Yogyakarta) | Studio Malya (Yogyakarta) | Tajriani Thajib (Polewali Mandar) | Tamara Pertamina (Yogyakarta) | Tran Luong (Vietnam) | Vandy Rattana (Kamboja) | Yennu Ariendra (Yogyakarta) | Yin Yen Sum (Malaysia), Yosefa Aulia (Bandung) | Yosep Arizal (Yogyakarta) | Yoshi Fajar (Yogyakarta) | Wisnu Ajitama (Yogyakarta)

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Theme by Anders Norén