Brongkos 24 jam yang bisa  didatangi dan dipesan kapan saja sepanjang hari ternyata ada di Yogyakarta. Brongkos sudah tidak asing untuk sebagian besar masyarakat Yogyakarta dan sekitarnya. Hidangan ini sering dianggap mirip dengan rawon dari Jawa Timur karena sama-sama memiliki kuah yang berwarna gelap. Itu karena digunakannya kluwek alias kepayang alias Pangium edule sebagai salah satu campuran bumbunya.

Hanya saja bedanya kalau rawon benar-benar hitam warna kuahnya. Sementara kalau brongkos, agak cenderung kecokelatan. Ini karena selain menggunakan kluwek, ada juga campuran santan sebagai salah satu bahan pembuatnya.

Rawon mungkin bisa dikatakan sebagai sup daging berwarna hitam, tapi kalau brongkos menurut saya agak lebih rumit kalau sekadar dikatakan sebagai sup daging.

Alasannya karena di hidangan ini tidak mesti selalu ada unsur daging sapinya. Kadang-kadang potongan daging cuma tetelan daging sapi saja, bahkan tak jarang hanya ada potongan-potongan tahu yang menyertai komponen semi-wajib brongkos, yaitu kacang tolo (Vigna unguiculata ssp. unguiculata) dan kulit biji melinjo (Gnetum gnemon).

Banyak warung yang menyediakan hidangan brongkos di Yogyakarta. Mulai dari yang benar-benar menjadikan brongkos ini sebagai sajian utamanya, sampai ke warung-warung makan biasa di kampung-kampung yang sering jadi langganan para mahasiswa dan pekerja mal/supermarket setempat.

Namun demikian, dari sekian banyak warung yang menyediakan brongkos tersebut, sampai beberapa hari yang lalu, saya belum pernah menemukan yang buka dan menyediakan brongkos sepanjang hari, selama 24 jam.

Sampai kemudian saya menemukan Warung Brongkos Ibu Hj. Arifah yang beroperasi di perempatan ring road utara Condongcatur. Tepatnya di sisi utara ring road, pojok sebelah timur jalan. Jadi kalau kita berhenti di lampu merah dari arah selatan/Jalan Gejayan menuju utara (arah terminal Condongcatur), warung brongkos itu ada di pojok kanan depan kita.

Warung brongkos 24 jam Yogyakarta

Warung brongkos 24 jam Yogyakarta

Sebenarnya selain warung brongkos di warung ini juga menyediakan hidangan-hidangan lain, yaitu soto Pak Marto cabang Tamansari, dan yang tak kalau unik adalah burger dari daging kambing. Mungkin lain waktu bakal cerita lebih banyak tentang burger kambingnya ini. Sama seperti brongkos, semua hidangan yang ditawarkan di warung itu tadi tersedia selama 24 jam non stop!

Ketika mendengar ada warung brongkos 24 jam ini, saya iseng mencobanya beberapa hari kemudian. Untuk lebih membuktikan kebenarannya, sengaja saya datang menjelang tengah malam, sepulang dari berkegiatan di festival sebelah.

Ternyata benar, semua menu yang ada di warung ini, baik itu brongkos, soto, dan burger (ditulisnya “berger”) kambing tersedia, lengkap dengan hidangan-hidangan pendampingnya seperti tempe goreng, mendoan, sate rempelo ati, sate usus ayam, dan sate telur puyuh.

Karena dari awal penasaran dengan brongkos yang katanya tersedia terus selama 24 jam, saya memilih menu hidangan ini. Alasannya tentu saja karena sejauh yang saya tahu, warung brongkos memang ada yang buka sampai dini hari, tapi ya tetap saja, tidak sampai sehari-semalam buka terus.

Karena ini pertama kali berkunjung ke sini, untuk amannya saya memilih menu brongkos dengan telur campur.  Jadi nasi dan brongkosnya langsung dicampur jadi satu di piring, bukan nasi sendiri dan brongkos juga sendiri di mangkuk. Sebenarnya ingin mencoba yang paling murah, yaitu brongkos ceker, tapi nampaknya kok kalau malam-malam ngothot-othot ceker rasanya kurang khusuk ya.

Sejurus kemudian brongkos pesanan saya datang. Awalnya agak heran karena berbeda dengan brongkos campur nasi yang selama ini pernah saya temui, kuahnya relatif lebih sedikit. Iya, kuahnya memang ada, tapi tidak sampai ngêcêmbêng (ini bahasa Indonesianya apa ya?) seperti di warung-warung lain.

Kuah yang relatif sedikit ini ternyata malah memberikan ruang bagi elemen-elemen lain di brongkos yang selama ini mungkin tidak begitu mendapat perhatian dari mereka yang mencicipinya. Sebab kita jadi benar-benar bisa merasakan bumbu-bumbu yang meresap dan berpadu dengan rasa dan tekstur kacang tolo dan tahu dengan sempurna.

Jadi rasa yang muncul benar-benar dari elemen-elemen tersebut, tanpa bantuan kuah brongkos yang biasanya juga turut memberikan sumbangan cita rasa ke indera pengecap, yang tak jarang di beberapa warung lain malah jadi menutupi rasa asli kacang tolo dan tahunya itu sendiri.

Karena ini brongkos 24 jam, jadi wajar kalau ada yang menanyakan, “Bagaimana menjaga mutu hidangan di warung yang selama dua puluh empat jam selalu buka?”

Nah, hidangan-hidangan seperti brongkos, rawon, dan sayur lodeh —dalam sebuah obrolan obrolan ringan, santai, dan tidak serius dengan beberapa kawan pecinta makanan— memiliki keistimewaan tersendiri dibanding hidangan-hidangan Indonesia lainnya.

Keistimewaan tersebut adalah jika dimasak dan diolah dengan baik dan tepat, maka jika semakin sering dipanasi alias dihangatkan, sayur lodeh, rawon, dan juga brongkos biasanya rasanya akan semakin gurih dan mirasa. Ibu-ibu rumah tangga yang sering punya pengalaman ngêngêt hidangan-hidangan tadi biasanya langsung paham dan setuju.

Sementara untuk bapak-bapak di Yogyakarta dan sekitarnya, terutama yang istrinya sedang mengandung, kalau suatu saat nanti mendadak sang istri terbangun jam 2 dini hari kemudian ngidam ingin mencicipi brongkos, sudah tahu kan harus menuju ke mana?