September 25, 2020
gudeg salak

Gudeg Salak, sudah pernah mencicipi?

Gudeg salak. Menemukan foto ini ketika iseng membuka galeri foto digital beberapa tahun lalu, langsung teringat saat diajak kawan-kawan Parti Gastronomi berbagi tentang “Tradisi dan Kreasi Kuliner Jogja Kini” beberapa hari lalu.

Di kesempatan itu saya bercerita tentang gudeg. Mulai dari sejarahnya, cara pandang orang Jogja terhadap gudeg sebagai makanan khas, serta tentang kata “gudeg” yang sesungguhnya bukan bermakna “nama makanan/hidangan” tertentu, melainkan lebih ke “cara atau metode memasak” hidangan/makanan.

Karena “gudeg” ternyata berasal dari kata “ngudhêg” yang bermakna “mengaduk”. Dengan demikian kata “gudeg” sesungguhnya setara dengan kata “goreng” di nasi goreng, “ungkep” di ayam ungkep, “bakar” di ikan bakar, “panggang” di babi panggang, dan semacamnya.

Tentu saja agar lebih meyakinkan, saya memberikan beberapa contoh gudeg dengan bahan baku yang umum ditemui yaitu nangka muda, manggar (bunga kelapa), dan ubi kayu (singkong). Bahkan sempat juga saya tampilkan resep gudeg dari daun kosambi, yang saya peroleh ketika berkunjung ke perpustakaan Reksa Pustaka Pura Mangkunegaran beberapa tahun lalu.

Parti Gastronomi: Tradisi & Kreasi Kuliner Jogja Kini
(Rekam grafis oleh Riri Royanto)

Namun saya benar-benar lupa kalau sekitar setahun lalu di pameran potensi desa wisata Kabupaten Sleman, saya sempat bertemu dengan Gudeg Salak. Iya benar, salak (Salacca zalacca) yang kulitnya bersisik, buahnya putih, bijinya keras cokelat, dan “jusnya” sering dibuat “mimik-mimik lucu” oleh kawan-kawan super kreatif itu.

Dan baru tadi itu saat melihat foto ini di galeri, jadi ingat kalau sempat berhadap-hadapan langsung dengan gudeg yang bukan nangka muda dan bukan pula manggar.

Padahal saya sendiri yang memotret Gudeg Salak ini di stan pameran Desa Wisata Kadisobo II, desa yang beralamat di Jalan Turi-Sleman/Jln Salak Km 4,5 Trimulyo, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Sayangnya saya tidak sempat mencicipi bagaimana rasa gudeg salak ini.

gudeg salak
Gudeg Salak dari Desa Kadisobo II, Turi, Sleman, Jogjakarta

Meskipun demikian, dan walaupun di foto itu yang menonjol adalah telur rebus dan tomat sebagai penghias, tapi yang jadi primadona utamanya tetaplah salak.

Tentu saja jangan harapkan salak di gudeg ini akan tetap utuh seperti wujud salak yang belum diapa-apakan. Sebab tentu saja wujudnya sudah berubah lembut karena diaduk berjam-jam selama proses pembuatan gudeg tersebut.

Kalau ingin mencoba gudeg salak, mungkin bisa coba mengunjungi Desa Wisata Kadisobo II di Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta ini:

temukonco

husband | food-lover | good-listener | secret-keeper | story-teller | TemuKonco Podcast | merindukan ngopi a la kopi tiam | lengkap dengan roti sari kaya | dan telur setengah matangnya

View all posts by temukonco →

8 thoughts on “Gudeg Salak, sudah pernah mencicipi?

  1. Saya sempet berpikiran gitu sih ketika ayam, telor di nasi gudheg yang enak itu dimasak bareng si nangkanya. Karena rasanya yang khas, itu berarti cara masaknya yang penting, bukan bahannya dan terkonfirmasi oleh tulisan ini. Muahaha, jadi tercerahkan. Thanks mas.

    Biar gak oot sama tulisannya, beuh, apa rasanya gudeg salak?mesti dicatet nih buat nanti kunjungan ke Jogja.

  2. Waaahhh ada lagi referensi makanan unik, gudeg salak. Aku blm kebayang rasanya seperti apa mas :D. Gudeg aku suka banget, tapi salak juga.

    Dan jd tau kalo arti gudhek itu mengaduk. Aku pikir selama ini nama masakannya, dan bukan metode masak.

    Semoga kalo nanti bisa ke Jogja lagi, ada kesempatan untuk nyobain gudhek salak 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.