Hari ke-3 Konser Gamelan di Yogyakarta Gamelan Festival 2018 kemarin (15/07) yang juga merupakan penutup dari rangkaian festival ini masih diselenggarakan di Pusat Kebudayaan Koesnadi Hardjasoemantri (PKKH) UGM yang juga lokasi pameran gamelan “GÅNGSÅ ANANTA VIRYA (semangat gamelan yang tak terbatas)”.

Penampil pertama di hari terakhir Yogyakarta Gamelan Festival ke-23 ini adalah Sedyo Manunggal dari Sleman. Kelompok gamelan pimpinan Widodo Widyo Raharjo dengan jumlah penampil 13 orang ini, membawakan tiga buah karya, yaitu Ladrang Sri Slamet, Ladrang Gonjing Miring, dan Ladrang Tebu Sakuyun.

Mo'ong n friends ensemble - Yogyakarta

Mo’ong n friends ensemble – Yogyakarta

Penampil berikutnya dari namanya saja sudah unik dan menarik, Limbah Berbunyi & Mo’ong n’ Friend’s Ensemble. Sesuai namanya, kelompok pimpinan J. Mo’ong Santoso Pribadi dan Muhammad Sulthony ini sebagian besar menggunakan barang-barang bekas alias limbah untuk dijadikan perangkat gamelan dan instrumen-instrumen pendukung lainnya.

Tampil dengan 6 orang penampil, kelompok asal Yogyakarta ini membawakan 3 buah komposisi karya. Setelah semua karya ditampilkan, kelompok ini mengajak beberapa orang dari penonton untuk mencoba ber-jam session dengan menggunakan gamelan-gamelan dari barang-barang tersebut.

Gasebu - Klaten

Gasebu – Klaten

Sebagai penutup, hadir kelompok Gasebu dari Klaten pimpinan Sukisno yang membawakan sebuah karya berjudul Obar-abir. Meskipun hanya satu nomer karya, namun komposisi berdurasi 12 menit ini menawarkan persandingan dan perpaduan warna antara pelog dan slendro. Persatuan dan pergantian antara nada antara slendro dan pelog merupakan bentuk pemanfaatan naga sebagai bunyi di dalam komposisi yang dibawakan oleh 18 orang ini.

Dengan berakhirnya penampilan Gasebu ini secara resmi berakhir pula gelaran Yogyakarta Gamelan Festival ke-23 tahun 2018 yang berlangsung sejak 7 Juli 2018 lalu.

Semoga dengan tema Global Gamelan yang diangkat tahun ini, gamelan yang tidak hanya sekadar sebagai alat musik tapi juga sebagai spirit, bisa benar-benar mendunia, diterima, dan bermanfaat bagi lebih banyak pihak lagi. Amin.

Sampai jumpa di Yogyakarta Gamelan Festival tahun depan!