Menjadi Pelaut. Itu salah satu cerita yang saya dapatkan dari para kru kapal yang menyertai Endank Soekamti dan tim mengarungi lautan Papua selama sebulan lebih.

Kru kapal Kurabesi Explorer ini berasal dari beberapa daerah di Indonesia. Selain dari Papua, ada pula yang dari Jawa, Jakarta, dan paling banyak berasal dari Sulawesi Selatan.

Mereka yang dari Sulawesi Selatan kebanyakan berasal dari Tanjung Bira, ada pula yang dari Tanah Beru Bulukumba. Daerah-daerah tersebut memang terkenal dengan para pelautnya yang andal sejak dahulu kala.

Karenanya para kru ini rata-rata sudah belasan bahkan puluhan tahun berpengalaman menjadi pelaut. Uniknya, kalau dilihat dari usia mereka ada beberapa orang yang kalau dihitung-hitung, mereka menjadi pelaut saat di usia SMP.

Kompas

Ini berarti sangat mungkin mereka putus sekolah saat memulai menjadi pelaut. Sebab jika sudah menjadi pelaut, minimal mereka akan ada seharian di laut. Itu kalau jalur pelayaran mereka dekat dan pendek-pendek. Kalau jauh, bisa sampai hitungan bulan.

Benar saja, beberapa dari kru kapal memang bisa dibilang putus sekolah. Ada yang SMP belum selesai, ada juga yang tidak selesai SMA.

Ketika saya tanya, apakah orangtua tidak marah karena mereka tidak menyelesaikan pendidikan mereka, minimal sampai setingkat SMA?

Jawaban mereka nyaris sama.

Pastinya orangtua marah dan tidak setuju dengan apa yang mereka lakukan tersebut. Tapi karena nampaknya para orangtua ini kemudian melihat semangat anak-anak mereka ini untuk menjadi pelaut jauh lebih besar ketimbang bersekolah, maka diberilah anak-anak mereka ini pilihan yaitu: SEKOLAH YANG SERIUS atau MENJADI PELAUT YANG ANDAL.

Akhirnya bisa ditebak, anak-anak ini memilih ingin menjadi pelaut yang andal.

Dengan memilih menjadi pelaut andal bukan berarti mereka bisa bersuka ria dan bersenang-senang karena bebas dari aturan dan rutinitas sekolah seperti yang dirasakan siswa-siswa sekolah.

Bahkan bisa dibilang lebih berat, setidaknya karena jam kerja yang tidak menentu bisa sampai larut malam atau bisa mulai sejak tengah malam.

Belum lagi lamanya jam kerja yang tidak tentu. Memang adakalanya ada hari-hari santai karena banyak aktifitas yang dilakukan, tapi ada pula hari-hari yang mereka harus fokus bekerja tanpa libur.

Lagi pula, menjadi pelaut jangan dibayangkan langsung berada di belakang kemudi kapal sambil berkalung binocular.

Kemudi Kapal

Tidak pula berdiri petentengan gagah perkasa di haluan kapal memandang jauh ke garis cakrawala yang bermandikan cahaya matahari terbit atau tenggelam yang jingga kemerahan berduaan dengan perempuan, seperti di film Titanic itu.

Kenyataannya tidak seperti itu. Jauh berbeda. Apalagi untuk para pelaut pemula.

Para pelaut pemula, biasanya tugasnya benar-benar seperti pembantu umum. Mulai dari bersih-bersih kapal sampai membantu kegiatan awak kapal lain.

Jangan bayangkan pula kapal-kapal yang mereka jajal untuk menjadi pelaut pemula adalah kapal-kapal mewah yang wangi dan indah itu.

Karena biasanya yang sudi dan mau menerima para pelaut pemula ini adalah kapal-kapal penangkap ikan sederhana, yang beraroma ikan, panas, dan kecil. Karena kecil tentu saja goyangan yang terjadi karena ombak laut akan sangat terasa. Kalau sudah begitu, buat mereka-mereka yang lemah, mabuk laut pasti akan menyerang.

Tapi ya gitu, pilihan sudah dibuat dan mereka konsekuen dengan apa yang mereka pilih di waktu lalu. Hasilnya mereka sekarang menjadi pelaut-pelaut andal dan tentu saja tahan mabuk laut.

Serunya, ternyata setelah perjuangan panjang menjalani pilihan yang diyakini ini. Mereka akhirnya tetap tidak bisa melepaskan diri dari kewajiban “bersekolah”.

Karena untuk benar-benar menjadi pelaut yang diakui, mereka harus mengambil pendidikan dan pelatihan untuk mendapatkan sertifikat pelayaran, agar mereka bisa mengemudikan kapal-kapal besar sebagai Ahli Nautika, atau menjadi kepala kamar mesin kalau ingin menjadi Ahli Teknik.

Ayo sekolah… 😀