Susahnya jadi pelaut. Apa sebenarnya tantangan yang dirasakan berat oleh kebanyakan para pelaut?

Menghabiskan waktu sebulan lebih di bersama para kru kapal di atas KLM Kurabesi tentu saja memberikan kesempatan besar mengenal dan akrab dengan mereka.

Setelah tahu latar belakang dan motivasi mereka menjadi pelaut, saja penasaran kira-kira apa sih hal yang dirasakan hal paling berat bagi para pelaut ulung ini.

Seperti yang sudah umum diketahui, mereka semua sepakat kalau hal terberat selama menjadi pelaut adalah berpisah dengan keluarga dan orang-orang terdekat selama mereka menunaikan tugasnya.

Jangka waktu berpisahnya tidak tanggung-tanggung, bisa sampai hitungan bulanan!

Mungkin bagi yang masih single atau bujangan, hal ini tidak begitu terasa berat. Akan tetapi bagi yang sudah berkeluarga, tentu saja ini benar-benar tantangan batin yang tak mudah.

Di antara para kru kapal itu, ada yang punya pengalaman luar biasa dalam hal berpisah lama dengan keluarga dan orang-orang terdekat. Lama di sini hitungannya sampai tahunan, dan tahunan di sini lebih dari 10 tahun!

Beliau adalah Om Diki. Putra Nabire ini sejak beberapa tahun setelah dia menjadi pelaut, terpisah lebih dari 20 tahun dengan orang tua dan sanak saudaranya.

Itu dimulai sejak kapal yang tempat dia bekerja di lautan Papua harus diperbaiki di Jawa. Tapi apa daya ternyata sesampainya di Jawa kapal tersebut tidak bisa diperbaiki dan dengan terpaksa harus dijadikan besi tua.

Om Diki jadi terdampar di pulau Jawa ini dan karena keahlian yang dimilikinya adalah pelaut, untuk menyambung hidupnya ia bekerja menjadi kru kapal-kapal kecil yang beroperasi di laut Jawa, Sumatera, dan Sulawesi. Tidak ada yang beroperasi sampai Papua, jadi dia tidak bisa menyempatkan waktu sejenak mampir ke kampung halamannya.

Selain tidak bisa mengunjungi kampung halamannya, Om Diki juga tidak bisa menghubungi sanak keluarga di Nabire karena di kampung tidak ada telepon, apalagi handphone.

Kalaupun waktu itu ada handphone, kondisi ekonomi yang hanya pas untuk kehidupan sehari-hari tidak memungkinkan beliau untuk memilikinya.

Bahkan pernikahan sederhananya dengan seorang perempuan di NTB, tidak dihadiri oleh sanak keluarga dari Nabire. Parahnya lagi, saking lamanya pergi dan tidak ada kontak hingga belasan tahun, keluarga Om Diki di Nabire sampai mengira beliau sudah meninggal dunia.

Untunglah beberapa tahun lalu Om Diki bertemu dengan Om Bustar di Jakarta, ditawari menjadi kru kapal Kurabesi yang wilayah operasinya di Papua dan Maluku.

Tentu saja kesempatan ini tidak disia-siakan Om Diki, beliau langsung setuju dan berangkat ke Sorong dan memulai bekerja di Kurabesi.

Bisa dibayangkan rasa senang dan haru terbit ketika bertemu keluarga setelah bertahun-tahun terpisah, bahkan dikira telah meninggal dunia.

Tapi pada saat yang sama muncul juga kesedihan karena ternyata beberapa saudara Om Diki sudah ada yang berpulang ke Yang Maha Esa, dan beliau sama sekali tidak mendapat kabar karena kondisi tidak memungkinkan.

Jadi ya gitu kurang lebih susah dan beratnya jadi pelaut. Bukan melulu tantangan dan kendala fisik saja yang dirasakan, tapi yang terberat ternyata tentangan batin karena harus terpisah dengan orang-orang tersayang dalam waktu lama.