Beberapa hari sebelum naik cetak, untuk lebih meyakinkan dan meminimalisir kesalahan, draft buku Soekamti Goes to Papua saya serahkan ke beberapa kawan dekat yang sangat saya percayai.

Tujuannya apalagi kalau bukan minta tolong agar mereka memberi saran, masukan, dan koreksi jika ada hal-hal yang dirasa kurang atau keliru.

Dari situ kemudian ada seorang teman yang memberikan masukan yang bener-benar memberikan pencerahan terhadap hal kecil dalam penulisan buku ini yang rasanya kok agak mengganjal.

Hal yang mengganjal itu adalah adanya beberapa ungkapan dan kalimat berbahasa Jawa yang dituliskan di situ. Awalnya hal tersebut akan diatasi dengan cara langsung diganti/diubah ke bahasa Indonesia atau diberi catatan kaki. Sehingga mereka yang tidak tahu bahasa Jawa bisa memahaminya.

Syukurlah teman yang tadi saya ceritakan tadi itu, namanya Mbak Dewi Nugraheni menyarankan untuk membiarkan saja istilah dan kalimat-kalimat dalam bahasa Jawa itu apa adanya.

Alasannya karena kata-kata dan kalimat-kalimat itu berfungsi untuk makin kuat memperkuat gambaran kalau buku ini benar-benar ditulis oleh orang yang benar-benar berasal dari daerah yang benar-benar jauh dari Papua, baik dari sisi jarak maupun budaya.

Karena Mbak Dewi ini adalah pecinta buku dan sering mereview buku-buku melalui akun Goodreads-nya, jelas saya percaya dan senang sekali mendapat masukan seperti itu. Oh iya, ini akun Mbak Dewi di Goodreads. Monggo dikunjungi.

Nah, terus gimana kalau misalnya ada pembaca yang tidak tahu makna atau arti dari tulisan-tulisan berbahasa Jawa tersebut?

Jangan khawatir, teman-teman yang tidak tahu makna dan arti tulisan bahasa Jawa di dalam buku itu, bisa langsung tanya ke bagian komentar dari tulisan ini, atau kalau misalnya malu atau segan, bisa langsung japri ke saya. Insya Allah dibalas 😀

Oh iya, selain bahasa Jawa, ada sedikiiiit tulisan Jepang di dalam buku ini. Kalau juga ingin tahu artinya, juga boleh langsung bertanya. Tapi khusus untuk je-Jepang-an ini, harus japri ya. Serius!


Also published on Medium.