Teman-teman yang suka nongkrong dan wedangan pasti sudah akrab dengan minuman yang sudah mainstream seperti ronde, bandrek, bajigur, jahe anget, kopi, apalagi teh nasgitel. Tapi kalau wedang sardheltap, mungkin belum banyak yang pernah mencoba.

Karena unik dan khas, sardheltap tidak bisa dengan mudah ditemui di setiap warung angkringan yang ada di Yogyakarta dan sekitarnya. Hanya warung-warung tertentu yang menyediakan menu minuman ini.

Sardheltap sebenarnya singkatan dari sari dhele tape atau sari kedelai dan tape (tape di sini adalah tape ketan yang berwarna hijau itu) yang merupakan bahan utama dari minuman ini.

Sardheltap Sari Dhele Tape

Meskipun tidak umum tapi dari sisi rasa karena ada campuran sari kedelainya, jangan dibayangkan kalau kemudian minuman ini beraroma tempe atau tahu yang bahan dasarnya sama-sama kedelai.

Sebaliknya, minuman ini tidak kalah dan menyegarkan dibanding minuman-minuman lain yang lebih dulu kondang. Kalau digambarkan, rasanya agak mirip dengan wedang tape campur susu putih.

Namun karena susu putihnya diganti sari kedelai, maka rasanya jadi lebih ringan dan segar. Sangat sesuai untuk mereka yang pantang susu atau gampang eneg kalau mengkonsumsi minuman yang mengandung susu.

Jika ingin mencicipi sardheltap di Yogyakarta, bisa berkunjung ke Angkringan Sari Dele Tape Pak Jo, atau ada juga yang menyebutnya Angkringan Dele Tape Pak Mo, yang berlokasi di Jalan Gamelan Lor No. 18 Yogyakarta. Persisnya ada di depan Ndalem Gamelan yang terletak di sisi barat jalan.

warung angkringan sardheltap pak jo pak mo

Sardheltap ini meskipun belum seterkenal kolega-kolega wedang sejawatnya, sebenarnya sudah ada sejak tahun 1970-an. Hanya saja karena waktu itu jualan menggunakan gerobak angkringan belum nge-tren seperti sekarang, metode menjajakannya dengan menggunakan pikulan, lalu mangkal di selatan perapatan sebelah timur jalan dari lokasi yang sekarang.

Dulu biasanya jam operasional angkringan sardheltap adalah jam 22:00 hingga 03:00 WIB dini hari. Namun semenjak Pak Bagoes menggantikan posisi Pak Jo yang pensiun sebagai bartender utama angkringan ini, jam operasionalnya berubah jadi lebih panjang yaitu dari jam 20:00 hingga 03:00 WIB.

Pak Bagus sendiri secara kekerabatan terhitung sebagai adik dari Pak Jo. Sementara Pak Mo yang juga sering disebut-sebut kalau ada yang merujuk nama angkringan ini, sesungguhnya adalah ayah dari Pak Jo. Beliaulah sejatinya yang mula pertama punya ide berjualan sari dhele tape ini.

Uniknya, baik Pak Bagus maupun Pak Jo tidak tahu secara detail dari mana Pak Mo punya ide brilian menggabungkan sari dhele dengan tape ketan di tahun 70-an, di saat mungkin masyarakat umum bahkan belum kenal dengan apa yang disebut dengan susu kedelai.

Bagi yang belum pernah mencoba, tidak ada salahnya berpetualang mencoba wedang sardheltap ini. Hanya saja walaupun memang jam operasional “resmi”-nya sampai jam 03:00 WIB dini hari, namun tak jarang jam 2 dini hari panganan-panganan lain di warung ini sudah habis ludes diserbu para pelanggan.

Jadi ada baiknya berkunjung ke sini sekitar jam 9 atau jam 10-an malam gitu. Selamat mencoba!

Versi lebih lengkap dari tulisan ini  dalam bahasa Jawa bisa dinikmati di tabloid JAWACANA edisi Agustus 2018, yang dapat diunduh di http://bit.ly/JAWACANA-Agustus-2018