Berawal dari diskusi di sebuah mailing list yang membahas mengenai bagaimana membuat radio commercial yang baik. Dari diskusi tersebut ada sebuah konsep yang menonjol yang dianggap sebagai suatu hal yang amat penting dan vital dalam membuat sebuah radio commercial. Dan konsep tersebut adalah Theater of Mind atau sering disingkat sebagai TOM.

Saya sendiri –jujur saja– agak kesulitan bila ditanyakan apa definisi yang pasti dari Theater of Mind. Sepertinya akan lebih mudah kalau saya coba berikan sebuah contoh sebuah iklan radio.

Misalnya seperti ini:

Di radio kita mendengarkan suara jangkrik berbunyi, kemudian tidak lama ada suara ketukan di pintu yang cepat dan suara orang memanggil-manggil:

Orang pertama: Bu Joko… Bu Joko…

(Suara pintu terbuka)

Orang kedua: Eh, Bu Budi… Ada apa Bu?

Orang pertama: Bu Joko punya es? Anak saya badannya panas sekali…

Orang kedua: Kok pakai es Bu? Cobalah (nama produk yang diiklankan). Kalau anak saya sakit, saya biasanya memberikan (nama produk yang diiklankan), efektif untuk menurunkan panas demam dan juga disertai rasa jeruk yang disukai anak-anak.

Nah, ketika kita mendengarkan iklan tersebut di radio secara tidak sadar dalam pikiran kita tergelar sebuah teater kecil yang mungkin menggambarkan suasana di suatu malam hari yang sepi di mana ada seorang ibu yang panik karena anaknya sedang sakit dan suhu tubuhnya meninggi kemudian ia dengan tergesa-gesa pergi ke rumah tetangganya yang nampaknya seorang ibu rumah tangga yang bijaksana dan memberikan pertolongan pada ibu tersebut.

Contoh yang lebih sederhana lagi, jika kita di radio mendengarkan suara jangkrik kemudian diiringi suara lolongan anjing, umumnya yang tergelar di pikiran kita adalah suasana malam yang menyeramkan.
Atau suara seorang laki-laki dan seorang perempuan yang saling memanggil seperti ini:

(Backsound musik/lagu lembut dan romantis)

Lelaki: Dik…

Perempuan: Mas… (sambil tertawa-tawa kecil)

Lelaki: Dik… (dengan suara lebih lembut dan agak berbisik)

Perempuan: Mas… (dengan suara agak mendesah)

Sebuah teater kecil yang ada di benak kita bukannya tergambar percakapan dua orang lelaki-perempuan yang mempunyai hubungan kakak adik, melainkan dua orang kekasih yang sedang memadu kasih. Terlebih lagi kemudian percakapan itu diiringi dengan voice over seperti ini:

Voice Over: Kondom (nama produk) membuat momen spesial anda lebih spesial…

Dari contoh-contoh itu sebenarnya saya ingin bilang bahwa Theater of Mind itu adalah sebuah teater yang tergelar (kadang-kadang tanpa sadar) di dalam benak kita setelah kita memperoleh input-input dari luar (alam hal ini yang lebih sering input itu berupa suara ataupun tulisan). Semoga ini benar dan sesuai dengan apa yang dimaksud.

Dari sinilah maka saya berniat untuk menuangkan sebagian kecil dari teater-teater yang bermacam-macam dan berulangkali tergelar di benak saya di tempat ini. Dan namanya juga sebuah teater, bisa saja hal itu bukan hal yang sebenarnya, hanya khayalan, terdapat kesalahan, atau mungkin juga terlihat bodoh.

Namun apapun nanti hasilnya, semoga ini bisa jadi proses belajar buat saya.

Aamiiin…

Catatan:  Ini adalah posting pertama di blog awal saya ketika pertama kali punya domain sendiri, pada 15 Juni 2005. Diposting ulang dalam rangka Hari Blogger Nasional 27 Oktober 2012