TemuKonco

Bertemu teman, menemukan kawan

Sela

Anak dan Penipu

baby-shoe

Kita Tendang Saja Mereka, Nak?

Beberapa hari ini rasanya sebal, kecewa, dan gemas dengan beberapa orang yang memanfaatkan anak mereka (atau setidaknya yang mereka akui anak mereka), untuk kepentingan diri sendiri.

Kejadian pertama adalah tentang seorang laki-laki yang “meminta-minta” di pinggir jalan dengan membawa foto seorang anak, yang diakui adalah anaknya, yang menderita sakit keras hingga membutuhkan biaya yang tidak sedikit.

Singkat cerita, banyak yang jatuh iba dan menolongnya dengan memberikan sejumlah dana yang tidak sedikit.

Ternyata, usut punya usut sekian banyak dana bantuan yang telah diberikan pada orang itu raib entah ke mana, dan bahkan disinyalir orang tidak memiliki anak yang menderita penyakit berat seperti apa yang sering ia jadikan “daya tarik” saat “meminta-minta”.

Kejadian lainnya adalah saat di media sosial ada seorang bapak yang minta tolong menemukan anak balitanya yang konon kabarnya diculik, permintaan tolong tersebut dilengkapi dengan foto si anak dan kontak person si Bapak.

Belakangan terungkap bahwa ternyata si anak tidak hilang diculik orang, melainkan dibawa oleh si ibu. Informasi ini masih dilengkapi keterangan bahwa ini terjadi karena suami istri tersebut ada permasalahan, sehingga si anak “diculik” si istri.

Saya sebal dan gemas karena di saat saya dan beberapa kawan bersemangat menyebarluaskan informasi tersebut karena turut simpati dan prihatin akan keadaan si anak tersebut, mereka malah menganggap sepele keselamatan dan kesehatan anak-anak mereka, demi menuruti kepentingan mereka sendiri.

Saya pikir mungkin hanya orang tua yang aneh (jika tidak mau dibilang sakit), yang mengaku-aku ke publik kalau anaknya sakit keras atau diculik, padahal mereka tahu anak mereka sehat dan berada di mana bersama siapa.

Saya kecewa karena dengan mengatakan anaknya sakit ke orang-orang, seolah sama saja dengan mengharapkan anaknya benar-benar sakit. Demikian pula dengan mengatakan bahwa anaknya diculik, seolah berharap agar anaknya benar-benar diculik.

Saya juga kecewa, bukan karena saya sudah turut menyebarkan informasi tentang “anak diculik” itu yang kemudian di retweet oleh banyak kawan-kawan lain. Melainkan karena orang-orang itu telah menggunakan jalur publik untuk meminta tolong padahal kenyataannya berbeda sama sekali.

Saya tak perduli masalah apa yang menerpa pasangan suami istri itu sampai ada acara “culik-culikan” anak segala.

Namun yang sangat saya sayangkan adalah keselamatan si anak. Bayangkan jika misalnya si anak diculik beneran, lalu orang tua mereka heboh di media sosial minta pertolongan, namun publik sudah tidak perduli lagi karena berpikir ini hanya “sekedar masalah internal keluarga”, jadi tidak usah ikut campur?

Ingat dongeng masa kecil tentang anak gembala di tengah hutan yang hanya sekedar agar ingin ada orang yang menemaninya, ia berteriak-berteriak “Ada serigalaaa..”.┬áKemudian setelah orang-orang kampung datang tergopoh-gopoh, si gembala itu tertawa senang karena berhasil mengelabui seisi kampung?

Kejadian itu berulangkali dilakukan hingga pada akhirnya orang-orang kampung tak percaya lagi saat mendengar anak kecil tersebut berteriak-teriak “Ada serigalaa..”

Dan ternyata, kali ini memang benar ada serigala…

6 Comments

  1. nah! sepertinya saya paham maksudnya, kemarin sempat difacebook juga akhirnya ada yang angkat bicara soal anak dan penipu yang dimaksud itu mas.
    Terkadang masalah internal kalau keluar diranah publik, semacam jadi bumerang

    • temukonco

      iya Mas.. Jan2 e nek masalah keluarga, ya ndak usah sampai ke sosial media segala. Karena bakal dicap jelek semuanya, dan si anak makin mesakke..

  2. Itu pula yang kadang membuat kita jadi hilang simpati atau empati terhadap kesusahan orang lain

    • temukonco

      dan bahayanya adalah nanti orang-orang akan malas turun tangan menolong orang yang membutuhkan bantuan dan mengumumkannya di media sosial, hanya karena hal-hal seperti ini. karena cuma masalah dalam keluarga, semesta sosial media bisa terkena dampak negatifnya

  3. saya setuju bung, itu kenapa kalo setiap ada informasi yg spt itu aku ragu2 untuk menyebarluaskan, takutnya ya itu tadi, ternyata informasi yg dipelintir. Tapi gmana membedakan informasi benar dan informasi yang abal-abal itu bung? Ada saran?

    • temukonco

      iya Bung, makane njuk saiki nek arep nyebar2 ke ndadak ndelok2 sik.. nek wis ngene rak mesakke sing butuh pertolongan tenan to ya?

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Theme by Anders Norén