Belajar Jadi Sinden di Yogyakarta Gamelan Festival (YGF) ke-25

Belajar jadi sinden di Yogyakarta Gamelan Festival (YGF) ke-25 di workshop hari pertama, Kamis (19/11/2020) pada jam 15.00 – 17.00 WIB yang digelar secara daring.

Tema yang diangkat workshop belajar jadi sinden ini adalah “Nyinden Bareng Sinden” yang dibawakan oleh Siswati, seorang sinden sekaligus dosen ISI Surakarta di Studio Komunitas Gayam16.

Selain melalui daring, ternyata ada tiga peserta yang mengikuti workshop ini secara luring dengan datang langsung ke Studio Komunitas Gayam16.

“Saya tertarik mengetahui sindenan lebih dekat karena sinden memiliki suara yang indah,” tutur Vanya, warga negara Serbia, salah seorang peserta yang hadir langsung di workshop ini.

Workshop Belajar jadi Sinden di YGF ke-25

Workshop Belajar jadi Sinden di YGF ke-25 diawali dengan pengungkapan citra sinden yang selam aini dikenal sebagai perempuan bersanggul.

Padahal sebenarnya sinden adalah vokal solo yang mengiringi karawitan dengan laras slendro pelog. Jadi tidak sebatas penampilan secara fisik saja.

“Sinden tidak hanya menyinden tetapi juga paham teks konteks dan lingkungannya,” imbuh Siswati di workshop ini.

Ia menuturkan, sinden dan sindenan berbeda. Sinden merujuk pada orangnya, sedangkan sindenan adalah melodi karawitan dengan lirik wangsalan.

Lirik wangsalan merupakan tembang yang isinya tak bisa dimaknai secara harafiah karena berisi bahasa kiasan atau perumpamaan. Wangsalan juga bisa dimaknai sebagai kalimat yang terdiri dari pertanyaan, namun juga sudah tersirat jawabannya.

“Perumpamaan ini jadi karakteristik orang Jawa, yang biasanya mengutarakan maksud tidak langsung terus terang melainkan banyak menggunakan kiasan,” ucapnya.

Siswati mencontohkan kata “kitiran” yang digunakan untuk merujuk “anak yang selalu aktif bergerak tidak, bisa diam”. Ini karena tingkah laku anak tersebut mirip “kitiran” atau “kincir” yang selalu berputar ketika terkena angin.

Selain sindenan, ada dua kategori lain dalam menyinden, yakni gerongan dan rumpakan. Gerongan merupakan vokal yang bersifat ritmis, bisa tunggal atau berkelompok tetapi unisound alias tidak ada pecah suara. Di dalam gerongan biasanya berupa tembang sekar alit, sekar tengahan, dan sekar ageng.

Sementara, rumpakan sebenarnya baru muncul ketika telah berupa sebuah lagu. Biasanya liriknya terikat dengan judul gending untuk kebutuhan iringan tari atau wayang.

“Sinden juga tidak melulu perempuan, laki-laki juga bisa menyinden, sering dijumpai dalam ketoprak, sering muncul menggunakan tembang tanpa wangsalan tetapi memakai teks,” pungkas Siswati.

Workshop Gamelan Sampling YGF ke-25

Workshop Gamelan Sampling YGF ke-25 adalah workshop berikutnya yang digelar pada Jumat, 20 November 2020, jam 15.00 sampai 17.00 WIB, secara daring melalui Zoom.

Menampilkan pemateri dari Rekam Bergerak, Gatot Danar Sulistyanto, melalui workshop ini peserta dapat memahami cara dan tahapan produksi audio sampling gamelan.

Selain workshop, Yogyakarta Gamelan Festival ke-25 juga mengadakan program Rembug Budaya yang disiarkan secara langsung melalui www.ygflive.com, kemarin malam (21/11) jam 15:00 – 17:00 WIB.

Menampilkan narasumber Chairman Omah Gamelan, Anon Suneko; pendiri Acapella Mataraman, Pardiman Djoyonegoro; dan moderator Boedhi Pramono; Rembug Budaya YGF ke-25 mengusung tema “Cecikal, Bebakal, Tetinggal Gamelan”.

Yogyakarta Gamelan Festival ke-25 yang dibuka secara langsung di Studio Komunitas Gayam16 oleh perwakilan Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan serta Kepala Balai Pelestarian Nilai Budaya DIY pada 18 November 2020 lalu, malam ini akan resmi ditutup.

Adapun yang akan tampil pada hari penutupan festival ini di Gamelan Concert yang dimulai pukul 19:35 WIB adalah Omah Cangkem, Gamelan Keller (Perancis), Jhung Rojhung (Pamekasan), dan Tari Sanggar Kancil Art.

Semua penampilan tersebut dapat disaksikan secara langsung secara streaming melalui www.YGFLIVE.com.

Agenda Gamelan Concerts YGF ke-25 - 25 November 2020
Agenda Gamelan Concerts YGF ke-25 – 25 November 2020

1 thought on “Belajar Jadi Sinden di Yogyakarta Gamelan Festival (YGF) ke-25”

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.